Vitamin D memang terkenal sebagai vitamin tulang, namun ia juga diketahui membantu meningkatkan imunitas dan mengurangi peradangan. Ini mungkin bermanfaat untuk penderita radang usus.
Kolitis ulseratif adalah salah satu bentuk radang usus (inflammatory bowel disease / IBD) di usus besar - peradangan di lapisan atas mukosa (selaput lendir) usus besar, terjadi borok / ulkus. Menyebabkan kram perut, nyeri, diare dan BAB berdarah.
Beberapa studi menyebutkan penderita IBD, khususnya kolitis ulseratif, cenderung memiliki kadar vitamin D yang rendah. Bisa disebabkan oleh gangguan penyerapan di usus, atau pola makan yang tidak baik akibat penyakit ini.
Riset tahun 2019 menyebutkan kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan perburukan radang usus, bahkan mengarah ke komplikasi yang disebut pancolitis. Terjadi peradangan di seluruh usus besar, menyebabkan gejala seperti diare yang lebih sering dan sakit perut hebat.
Sehingga banyak ahli percaya bila suplementasi vitamin D bisa mengurangi perburukan penyakit.
Namun perlu dicatat, tidak semua studi menyimpulkan hal sama. Misalnya reviu tahun 2023 menyimpulkan belum cukup banyak studi berkualitas tinggi yang mendukung penggunaan vitamin D untuk kolitis ulseratif.
Berikut bagaimana vitamin D mungkin bisa bermanfaat:
Memperbaiki dinding usus
Pertahanan (barrier) usus penderita radang usus cenderung mengalami kerusakan, dinding usus menjadi lebih “bocor” di banding kondisi normal. Akibatnya zat-zat, bakteri, racun atau antigen makanan yang seharusnya tidak lolos menjadi bisa menembus dinding usus.
Ini bisa menyebabkan peningkatan respons imun – menjadi abnormal – yang terkait peradangan dan peningkatan keparahan penyakit.
Vitamin D berperan membantu menjaga integritas dinding usus dengan mengatur protein yang bisa memperbaiki kerusakan jaringan usus.
Mengurangi respons inflamasi
Vitamin D sudah lama diketahui mampu membantu mengurangi reaksi peradangan. Salah satu mekanismenya – pada studi di Nutritional Journal - dengan menurunkan stres oksidasi melalui pengaturan protein penurun stres oksidasi, sehingga mengurangi inflamasi.
Suplementasi vitamin D juga berdampak positif pada sel T, salah satu tipe sel darah putih yang mematikan mikroorganisme penyebab penyakit.
Mengurangi risiko kanker kolon
Inflamasi berperan penting pada pembentukan sel-sel kanker, termasuk kanker kolon (usus besar).
Penderita IBD berisiko lebih tinggi mengalami kanker kolon, terutama jika mereka juga dengan defisiensi vitamin D, atau bila reaksi peradangan tersebut tidak terkontrol.
Baca: IBD dan Risiko Kanker Kolon
Penelitian pada hewan di Journal of Cancer Prevention menjelaskan kadar vitamin D yang lebih tinggi bisa mengurangi risiko kanker kolon, tetapi studi lebih lanjut pada manusia diperlukan untuk memahami sepenuhnya hubngan antara vitamin D, kolitis ulseratif dan kanker kolon.
Berapa banyak yang perlu dikonsumsi?
Menurut FDA (Food and Drugs Administration), rekomendasi asupan vitamin D harian adalah 20 mcg (mikrogram), atau 800 IU (international unit).
Namun, penderita radang usus kolitis ulseratif atau mereka dengan defisiensi vitaim D mungkin perlu dosis lebih tinggi.
Para ahli mengatakan pada dosis 2.000 IU per hari masih dinyatakan aman, serta bisa membantu perbaikan gejala dan kualitas hidup orang dengan defisiensi ringan.
Tetapi, setelah kadar vitamin D yang cukup tercapai, tidak ada konsensus mengenai berapa banyak vitamin D yang dibutuhkan untuk mempertahankannya. Beberapa ahli berpendapat konsumsi 1.000 IU per hari sudah cukup, tetapi yang lain mencatat bahwa orang dengan defisiensi berat membutuhkan hingga 4.000 IU per hari.
Lebih disarankan untuk berkonsultasi ke dokter telebih dulu terkait berapa dosis yang perlu dikonsumsi. (jie)
Baca juga: 3 Terapi Ini Membantu Kurangi Keparahan Radang Usus





