masalah makan anak 4-6 tahun misalnya picky eating

Kenali Masalah Makan Anak 4-6 Tahun, Dan Bagaimana Solusinya

Seiring dengan pertambahan usianya, anak mulai mengenal rasa dan makanan yang ia sukai. Inilah yang memunculkan masalah sulit makan. Biasanya terjadi di usia 4-6 tahun.

Masalah makan pada usia 4-6 tahun disebabkan anak sudah mulai ingin mandiri. Ini sesuai tahapan perkembangannya. Dalam hal makanan pun anak usia 4-6 tahun bersifat sebagai konsumen aktif.

Artinya, mereka dapat memilih dan menentukan sendiri makanan yang ingin dikonsumsi. Tak heran bila di rentang usia ini kerap terjadi anak menolak makanan yang tidak disukai dan hanya mau menyantap makanan kesukaannya.

Prof. Dr. Ir. S. Anna Maliyati, MSi, dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia-IPB, menjelaskan selera makan anak telah berkembang, ada kecenderungan mulai menyukai makanan atau rasa tertentu.

“Ini yang menyebabkan anak menjadi picky eater, atau pilih-pilih makanan,” katanya dalam pembukaan Festival Isi Piringku untuk Anak Usia 4-6 Tahun, secara daring, pada Jumat (26/2/2021).

Picky eater juga bisa dikarenakan anak bosan pada hidangan yang diberikan, akibat kurang variasi. Atau, kebiasaan makan keluarga. Pada orangtua yang pilih-pilih makanan akan membentuk anak menjadi picky eater.

Baca: Kenali Penyebab Picky Eating

Masalah kedua, susah makan atau hanya mau makan sedikit. “Penyebabnya bisa faktor psikologis, misalnya orangtua selalu memaksa anak untuk makan. Atau memberi susu /makanan selingan terlalu dekat dengan waktu makan,” tukas profesor yang juga penyusun panduan Isi Piringku 4-6 tahun.

Bisa juga akibat anak meniru perilaku makan orangtuanya yang sedang melakukan diet tertentu.

Menolak makan adalah masalah makan berikutnya di rentang usia 4-6 tahun. Penyebabnya antara lain rasa makanan yang masih asing, bosan dengan makanan yang diberikan, anak dipaksa makan padahal belum lapar.

Penyebab lain seperti iseng / mencari perhatian orangtua, kesal kepada orang yang memberi makan, atau anak sedang sakit.

Masalah makan lain yang tak kalah membuat senewen orangtua adalah tidak suka makan sayur. “Rasa sayur kerap dianggap kurang enak bila dibandingkan lauk hewani atau buah,” imbuh Prof. Anna.

Butuh kreativitas ekstra

Mengatasi masalah makan anak di usia 4-6 tahun membutuhkan usaha ekstra, tidak cukup dengan memasak seadanya.

“Pada anak yang tidak suka sayur, misalnya, berikan penjelasan tentang pentingnya sayur agar anak gemar makan sayur. Kenalkan bermacam-macam sayur mulai dari bayi. Pengolahan dan penyajian lebih bervariasi dan menarik, misalnya dibuat omelet sayuran atau skotel sayuran.”

“Menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukai anak. Berikan contoh makan sayur pada anak saat makan bersama. Hal ini penting sebab anak akan juga mencontoh perilaku orangtuanya.”

“Libatkan anak dalam proses memasak, misalnya dengan memetik daun yang akan disayur. Atau bahkan ajak anak saat memilih sayuran,” urai Prof. Anna.  

Sementara untuk mensiasati anak yang kerap pilih-pilih makanan caranya dengan terus-menerus  perkenalkan anak dengan makanan yang beraneka ragam.

Ahli psikologi mengatakan bila anak yang picky eater cenderung menjadi anak yang sulit beradaptasi dengan hal baru. Mereka lebih suka berada di zona nyamannya. Ini tentu merugikan saat ia dewasa.

Perlu dipahami bila anak bukanlah orang dewasa yang berukuran mini; ukuran lambung anak jauh lebih kecil dari orang dewasa. Maka jangan paksa anak menghabiskan makanannya sepiring penuh. Berikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering.

Alih-alih menunggu anak menghabiskan makanannya – yang bisa memakan waktu berjam-jam – sudahi waktu makan dalam 30 menit, selesai atau tidak. Anak akan meminta makanannya kembali bila ia merasa lapar.

Berisiko picu stunting

Masalah makan anak, terutama picky eater dan tidak mau makan sayur berisiko menyebabkan kekurangan gizi mikro (vitamin dan mineral).

Kurang gizi mikro diketahui menyebabkan tingginya angka stunting di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan kasus stunting di Indonesia sekitar 30,8%, atau satu dari tiga balita Indonesia stunting.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Dhian Dipo, SKM., MA, Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menjelaskan jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka akan dapat berdampak buruk bagi negara, bukan hanya terhadap kualias SDM namun juga ekonomi.

“Stunting menyebabkan imunitas rendah. Ini berarti meningkatkan risiko penyakit infeksi dan penyakit kronis. Kemudian tumbuh kembang anak tidak optimal. Berdampak pula pada daya saing dan produktivitas yang rendah saat ia dewasa,” tegas Dr. Dhian.  

Stunting dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara sebesar 2-3 % dari PDB (Produk Domestik Bruto) per tahun.  Jika PDB Indonesia tahun 2020 sebesar Rp 15.434 triliun, kerugian akibat permasalahan ini sekitar Rp 400 triliun rupiah per tahun. (jie)