diet dash baik untuk pasien hipertensi

Pengelolaan Hipertensi: Obat, Diet DASH, dan Probiotik

Secara umum, hipertensi dibagi menjadi dua: hipertensi primer dan sekunder. “Sekitar 95% hipertensi adalah jenis primer, atau tidak benar-benar diketahui apa penyebabnya,” ujar Dr. dr. Wahyudi Istiono, M.Kes, Sp.KKLP dari FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM). Hipertensi sekunder, yang muncul karena adanya penyakit lain yang mendasari, hanya 5% dari keseluruhan kasus hipertensi.

Ada tiga faktor yang berperan dalam kemunculan hipertensi primer. “Yaitu hiperaktivitas sistem saraf simpatik, hiperaktivitas Renin-Angiotensin-Aldosteron Axis (RAAA), dan penurunan eksresi natrium,” papar Dr. dr. Wahyudi, dalam webinar kesehatan untuk dokter dan dietisian, Sabtu (6/8/2022).

Obesitas, diabetes, gaya hidup sedenter, kekurangan vitamin D, merokok, asupan garam yang berlebihan, sleep apnea obstruktif, hingga konsumsi alhokol ditengarai sebagai faktor risiko hipertensi. Untuk itu, pengobatan hipertensi tidak cukup hanya mengandalkan obat (terapi farmakologi), melainkan juta perbaikan gaya hidup dan pola makan.

Hipertensi harus dikendalikan, untuk mencegah terjadinya berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Misalnya stroke, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronis. Namun hal ini tidak selalu mudah. Masih banyak pasien yang menolak minum obat secara rutin, karena takut ginjal mereka rusak akibat minum obat setiap hari. “Pasien harus dibuat mengerti kenapa mereka perlu minum obat setiap hari, dan bahwa obat-obat antihipertensi tidak merusak ginjal. Justru bila penyakit tidak dikendalikan, itulah yang akan merusak ginjal,” tutur Dr. dr. Wahyudi.

Ada berbagai macam golongan obat antihipertensi. “Masing-masing golongan obat bekerja pada jalur tersendiri. “Dokter perlu cermat dalam memilih obat, sesuai kondisi dan kebutuhan pasien,” imbuh Dr. dr. Wahyudi. Efek dan efek samping obat yang dirasakan oleh pasien juga perlu dimonitor. Dengan cara ini, diharapkan pasien mendapat manfaat obat yang terbaik, dengan efek samping paling minimal.

Diet DASH

Seperti telah disinggung, penatalaksanaan hipertensi tidak cukup hanya dengan terapi farmakologi. Pola hidup dan pola makan pasien pun perlu diperhatikan. “Pada pasien dengan hipertensi ringan, terapi dimulai dengan modifikasi gaya hidup dulu, selama 4-6 minggu. Bila target penurunan tensi tidak tercapai, barulah dikombinasi dengan obat,” ungkap Triyani Kresnawan, DCN, M.Kes, RD, FISQua, dietisien yang juga Asesor Kompetensi Tenaga Gizi Pusat Kementrian Kesehatan.

Ia menyoroti tingginya konsumsi garam orang Indonesia, yang mencapai 15 gr/hari. Ini berarti 3x lipat dari anjuran Kementerian Kesehatan, yang mengatakan asupan garam maksimal 5 gr/hari, yang setara dengan 1 sendok teh saja. Perbaikan pola makan mutlak diperlukan. “Yang sekarang menjadi primadona karena dinilai ampuh membantu mengendalikan tekanan darah yaitu diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension),” ungkap Triyani.

Pada dasarnya, diet DASH meliputi pola makan rendah garam, lemak jenuh, kolesterol, dan lemak total. Sebaliknya tinggi kalium, magnesium, kalsium, dan serat. “Tidak hanya bermanfaat untuk membantu mengendalikan tekanan darah, diet DASH ternyata juga terbukti membantu menurunkan berat badan,” ujar Triyani. Sementara itu, penelitian menemukan, penurunan berat badan turut berperan dalam menurunkan tekanan darah pasien hipertensi.

Menurut Triyani, diet DASH sejalan dengan pedoman Gizi Seimbang, dengan sedikit modifikasi. “Pada diet DASH, model Isi Piringku dimodifikasi menjadi bentuk T, setengah bagian atas diisi oleh sayur dan buah sebagai sumber serat dan mineral. Di bagian bawah, ¼ piring diisi sumber karbohidrat, dan ¼ lainnya diisi protein, hewani dan nabati.

Prinsip diet DASH meliputi: energi sesuai kebutuhan, protein 18% dari kebutuhan energi total, lemak 27% dari kebutuhan energi (diutamakan lemak tak jenuh), karbohidrat 55%. Serat perlu dikonsumsi sebanyak 30 gr setiap hari, sedangkan natrium dibatasi 1.500-2.300 mg/hari (setara dengan 5 gr garam). Untuk asupan mineral, kalium 4.700 mg/hari, kalsium 1.250 mg/hari, dan magnesium 500 mg/hari.

Untuk mendorong pasien berkomitmen menjalani diet DASH, Triyani menyarankan untuk memberikan lembar monitor diet mandiri kepada pasien. Lembaran tersebut terdiri dari tabel-tabel hari selama seminggu, dengan pencantuman porsi makan (kurang/sedang/lebih) pada tiap jadwal makan, total makanan yang dikonsumsi dalam sehari, dan aktivitas fisik yang dilakukan hari ini.

Triyani menegaskan, angka keberhasilan diet DASH dalam menurunkan tekanan darah, tinggi sekali. “Estimasi penurunan tekanan darah sistolik dengan diet DASH mencapai 14-18 mmHg. Tak hanya itu, diet DASH juga efektif menurunkan berat badan, lemak tubuh, dan kadar kolesterol,” ujarnya.

Peranan Probiotik

Hubungan antara mikrobioma usus dengan hipertensi, telah dikemukakan sejak 1982 oleh Mitsuoka. Ilmuwan asal Jepang itu menyampaikan, dalam saluran pencernaan kita terdapat begitu banyak mikroorganisme, yang bersimbiosis dengan usus. Ada yang bermanfaat, ada pula yang merugikan. “Mikroorganisme patogen menghasilkan berbagai komponen yang berpengaruh terhadap kesehatan, termasuk hipertensi,” ujar Prof. Dr. Ir. Endang S. Rahayu, MS, Guru Besar Teknologi Pertanian UGM.

Idealnya, mikrobiota usus kita berada dalam kondisi seimbang. Yaitu jumlah mikroorganisme yang bermanfaat lebih banyak dibandingkan yang bersifat patogen. Masalah mulai muncul ketika terjadi disbiosis, di mana keseimbangan mikrobiota usus terganggu; bakteri patogen lebih mendominasi. Telah ditemukan bahwa kondisi disbiosis kerap dijumpai pada penyandang hipertensi.

Berbabagi penelitian pun dilakukan, untuk menilai apakah memperbaiki kondisi mikrobiota usus dengan pemberian probiotik, bisa membantu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Hasilnya cukup menjanjikan.

Misalnya saja menurut penelitian meta-analisis yang dilakukan oleh Saman Khalesi, dkk (Hypertension, 2014), terhadap 9 studi acak terkontrol. “Tampak bahwa konsumsi probiotik bisa menurunkan tekanan darah secara signifikan, baik sistolik maupun diastolik,” ujar Prof. Trisye, begitu ia biasa disapa. Berdasarkan hasil penelitian, probiotik ditengarai merupakan suplemen yang potensial dan merupakan bagian penting dalam pola makan untuk memperbaiki tekanan darah, serta mencegah atau mengontrol hipertensi.

Prof. Trisye menjelaskan, secara umum probiotik bermanfaat untuk memperbaiki tekanan darah melalui dua cara: mengembalikan keseimbangan mikrobiota usus, dan memberikan zat-zat tertentu yang berperan dalam mengatur tekanan darah. “Misalnya saja bioaktif peptida, yang berperan sebagai ACE inhibitor. Ini manfaat yang sudah umum diketahui,” terangnya. Studi oleh Rebeca Rojas-Ronquillo, dkk (International Dairy Journal, 2012) menyimpulkan bahwa L. casei Shirota strain mampu menghasilkan bioaktif peptide dari kasein susu sapi selama proses fermentasi. Peptida tersebut memiliki efek ACE inhibitor, serta bersifat antitrombotik.

L. casei Shirota strain sebagai salah satu probiotik yang populer di Indonesia, menunjukkan manfaat tambahan lain. “Tak hanya memiliki bioaktif peptida yang menghambat enzim ACE, L. casei Shirota strain juga berkontribusi dalam pembentukan GABA (G-aminobutyric acid) yang bisa mencegah tekanan darah tinggi,” imbuh Prof. Trisye. Hal ini terungkap melalui studi oleh K. Inoue, dkk (European Journal of Clinical Nutrition, 2003). Ditemukan bahwa fermentasi susu skim menggunakan dua starter (L. casei Shirota strain dan Lc. lactis YIT 2027) menghasilkan GABA, yang memiliki efek menurunkan tekanan darah pada hipertensi ringan.

Adapun studi oleh Y. Aoyagi, dkk (Beneficial Microbes, 2017) menemukan bahwa konsumsi susu fermentasi yang mengandung L. casei Shirota strain secara rutin, mampu menurunkan risiko hipertensi pada orang lanjut usia (lansia). Studi melibatkan 352 orang Jepang usia 65-93 tahun, yang awalnya memiliki tensi normal. Mereka dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan konsumsi susu fermentasi (<3 kali atau >3 kali/minggu).

Hasilnya selama interval 5 tahun, insiden hipertensi pada kelompok yang mengonsumsi susu fermentasi >3x/minggu lebih rendah secara signifikan ketimbang yang mengonsumi <3x/minggu. “Hasil ini menunjukkan potensi bahwa risiko terjadinya hipertensi, jauh lebih rendah pada lansia yang mengonsumsi susu fermentasi dengan kandunan L. casei Shirota strain minimal tiga kali seminggu,” tutur Prof. Trisye.

Berdasarkan studi-studi di atas, minuman probiotik dengan L. casei Shirota bisa dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan DASH untuk mencegah maupun mengelola hipertensi. Tentunya pasien tetap perlu mengonsumsi obat sesuai anjuran, dan berolahraga secara rutin. Probiotik dapat berperan sebagai terapi pendukung. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Happy patient photo created by Wiroj Sidhisoradej - www.freepik.com