pandemi covid-19 turunkan risiko diabetes
pandemi covid-19 turunkan risiko diabetes

Pandemi COVID-19 Turunkan Risiko Diabetes, Survei Terbaru Menyatakan

Pandemi COVID-19 ternyata memberikan berkah yang tidak diduga-duga. Data terbaru menyatakan perubahan perilaku dan gaya hidup akibat pandemi memicu penurunan risiko diabetes dan prediabetes.  

Saat ini, menurut IDF Diabetes Atlas tahun 2019 lebih dari 460 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes dan prediabetes, yang sebenarnya dapat dicegah dengan gaya hidup.

Survei terbaru oleh farmasi internasional Merck pada September 2021, melibatkan sekitar 8.000 orang dewasa di delapan negara, termasuk Indonesia dan Uni Emirat Arab, mengungkapkan bila responden di Indonesia telah menerapkan perubahan gaya hidup yang dapat mengurangi risiko diabetes.

Survei ini menunjukkan dengan lebih banyaknya waktu luang di rumah, mayoritas responden melakukan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, seperti 51% lebih banyak makan buah dan sayur, 40% menjadi semakin sering berolahraga selama pandemi.

Terungkap juga bila sebanyak 68% orang di Indonesia percaya bahwa perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko diabetes, dan 73% menyadari bahwa asupan makanan tinggi gula memainkan peran utama dalam menyebabkan diabetes.

“Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan besar terhadap gaya hidup yang dapat menjadikan kita lebih sehat ataupun tidak. Saat ini, kita sudah mulai beradaptasi untuk hidup berdampingan dengan virus ini dan perlu memahami kebiasaan yang dapat mengurangi ataupun meningkatkan risiko diabetes.”

“Dengan demikian, kita dapat membuat pilihan tepat untuk mempertahankan gaya hidup sehat dan mengubah yang buruk menjadi baik,” kata Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk.

Risiko terkena diabetes tipe-2 dapat dikurangi hingga 58% dengan perubahan gaya hidup, seperti pola makan yang seimbang, rutin berolahraga dan menurunkan berat badan. Penelitian Bansal N, dkk, membuktikan bila setiap penurunan berat badan hingga satu kilogram, risiko terkena diabetes juga berkurang hingga 16%. Studi ini diterbitkan di World Journal of Diabetes 2015.

Mereka dalam kategori prediabetes adalah yang paling diuntungkan lewat perubahan gaya hidup. Kadar gula bisa dikembalikan menjadi normal, ini sekaligus mencegahnya berkembang menjadi diabetes.

Perlu diketahui bila seseorang sudah terdiagnosa diabetes, wajib mengontrol kadar gula darah yang cenderung tinggi, antara lain dengan obat  dan gaya hidup. Dan, diabetes tidak bisa sembuh.

Dr. L. Aswin Pramono, MEpid, SpPD, dari RS St. Carolus, Jakarta, menjelaskan, prediabetes merupakan kondisi gula darah yang tinggi, namun belum sampai menyentuh kriteria diagnosis diabetes. Namun, tidak banyak orang yang menyadari kondisi prediabetes, karena gejalanya minim, sampai kemudian berkembang menjadi diabetes dan menimbulkan komplikasi.

Baca: Buncit, Tanda Awal Prediabetes

“Untuk mencegahnya, sangat direkomendasikan untuk rutin berolahraga setidaknya 150 menit seminggu, atau 30 menit setiap hari selama 5 hari dalam seminggu. Olahraga yang dilakukan misalnya jalan kaki, naik sepeda atau berenang,” ujar dr. Aswin.

Usaha lainnya dalam mengobati prediabetes, imbuh dr. Aswin adalah berusaha mengubah pola makan dengan diet yang bergizi seimbang dan mengelola stres.

Cek prediabetes

Walau telah terjadi perubahan gaya hidup dan penurunan risiko prediabetes dan diabetes, pada survei tersebut juga terlihat bagaimana perilaku masyarakat dalam mencari informasi seputar diabetes.

Kebanyakan orang (82% responden) di Indonesia tidak tahu harus bertanya kepada siapa atau mengakses sumber informasi yang dapat diperpercaya tentang risiko diabetes.

Sebanyak 67% partisipan mengakses informasi tentang faktor risiko diabetes di internet, di mana 31% -nya melalui media sosial. Padahal, sebagaimana diketahui media sosial kerap menyuguhkan informasi yang salah (hoax).

Untuk mencari tahu bagaimana perubahan gaya hidup dapat memengaruhi risiko diabetes, Anda dapat mengikuti penilaian prediabetes online dengan mengunjungi www.cekprediabetes.com. (jie)