[nMendiagnosis Sifilis, Ini Pemeriksaan yang Diperlukan
sifilis_tes darah_lab

Mendiagnosis Sifilis, Ini Pemeriksaan yang Diperlukan

Ada beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk mendiagnosis sifilis. Pertama kali, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara). Dokter akan menanyakan keluhan yang dirasakan, misalnya apakah ada luka di area kelamin atau mulut. Jangan tersinggung bila dokter kemudian menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Seperti aktivitas seksual, riwayat kehamilan (apakah pernah keguguran), riwayat pengobatan, hingga riwayat keluarga. Ini penting agar dokter bisa menilai kemungkinan yang mengarah ke sifilis.

“Tahap kedua setelah wawancara, pemeriksaan fisik,” ujar dr. Anthony Handoko, Sp.KK, FINDSV, CEO Klinik Pramudia. Seperti diketahui, pada stadium primer, sifilis menyebabkan luka yang tidak sakit, sehingga kerap tidak disadari. Dokter tentu akan memeriksa area kelamin, serta bagian tubuh lain. Mungkin saja sifilis sudah masuk ke stadium sekunder, yang gejalanya tidak lagi di organ kelamin.

Selanjutnya akan dilakukan tes laboratorium, untuk memastikan kecurigaan. Ada 3 jenis pemeriksaan lab: direct method, serologi, dan CSF (cerebro spinal fliud). “Pemeriksaan direct method dan CSF tidak disarankan karena butuh biaya besar. Yang paling mudah dan paling mungkin dilakukan adalah serologi,” tutur dr. Anthony, dalam diskusi “Sifilis, Silent Disease, si Perusak Organ” yang diselenggarakan Klinik Pramudia di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bila seseorang didiagnosis sifilis, pasangannya pun perlu ikut diperiksa, dan diobati jika hasilnya juga positif.

 

Mendiagnosis sifilis dengan pemeriksaan lab

Ada 2 pemeriksaan serologi untuk mendiagnosis sifilis: non treponemal dan treponemal. Pada tes treponemal, yang biasa dilakukan yakni VDRL (Venereal Disease Research Laboratory), dan untuk non treponemal yaitu TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay).

VDRL mendeteksi antilipid IgM dan IgG bakteri. Pemeriksaan ini bersifat tidak spesifik, kualitatif (positif atau negatif saja), dan kuantitatif. “Hasilnya bisa positif palsu, karena tidak spesifik. Artinya, nilai positif tidak harus menunjukkan sifilis. Bisa pula karena ada infeksi virus, atau penyakit autoimun kronis,” papar dr. Anthony.

Sedangkan hasil negatif palsu bisa saja ada sifilis, tapi tidak terdeteksi karena penyakit berada di 4 minggu awal stadium primer, stadium laten lanjut, atau reaksi Prozone pada stadium sekunder. Tubuh baru membentu antibodi terhadap sifilis setelah infeksi >4 minggu. Bila VDRL dilakukan sebelum waktu ini, hasilnya akan negatif.

Bila hasil VDRL positif, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan terponemal, yang lebih spesifik. Biasanya dengan pemeriksaan TPHA. “Ini sebagai tes untuk konfirmasi setelah dilakukan tes non treponemal,” ujar dr. Anthony. TPHA mendeteksi antibody terhadap antigen spesifik Treponema. Namun, pemeriksaan ini hanya mendeteksi genus Treponema, tidak bisa membedakan spesies atau subspesiesnya. Selain Treponema pallidum, ada pula subspesies Treponema yang menyebabkan penyakit frambusia dan penyakit Pinta.

Hasil TPHA positif bisa menunjukkan infeksi aktif, atau infeksi lampau yang sudah diobati dan sembuh. “Untuk 85% orang, hasilnya tetap positif seumur hidup,” ujar dr. Anthony.

 

Monitoring selama 1 tahun

VDRL juga dilakukan untuk monitoring pengobatan, selain untuk diagnosis. Untuk monitoring, pemeriksaan dilakukan 3 bulan setelah pengobatan. Lalu 6, 9, 12 bulan, dan mungkin terus dilanjutkan. Pengobatan mungkin selesai dalam 2 minggu, tapi monitoring bisa sampai 1 – 2 tahun. Menurut dr. Anthony, sebaiknya menghindari hubungan intim hingga monitoring selesai. Memang ada kondom, tapi tetap ada risiko. Bagaimanapun, kondom tidak melapisi hingga bagian pangkal penis. Bila ada luka sifilis di area tersebut, bisa terjadi penularan. "Saya tidak bisa memaksa untuk tidak berhubungan selama satu dua tahun. Namun harus diingat, semua ada risikonua," ujarnya. (nid)

___________________________________________

Ilustrasi: Medical photo created by rawpixel.com - www.freepik.com