Kembali “Greng” dengan Terapi Hormon | OTC Digest
terapi_hormon_testosteron

Kembali “Greng” dengan Terapi Hormon

Setelah penyebab hipogonadisme ditemukan dan diatasi, dokter akan mengevaluasi; mungkin perlu penambahan testosteron dari luar, agar kadarnya kembali naik hingga normal. “Kadar normal 300-800 ng/dl. Yang kita harapkan yakni normal menengah, sekitar 300-700 ng/dl,” tutur dr. Nugroho dari RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Koreksi kadar testosteron dapat memperbaiki keluhan akibat hipogonadisme, termasuk mencegah penipisan massa tulang.

Testosteron bisa diberikan pada hipogonadisme terkait usia, juga pada kasus hipogonadisme primer atau gangguan permanen di hipotalamus. Meski gaya hidup baik, secara fisiologis kadar testosteron akan menurun seiring bertambahnya usia. Hipogonadisme di usia muda yang terkait stres, atau triad hipogonadisme (yang berkaitan dengan penyakit metabolik dan disfungsi seksual), juga mendapat manfaat dengan pemberian testosteron. “Triad ini sangat erat; bila ditemukan masalah di salah satunya, ketiganya harus diobati,” tegas dr. Nugroho.

Pada tahap awal, ketiga kondisi harus diobati. Setelah terjadi perbaikan, diharapkan penyakit metabolik dan disfungsi seksual selesai. “Banyak penelitian menunjukkan, setelah kadar testosteron dipelihara menjadi normal fisiologi selama 6-8 bulan, obesitas sentralnya membaik,” terangnya. Banyak pasien dr. Nugroho penderita DM 2 yang disertai hipogonadisme lalu kadar testosteronnya diperbaiki, gula darahnya kembali normal.

Awalnya harus minum obat antidiabet. Setelah kadar gula darah membaik, dosisnya dikurangi dan akhirnya dilepas. Hasilnya membutuhkan waktu, tidak dalam waktu singkat.

Terapi sulih hormon (TSH) untuk testosteron ada bermacam bentuk: pil, gel, hingga injeksi (suntikan), “Tingkat keberhasilan yang paling tinggi injeksi; 89% menurut penelitian.” Dokter akan menilai kondisi pasien, apakah bisa diberi TSH testosteron. Keinginan pasien untuk punya anak adalah faktor penting. Bila diperlukan, testosteron bisa diberikan 1-2 kali, untuk meningkatkan gairah seksual hingga frekuensi hubungan seksual membaik. Tidak untuk diberikan jangka panjang, karena bisa berdampak negatif pada kesuburan.

 Pasien tetap harus  kontrol rutin sesuai anjuran dokter, karena TSH perlu dievaluasi. Apakah hasilnya mencapai target, dan memonitor apakah ada efek samping.

THS testosteron tidak membantu produksi sperma. Yang dibutuhkan untuk itu adalah testosteron di buah zakar, yang dihasilkan sendiri oleh tubuh. Bila ada masalah fertilitas, akan dievaluasi lagi terapi apa yang cocok. Mungkin dibutuhkan bantuan reproduksi seperti inseminasi buatan atau bayi tabung. (nid)

 

 Laki-laki usia 40-50 tahun mengalami puber kedua, sehingga mencari istri muda? Itu mitos. “Orang berpikir itu hebat. Sebetulnya, itu tanda kesehatan seksualnya menurun sehingga perlu rangsangan yang lebih tinggi,” ungkap dr. Nugroho. Bila fungsi seksual diperbaiki, hubungn seksual dengan pasangan tak akan terganggu. (nid)