wanita lebih rentan alami kekambuhan psoriasis

Wanita Lebih Rentan Alami Psoriasis, Atasi Dengan Cara Ini

Kulit halus mulus adalah dambaan setiap wanita, tetapi ini tidak berlaku untuk penderita psoriasis. Data juga menyatakan bila wanita lebih rentan mengalami psoriasis dan kekambuhan berulang.

Psoriasis merupakan penyakit autoimun dan peradangan kronis. Penyakit ini menyebabkan penderitanya mengalami ruam merah, kulit kering dan menebal, serta bersisik. Terkadang, kondisi psoriasis juga dapat disertai dengan gatal dan nyeri.

Pada psoriasis, pembelahan dan pematangan sel kulit lebih cepat, hanya 3-5 hari (normalnya 21-28 hari), sehingga kulit menjadi tebal dan bersisik. Adalah proses inflamasi (peradangan) yang menstimulasi terjadinya hal ini.

Belum jelas, apa yang memicu peradangan hingga menimbulkan psoriasis. Dicurigai ada faktor genetik. Dilaporkan bahwa 30% pasien memiliki riwayat psoriasis dalam keluarga. Faktor lain yakni adanya stimulasi sel imun sehingga terjadi peradangan di kulit.

Baca : Psoriasis, Kulit Bersisik

Walau psoriasis bisa menyerang semua jenis kelamin dalam berbagai kelompok umur, wanita lebih rentan mengalami psoriasis dan terjadi kekambuhan, dibanding pria.

Kekambuhan psoriasis pada wanita turut dipengaruhi kadar estrogen. Hormon ini antara lain bersifat antiinflamasi dan mencegah kulit kering.

Berkurangnya hormon estrogen menjelang menstruasi atau ketika memasuki masa menopause menyebabkan kulit cenderung lebih kering. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan wanita lebih rentan alami kekambuhan psoriasis.

Sebaliknya selama kehamilan kadar hormon estrogen meningkat, sehingga pada kebanyakan kasus psoriasis cenderung menghilang. Riset di British Medical Journal menyatakan 60% wanita mengalami kondisi ‘remisi’ alias kulit bersih dari psoriasis selama kehamilan.

Tetapi pada 10-20% wanita, kehamilan bisa membuat kondisi psoriasis memburuk. Pada kondisi seperti ini penderita perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai yang aman untuk janin.

Walau wanita lebih rentan alami psoriasis, kondisi ini tidak mempengaruhi kesuburan / kemungkinan memiliki bayi. Tetapi dalam Journal of the American Academy of Dermatology dijelaskan wanita dengan psoriasis berat lebih berisiko mengalami bayi lahir dengan berat badan rendah, dibanding mereka tanpa psoriasis. Wanita dengan psoriasis ringan tidak memiliki risiko yang sama.

Saat hamil, pengobatan yang disarankan adalah pelembap dan emolien, seperti petroleum jelly. Krim yang mengandung steroid juga masih diperbolehkan. Saat bayi lahir, hindari mengoleskan krim steroid pada payudara, atau pastikan untuk membasuh area payudara secara menyeluruh sebelum menyusui.  

Memilih salep yang tepat

Indah Susanti, Key Account Manager PT Leo Farma (farmasi yang memroduksi obat psoriasis) menjelaskan secara umum pengobatan psoriasis yang paling utama adalah terapi topikal (oles).

Riset Murphy G, dalam Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology (2011), menyatakan kombinasi vitamin D analog (calcipotriol) dan kortikosteroid (steroid) topikal sangat direkomendasikan untuk perawatan psoriasis; tetapi tidak untuk ibu hamil dengan psoriasis.

 

Link Sertifikat Webinar 17 Desember http://bit.ly/SertifikatWebinarSFI17Des

 

“Pada terapi steroid tunggal jangka panjang bisa menimbulkan efek samping penipisan kulit, hipopigmentasi, bekas parut (stretch mark) atau berjerawat. Vitamin D analog akan menghalangi efek samping steroid dengan mengembalikan fungsi epidermis kulit,” kata Indah dalam webinar apoteker dengan topik Psoriasis, Infeksi Bakteri Staphylococcus aureus Dan Cara Mengatasinya, Kamis (17/12/2020).

Riset di European Journal of Dermatology (2009) mengatakan setelah perawatan salep kombinasi steroid dan calcipotriol (dalam produk Diavobet), kemungkinan kekambuhan dalam 50 hari adalah sekitar 20-25%, atau kemungkinan kekambuhan dalam 150 hari adalah antara 40-45%. Tetapi peneliti mendapati setelah pemakaian Diavobet 45,3% pasien tidak mengalami kekambuhan dalam 6 bulan.

Kombinasi keduanya, imbuh Indah, terbukti mempengaruhi peradangan dan sistem imun yang hiperaktif, pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) yang tidak normal, pembentukan keratinosit (sel kulit di epidermis) yang menyimpang, dan pematangan sel keratinosit yang tidak normal. (jie)