nyeri dada akibat serangan jantung
serangan jantung kronis atau akut

Membedakan Nyeri Dada Akibat Serangan Jantung Kronis atau Akut

Nyeri dada adalah salah satu gejala yang paling umum dan menantang secara diagnostik dalam perawatan primer. Pengenalan dan penanganan dini angina pectoris akut atau kronis sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. 

Nyeri dada adalah istilah umum untuk segala ketidaknyamanan - oleh sebab apapun, rasa sakit, atau sensasi yang dirasakan di area antara leher dan perut bagian atas.

Sementara, angina pectoris adalah bentuk spesifik nyeri dada, tekanan atau sesak tertentu yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otot jantung (iskemia), yang sering kali menandakan adanya penyakit arteri koroner / penyakit jantung koroner (PJK).

Dr. Susetyo Atmojo SpJP, dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, menjelaskan, tidak semua kasus nyeri dada itu angina pectoris. Tetapi memerlukan penilaian awal yang tepat dan cepat. 

Kegagalan mendeteksi iskemia dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan serangan jantung, yang mengakibatkan kerusakan otot jantung yang ireversibel, komplikasi seperti aritmia atau syok kardiogenik, dan peningkatan angka kematian. 

“Apakah nyeri dada itu akibat angina pectoris. Kalau ya, apakah akut atau kronis. Apakah iskemi atau non iskemi. Kalau iskemi, yang bermasalah adalah struktur pembuluh darah koroner. Jika non iskemi, nyeri dada berasal dari jantung tetapi bukan pembuluh darah koroner. Harus ditatalaksana dengan cepat, perlu tindakan revaskularisasi,” ujar dr. Susetyo kepada OTC Digest.

Angina tipikal dan atipikal

Keluhan nyeri dada akibat serangan jantung juga dibedakan menjadi angina tipikal dan atipikal. 

Angina tipikal secara klasik digambarkan sebagai ketidaknyamanan dada dengan ciri khas tekanan, rasa berat, atau sesak. Bisa diikuti penjalaran ke lengan kiri, rahang atau punggung belakang atas. Durasi nyeri antara 5 – 20 menit. Dipicu oleh aktivitas fisik atau stres emosional, dan mereda dengan istirahat atau nitrat sublingual (obat kerja cepat yang diletakkan di bawah lidah). 

“Nyeri dada akibat angina tipikal biasanya makin nyeri, lebih nyeri kalau beraktivitas, cuaca dingin, habis makan berat, stres, cemas,” dr. Susetyo menambahkan. 

Angina atipikal, meskipun masih berpotensi iskemik, dapat muncul dengan variasi lokasi (seperti ketidaknyamanan di sekitar perut atas), karakter (rasa terbakar, rasa menusuk), atau penjalaran (rahang, punggung, atau lengan kiri). 

“Angina atipikal, mungkin koroner, mungkin juga bukan (kemungkinannya 50:50 PJK). Nyeri muncul saat rebahan, kalau menarik napas dalam atau batuk. Pada lansia, wanita, dan pasien diabetes, presentasi atipikal lebih umum terjadi,” imbuhnya.  

PJK akut vs kronis

Diagnosis PJK akut dan kronis akan membedakan tatalaksana yang diperlukan. “Jika pasien mengalami kondisi akut, harus segera ditangani dengan pasang ring, trombolitik, dll. Sementara jika kronis, berarti pasien PJK lama, berobat jalan di poli. Misalnya, tadi pagi kambuh, tapi semenit hilang. Ini tidak perlu dirawat, tidak perlu panik,” dr. Susetyo menjelaskan. 

PJK akut biasanya ditandai dengan beberapa kondisi:

  1. Nyeri dada timbul saat istirahat. Durasi lebih dari 20 menit.
  2. Nyeri dada berat, yang sebelumnya belum pernah terjadi. Disebut sebagai new onset
  3. Pasien PJK dalam beberapa waktu belakang mengalami nyeri dada yang menjadi lebih sering dan lebih lama.  
  4. Pasien mengalami nyeri dada dalam 1 bulan setelah serangan jantung yang perlu pemasangan ring. Atau mengalami mengalami nyeri dada setelah 1 bulan operasi bypass jantung.

“Kalau sudah ada satu dari empat ini, dicurigai sebagai PJK akut,” tegas dr. Susetyo. 

Tatalaksana 

Dr. Susetyo menjelaskan, dalam konteks kegawatdaruratan di UGD, ada beberapa hal yang akan dilakukan, termasuk pemberian oksigen (untuk kasus hipoksia; saturasi oksigen <90%). “Pemberian oksigen pada pasien non-hipoksia tidak direkomndasikan,” katanya.

Pemberian obat nitrat yang lebih awal. Nitrat sublingual dapat meredakan gejala iskemik. “Mekanisme kerja nitrat dengan menghasilkan efek vasodilatasi (pelebaran) pada vena sehingga mengurangi preload, memperbaiki kebutuhan oksigen. Dan, vasodilatasi pada arteri sehingga memperbaiki suplai oksigen,” terang dr. Susetyo. “Anti angina nitrat sangat direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada pasien angina pectoris.”

Untuk nyeri hebat/berat dipertimbangkan pemberian morfin 5-10 mg sebagai pereda nyeri. Obat beta-blocker IV dipertimbangkan pada pasien STEMI (ada sumbatan total di arteri koroner). (jie)