Kehamilan adalah anugerah yang ditunggu-tunggu pasangan suami-istri. Tetapi banyak wanita dengan penyakit radang usus (IBD) khawatir jika kondisi mereka akan berdampak negatif pada kesuburan, kehamilan atau kesehatan bayi mereka.
Kabar baiknya, ibu bisa memiliki kehamilan yang sehat walau dengan IBD, selama penyakit ini terkontrol baik. Namun, tetap penting mewaspadai kemungkinan komplikasi kehamilan.
”Sangat mungkin untuk memiliki kehamilan yang lancar, dan anak yang sepenuhnya sehat, dengan penyakit ini,” kata Supriya Rao MD, profesor gastroenterologi di Tufts University, Massachusetts, melansir Everiday Health.
”Mencapai remisi, tetap mengonsumsi obat-obatan, kontrol rutin dan menerapkan gaya hidup sehat sangatlah penting,” tegasnya.
Menurut Crohn’s & Colitis Foundation, ada beberapa hal yang ibu perlu ketahui dan waspadai.
1. IBD mempengaruhi peluang kehamilan
Kehamilan dapat dipengaruhi oleh aktif atau tidaknya (remisi) penyakit radang usus. Sebagian besar wanita dengan kolitis ulseratif atau penyakit Crohn (dua jenis IBD yang paling umum) dalam masa remisi memiliki peluang yang sama untuk hamil, seperti wanita lain seusia mereka.
Namun, mereka dengan penyakit aktif mungkin kesulitan mendapatkan kehamilan yang diinginkan. Kehamilan selama IBD aktif tidak dianjurkan, reaksi radang dan nyeri bisa menyebabkan Anda tidak makan cukup / mendapat cukup nutrisi.
Kurang nutrisi selama kehamilan berisiko tinggi memicu keguguran, kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR).
Sangat penting untuk menghentikan penggunaan metotreksat 3 - 6 bulan sebelum memulai program hamil, baik pada pria atau wanita. Metotreksat adalah obat penekan sistem imun yang digunakan untuk mengurangi peradangan. Obat ini karena dikaitkan dengan cacat lahir.
Jika Anda mengonsums kortikosteroid (steroid), konsultasikan dengan dokter karena ini mungkin perlu dihentikan secara bertahap, dan diganti dengan obat alternatif.
Semua obat lain yang digunakan untuk peradangan IBD dianggap aman selama kehamilan.
2. Tetap konsumsi obat IBD selama kehamilan
Waktu paling ideal merencanakan kehamilan adalah selama periode remisi IBD, setidaknya 3 - 6 bulan tanpa pemakaian obat steroid. Penyakit aktif selama kehamilan meningkatkan risiko kelahiran prematur dan BBLR.
Sebagian besar obat IBD memiliki risiko minimal terhadap kehamilan. Oleh karena itu sangat penting untuk terus mengonsumsi obat yang diresepkan, sampai Anda mendiskusikannya dengan dokter untuk kemungkinan pengentian konsumsi obat.
”Obat seperti mesalamine, azathioprine (dikonsumsi tunggal), dan semua obat biologi aman dikonsumsi selama kehamilan,” terang Prof. Rao.
3. Prosedur diagnostik dan kehamilan
Jika memang dibutuhkan, banyak prosedur diagnosa, seperti kolonoskopi hingga USG abdominal, bisa dilakukan dengan aman selama kehamilan.
Karena kolonoskopi biasanya dilakukan menggunakan anestesi (bius), sebagian besar dokter merekomendasikan untuk menunggu hingga trimester kedua sebelum melakukan tindakan ini. CT scan serta rontgen standar perlu dihindari, kecuali dalam kondisi darurat medis.
MRI bisa dilakukan dengan aman selama kehamilan, namun penggunaan gadolinium harus dihindari pada trimester pertama.
4. Operasi IBD selama kehamilan
Beberapa operasi usus, seperti anastomosis ileoanal dan kolektomi, biasanya tidak berdampak negatif pada kesuburan wanita dengan IBD. Namun operasi lain, seperti kolektomi dengan J-puches dapat mengurangi tingkat kesuburan wanita.
Penderita penyakit Crohn yang memiliki fistula, atau abses di sekitar rektum atau vagina pada saat persalinan perlu berdiskusi dengan dokter terkait pilihan metode persalinan, pertimbangkan operasi caesar.
5. Apa yang dikonsumsi selama kehamilan?
Nutrisi sangat penting untuk bumil, baik tanpa atau dengan IBD. Diet seimbang sangat direkomendasikan. Ini termasuk makronutrien (karbohidrat, lemak, protein) dan mikronutrien (vitamin dan mineral).
Mulailah konsumsi vitamin sebelum kehamilan, dan lanjutkan hingga fase menyusui. Nutrisi penting selama kehamilan antara lain asam folat, kalsium, zat besi, protein, iodin, vitamin C, vitamin B12 dan vitamin D.
Asupan asam folat (bentuk alami atau suplemen) sejak awal kehamilan penting untuk mencegah cacat NTD (neural tube defect: tabung saraf tidak menutup sempurna), dan terutama penting untuk mereka yang mengonsumsi sulfasalazine (obat antiradang), yang bisa menghambat penyerapan asam folat.
Baca: Pentingnya Merencanakan dan Mempersiapkan Kehamilan
6. Amankah menyusui?
Menyusui kemungkinan besar tidak akan berdampak negatif pada penyakit radang usus Anda. Berapapun jumlah ASI akan bermanfaat bagi kesehatan bayi dan Anda.
Beberapa penelitian menunjukkan bila menyusui dapat mengurangi risiko bayi Anda terkena kolitis ulseratif, meskipun studi lebih lanjut diperlukan.
Dengan perencanaan, pemantauan dan kontrol yang matang, wanita dengan IBD dapat memulai perjalanan menjadi seorang ibu dengan percaya diri. (jie)





