waspadai radang usus pada anak
waspadai radang usus pada anak

Nyeri Perut Berulang Bisa Tanda Penyakit Serius: Waspadai Radang Usus pada Anak

Walau kasus radang usus (inflammatory bowel disease / IBD) secara umum di Indonesia rendah, kejadiannya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Penyakit ini juga bisa menyerang anak-anak, dengan gejala mirip penyakit lain.

Di wilayah Asia Tenggara, kejadian IBD relatif rendah dibandingkan negara Barat, namun ada tren peningkatan yang konsisten. Studi di berbagai negara Asia menunjukkan insidensi IBD berkisar antara 0,54 hingga 3,44 per 100.000 penduduk, dengan kecenderungan meningkat seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FINASIM, Ketua Umum PB Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) menjelaskan, “Data dari rumah sakit rujukan Indonesia juga menunjukkan peningkatan jumlah pasien IBD yang memerlukan penanganan jangka panjang.”

“IBD perlu dipahami secara komprehensif sebagai penyakit dengan mekanisme yang kompleks, di mana penyakit ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh gangguan toleransi imun yang memicu inflamasi kronis dan perjalanan penyakit yang berulang,” ujar Prof. Ari, kepada OTC Digest.

Oleh karena itu, imbuhnya, pendekatan diagnosis dan tata laksana IBD harus bersifat terintegrasi, tidak hanya berfokus pada gejala klinis, tetapi juga pada mekanisme dasar penyakit.

Waspadai gejala pada anak

Dalam pertemuan ilmiah IBD Update 2026 di Jakarta (23-24 Januari 2026), Prof. Jose D. Sollano, Jr, dari University of Santo Tomas, Filipina, menekankan pentingnya mewaspadai tanda dan gejala IBD pada populasi anak, yang kerap tidak dikenali sejak dini.

“Kecurigaan IBD pada anak perlu dipertimbangkan ketika terjadi kasus nyeri perut berulang, yang sayangnya, sering kali dianggap keluhan biasa dan dibiarkan bertahun-tahun, serta gangguan pertumbuhan yang umumnya dikaitkan dengan penurunan nafsu makan dan malnutrisi,” katanya.

Radang usus pada anak berpotensi menyebabkan anemia, baik akibat inflamasi kronis, penyakit usus halus (small bowel disease), maupun perdarahan kecil.

“Bisa diperhatikan juga jika terjadi keterlambatan pubertas akibat gangguan nutrisi, ketidakseimbangan hormon dan inflamasi kronis,” Prof. Jose menambahkan.

Dipengaruhi riwayat keluarga

Riwayat keluarga dengan penyakit radang usus, menurut Prof. Jose, signifikan meningkatkan risiko anak menderita penyakit yang sama.

Kondisi fistula-in-ano pada anak merupakan kejadian klinis yang sering terlewatkan baik oleh dokter anak maupun ahli bedah kolorektal, sehingga berujung pada tindakan operasi berulang di usia muda.

Fistula-in-ano (fistula ani) adalah saluran abnormal kecil yang terbentuk di bawah kulit, menghubungkan saluran anus bagian dalam ke kulit sekitar anus. Kondisi ini umumnya berawal dari infeksi kelenjar anus yang pecah menjadi abses (kantung nanah) dan tidak sembuh sempurna, menyebabkan nyeri kronis, keluarnya nanah/darah, serta iritasi kulit. 

“Pengenalan dini IBD pada anak sangat krusial untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memperbaiki kualitas hidup pasien, sehingga mereka tidak perlu mengalami kondisi IBD yang semakin parah di masa dewasanya,” tegas Prof. Jose.

Ada infeksi lain

Dalam kesempatan yang sama Prof. dr. Marcellus Simardibrata, PhD, SpPD-KGEH, FINASIM, dari RS Abdi Waluyo, Jakarta, menambahkan, ”Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius. Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesua.”

Sebagai informasi IBD yang tidak ditangani benar berisiko menyebabkan komplikasi berupa perdarahan, obstruksi (sumbatan) usus, fistula dan peningkatan risiko kanker kolorektal.  

Prof. Marcell menegaskan penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara seragam atau sederhana. Setelah diagnosis, pasien perlu menjalani evaluasi menyeluruh yang mencakup penilaian penyakit, kemungkinan infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.

Skrining infeksi dibutuhkan terutama di negara yang prevalensi infeksinya tinggi, seperti Indonesia. ”Beberapa infeksi, khususnya tuberkulosis dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat IBD,” tegas Prof. Macrell.  

Skrining menyeluruh sebelum memulai atau meningkatkan terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis atau komplikasi yang tidak diinginkan. (jie)

 

Baca juga: Ini Mitos Tentang Radang Usus Yang Biasa Dipercaya