Mikrobiota usus turut berperan dalam kesehatan otak

Gut-Brain Axis: Usus sebagai Otak Kedua, dan Bagaimana Peranan Probiotik

Istilah gut-brain axis makin sering kita dengar. Ini adalah komunikasi dua arah antara saraf pusat dan sistem saraf enterik yang mengontrol sistem pencernaan. Melalui gut-brain axis, terjalin hubungan antara pusat emosi dan kognitif di otak, dengan fungsi saluran pencernaan. Rasanya, siapapun pasti pernah merasakan, mendadak sakit perut saat dihadapkan dalam situasi yang tegang atau stres.

Link Pendaftaran Webinar Kedokteran 29 Januari 2022

Gut-brain axis bersifat dua arah. Artinya, bukan hanya saraf pusat yang memengaruhi kondisi di saluran cerna. Sebaliknya, kondisi di saluran cerna pun bisa memengaruhi otak. Itu sebabnya, usus disebut juga sebagai “otak kedua”.

Gut-Brain Axis dan Mikrobiota Usus

Berbagai penelitian menemukan peranan mikrobiota usus dalam gut-brain axis (GBA). Interaksi antara mikrobiota dengan GBA juga bersifat dua arah. Yaitu melalui sinyal dari mikrobiota usus ke otak, dan sebaliknya dari otak ke mikrobiota usus melalui hubungan saraf, endokrin, imun, dan humoral.

Secara klinis, kerap dijumpai bahwa ketidakseimbangan mikrobiota usus (disbiosis) berkaitan dengan kelainan saraf pusat. Termasuk di antaranya perilaku cemas-depresif, hingga autisme. Terganggunya GBA akibat disbiosis, juga bisa menimbulkan kelainan gastrointestinal (saluran cerna) fungsional. Ditengarai, IBS (irritable bowel syndrome) adalah salah satu gangguan yang bisa terjadi akibat hal kompleks tersebut.

Peranan Probiotik dalam GBA, Menurut Studi

Pengaruh mikrobiota usus terkait GBA, menarik banyak perhatian ahli untuk meneliti manfaat probiotik dalam gut-brain axis. Salah satu penelitian mengenai hal ini dilakukan oleh M. Takada, dkk (2016). Penelitian ini melibatkan 172 mahasiswa kedokteran tingkat 4 di Universitas Tokushima, Jepang. Para mahasiswa ini sehat, namun ada kecendrungan mengalami kondisi stres saat menghadapi ujian akademik agar bisa melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Dalam penelitian ini, mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengonsumsi minuman probiotik dengan kandungan L. casei Shirota strain, dan kelompok lain mengonsumsi plasebo. Probiotik atau plasebo dikonsumsi setiap hari, selama 8 minggu sebelum ujian nasional untuk standarisasi. Beberapa parameter seperti kadar kortisol pada saliva, dan gejala fisik selama periode intervensi, diambil dan dianalisis.

Hasilnya, tampak bahwa peningkatan kadar kortisol akibat stres akademik, dan rerata insiden gejala fisik, tampak jauh berkurang pada kelompok probiotik dibandingkan kelompok plasebo. Disimpulkan bahwa L. casei Shirota strain bisa  membantu menekan sekresi kortisol yang berlebihan dan kemunculan gejala fisik (keluhan di perut) dalam kondisi stres.

Pendekatan Kedokteran Keluarga

Kedokteran Keluarga menggunakan pendekatan secara holistik dalam pengobatan atau pengelolaan penyakit. Tidak hanya mengatasi gejala dan mencegah perburukan, tapi juga menggali aspek dan faktor-faktor lain, termasuk faktor sosio-ekonomi.

Dalam kasus yang melibatkan gangguan pada saraf pusat, misalnya stres atau kecemasan, perlu ditelusuri apa pemicunya. Di samping itu juga perlu penilaian soal pola makan dan pola BAB pasien, mengingat eratnya hubungan antara mikrobiota usus dengan kesehatan otak, dalam teori gut-brain axis.

Bagaimana teori gut-brain axis dari sudut pandang psikiatri? Sebesar apa manfaat probiotik dalam pengelolaan stres dan lain-lain? Bagaimana pula penanganan kasus psikiatri di tingkat layanan primer? Temukan jawabannya dalam webinar Kedokteran Keluarga “Hubungan Mikrobiota Usus dengan Gut-Brain Axis, Bagaimana Peranan Probiotik?”, Sabtu, 29 Januari 2022, pukul 09.00. Link pendaftaran bisa diakses di artikel ini. (nid)

____________________________________________________

Ilustrasi: <a href='https://www.freepik.com/photos/business'>Business photo created by drobotdean - www.freepik.com</a>