Sejarah Panjang Influenza | OTC Digest

Sejarah Panjang Influenza

Influenza memiliki sejarah panjang, sejak 100 tahun lalu jutaan orang meninggal gara-garanya. Influenza terus meninggalkan korban hingga saat ini. Begini sejarahnya.

Tahun itu 21 juta jiwa meninggal. Jumlah itu sepuluh kali jumlah korban Perang Dunia I (PD I) yang sedang terjadi. Tahun 1918 – 1919 dunia dicekam oleh virus flu.

Virus influenza yang agresif memperburuk kondisi Eropa. Negara Paman Sam pun tak luput dari imbasnya. Dilaporkan dari 1,5 juta tentara AS yang menyeberangi Atlantik berjibaku ke medan perang di Eropa banyak di antaranya tak sampai. Sebagian besar meninggal di atas kapal karena flu yang dikenal dengan “flu 3 hari.”

Mereka yang selamat dari serangan flu itu membawa virus ini ke medan laga, menyebar di antara prajurit. Suhu dingin, lumpur, hujan menjadi media yang ampuh untuk virus ini bermutasi menjadi lebih ganas dan menyebar lebih cepat.

Tak menunggu lama virus ini menjadi pandemi sampai ke Itali, Jerman, Prancis, Inggris dan negara Eropa lain. Spanyol-lah yang paling terpuruk akibat virus ini, sampai disebut sebagai Flu Spanyol.  Dilansir dari health.discovery.com, diperkirakan 8 juta warga terjangkit flu saat itu.

Jurnal American Medical Association final edition of 1918 menyebutkan tahun 1918 sebagai yang terburuk dalam sejarah umat manusia. Terjadi perang paling brutal ditambah dengan berkembangnya penyakit infeksi yang fatal. Menyebabkan kematian ratusan ribu manusia.

Jurnal medis lainnya menyebutkan adanya mutasi pada protein hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N) dalam virus menyebabkan sistem imun manusia tidak mampu melawannya. Setidaknya telah ditemukan 16 jenis H dan 9 N yang memungkinkan virus dapat berkembang menjadi banyak kombinasi.

Sebut saja subtipe H2N2 yang pada tahun 1957 dikenal dengan “flu asia” menewaskan lebih dari satu juta orang. Subtipe H3N2 atau “flu hongkong” merenggut sekitar 700 ribu jiwa tahun 1968. Virus influenza H5N1 yang dikenal dengan “flu burung” dilaporkan pertama kali menginfeksi manusia pada tahun 1997.

Pertama kali muncul di Hongkong dengan korban meninggal sebanyak 6 orang, kemudian menyebar ke Vietnam dan Korea. Dari tahun ke tahun jumlah korban flu burung bertambah, dan pada Januari 2004 lalu pemerintah menetapkan flu burung sebagai bencana darurat nasional.

Sedangkan flu babi sebenarnya adalah virus lama yang muncul kembali. Virus influenza bersubtipe H1N1 ini pertama kali ditemukan oleh dr. Richard Shope, ilmuwan dari AS pada tahun 1932.

Hasil penelitiannya menunjukkan korban selamat pada pandemi flu spanyol memiliki antibodi terhadap virus flu babi. Sedangkan anak-anak yang lahir setelah wabah flu spanyol berakhir tidak punya kekebalan terhadap virus flu babi itu.

Virus adalah mikoorganisme yang cerdas,memiliki kemampuan bertahan hidup dengan beradaptasi pada lingkungan. Dalam satu kali generasi manusia muncul strain baru virus influenza. Vaksinasi influenza walau tidak dapat mencegah 100% seseorang tidak terserang flu, namun dapat mengurangi keparahannya jika ia terserang. (jie)