Saat ini olahraga juga dianggap sebagai obat untuk banyak penyakit, termasuk tekanan darah rendah (hipotensi). Olahraga terbukti bermanfaat untuk mengelola tekanan darah. Namun, penderita hipotensi juga perlu waspada jika berolahraga.
Lauren Mellett, PT, seorang fisioterapis kardiovaskular dan paru-paru bersertifikat di program rehabilitasi jantung di Brigham and Women’s Hospital, Massachusetts (AS), menjelaskan seorang penderita hipotensi bisa merasakan kliyengan (pusing, melayang seperti mau pingsan). Tetapi dengan melakukan beberapa pencegahan sederhana dan merubah rutinitas olahraga, Anda bisa berolahraga dengan aman.
Sebagai informasi, tekanan darah optimal untuk orang dewasa adalah sekitar 120/80 mmHg, dengan kisaran sehat antara 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Angka atas menunjukkan tekanan darah sistolik (saat jantung memompa darah), dan angka bawah adalah tekanan darah diastolik (saat jantung beristirahat sejenak sebelum memompa kembali).
Jika tekanan darah di bawah 90/60 mmHg dianggap rendah. Orang sehat dan aktif dengan tekanan darah rendah biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun, penderita hipotensi yang lebih tua disertai kondisi kesehatan lain, mungkin mengalami gejala pusing, penglihatan kabur, kelelahan, kebingungan atau pingsan – terutama selama/setelah berolahraga.
Bagaimana olahraga mempengaruhi tekanan darah
Saat berolahraga, jantung akan memompa lebih cepat untuk mengirimkan darah yang kaya oksigen ke otot. Akibatnya, tekanan darah Anda ikut naik. Setelah berhenti olahraga, tekanan darah perlahan turun, sebuah fenomena yang disebut hipotensi pasca-olahraga.
“Hipotensi pasca-olaraga bisa mengurangi jumlah darah yang bergerak kembali ke jantung dan otak, membuat Anda merasa pusing, terutama jika sejak awal tekanan darah Anda rendah,” ujar Lauren, melansir Harvard Health. Perubahan postur tubuh yang cepat selama berolahraga juga dapat memicu gejala tersebut, tambahnya.
Cara aman berolahraga dengan tekanan darah rendah
Dua cara sederhana dapat membantu penderita tekanan darah rendah berolahraga dengan aman.
Pertama, pastikan Anda tetap terhidrasi dengan baik, yang membantu mengganti cairan yang hilang karena keringat. Dehidrasi bisa memperburuk tekanan darah rendah. Minum segelas besar air sebelum berolahraga saja tidak cukup, kata Lauren.
“Jauh lebih baik minum sedikit air sepanjang hari, yang merupakan cara lebih efektif untuk tetap terhidrasi,” imbuhnya. Bawalah botol air untuk diminum selama berolahraga.
Kedua, lakukan pendinginan bertahap setelah berolahraga yang meningkatkan detak jantung. Jangan berhenti bergerak secara tiba-tiba, terutama jika Anda berdiri tegak. Setelah berolahraga, pembuluh darah terbuka dan melebar, sehingga darah cenderung berkumpul di kaki dan tungkai.
“Ketika Anda berhenti menggerakkan otot, itu juga memperlambat aliran darah kembali ke jantung,” Lauren menjelaskan.
Setelah selesai berolahraga, kurangi gerakan secara bertahap selama setidaknya lima menit – atau lebih lama jika Anda merasakan gejala apa pun. Hal ini akan memberikan cukup waktu bagi sistem saraf untuk pulih dan mengencangkan pembuluh darah Anda, sehingga meningkatkan tekanan darah dan aliran darah ke otak.
Olahraga untuk penderita hipotensi
Beberapa jenis olahraga lebih aman daripada yang lain, terutama jika tekanan darah Anda turun dan merasa pusing setelah berolahraga dalam posisi berdiri tegak.
“Melakukan olahraga duduk, seperti menggunakan sepeda statis atau mesin rowing (dayung), mencegah penurunan tekanan darah yang disebabkan oleh penumpukan darah di kaki,” kata Lauren.
Berenang, yang menempatkan tubuh Anda dalam posisi horizontal, memberikan keuntungan yang sama. Selain itu, tekanan air ke tubuh akan dengan lembut mendorong darah dan cairan dari lengan dan kaki kembali ke tengah tubuh dan jantung. Akibatnya, jantung memompa lebih banyak darah per detak, sehingga lebih efisien.
Untuk Anda yang lebih senang olahraga beban, lakukan penyesuaian rutinitas latihan Anda, saran Lauren. Alih-alih berdiri selama latihan tubuh bagian atas, duduklah di bangku atau kursi. Berhati-hati saat melakukan squat atau latihan lain yang melibatkan gerakan cepat dari posisi rendah ke tinggi.
Selain itu, hindari gerakan atau pose (dalam latihan yoga) yang menempatkan kepala Anda di bawah jantung. Aliran darah yang deras ke kepala dan kemudian menjauh saat Anda melakukan pose tersebut dapat menyebabkan pusing.
Jika Anda menggabungkan latihan lantai (dilakukan dengan berlutut, duduk atau berbaring) dengan latihan berdiri, jangan bergantian antara keduanya. Sebaiknya selesaikan semua latihan lantai terlebih dulu, lalu bergerak perlahan saat Anda beralih ke posisi berdiri, berhenti sejenak dalam posisi duduk atau berlutut jika perlu. (jie)





