“Sama-sama kanker payudara kok terapinya berbeda?” Pertanyaan ini banyak ditanyakan oleh pasien kanker atau keluarga saat konsul ke dokter. Ada beberapa alasan kenapa pengobatan kanker bisa berbeda untuk masing-masing individu, bahkan pada jenis kanker yang sama.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Indonesia diperkirakan mencatat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru, dan sekitar 242 ribu kematian setiap tahunnya.
Oleh karena itu, perkembangan precision oncology, pencitraan molekuler, dan teknologi berbasis AI memungkinkan tim medis memahami karakteristik kanker secara lebih mendalam, sehingga diagnosis dan strategi terapi dapat disusun dengan lebih presisi sesuai kondisi masing-masing pasien.
Dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menjelaskan, pengobatan kanker mempertimbangkan banyak faktor, seperti stadium, metastasis (penyebaran sel kanker ke organ lain), besar kecilnya tumor, dll.
“Kita tidak mengobati kanker berdasarkan organnya. Sama-sama kanker paru atau payudara, misalnya, satu orang dengan yang lain pengobatannya bisa berbeda. Kalau pengobatannya sama, kanker ini mudah diobati, tapi kenyataannya tidak seperti itu,” terang dr. Santi, kepada OTC Digest.
Ada beberapa hal yang membuat pengobatan kanker mungkin berbeda pada tiap pasien:
1. Stadium kanker dan metastasis
Sebelum memulai pengobatan, beberapa hal yang jadi pertimbangan dokter antara lain melihat stadium dan metastasis. “Pasien dengan stadium awal atau lanjut pasti akan beda pengobatannya,” kata dr. Santi.
2. Ukuran dan agresivitas tumor
Ukuran tumor, antara < 2 cm, 2 - 5 cm, atau > 5 cm mempengaruhi modalitas terapi yang dilakukan.
“Kita lihat agresivitas tumornya. Itu membuat dokter menentukan terapi berbeda. Agresivitas tumor dilihat dari profil molekuler pasien, misalnya untuk kanker payudara kita periksa status ER (estrogen receptor), PR (progesterone receptor), HER2 (human epidermal growth factor receptor 2). Ada beberapa tipe kanker payudara yang beda-beda pengobatannya,” dr. Santi menjelaskan.
Sebagai informasi ER positif (ER+) berarti sel kanker tumbuh dan mendapat sinyal berkembang biak dari hormon estrogen. Kondisi ini merespons baik terhadap terapi hormon anti-estrogen.
PR postif (PR+) berarti sel kanker memiliki reseptor progesteron dan biasanya sensitif terhadap terapi hormonal. Semengara HER2 positif (HER2+) menandakan kelebihan protein HER2 membuat sel kanker tumbuh dan menyebar lebih agresif. Jenis ini sangat efektif ditangani dengan obat terapi target seperti trastuzumab.
Ketiga hasil status penanda ini (positif atau negatif) akan dikombinasikan oleh dokter spesialis onkologi untuk menentukan subtipe kanker payudara (seperti Luminal A, Luminal B, HER2-positif, atau Triple Negative) serta merancang langkah pengobatan yang paling efektif.
3. Komorbid
Dokter juga akan menilai fungsi organ pasien, termasuk ada tidaknya komorbid, misalnya sakit jantung, gangguan ginjal, diabetes, dll. Pengobatan disesuaikan masing-masing pasien dengan komorbidnya.
4. Kuratif atau paliatif
Dr. Santi menjelaskan, tujuan pengobatan sebagai terapi kuratif atau paliatif mempengaruhi agresivitas pengobatan.
“Kalau kuratif harus agresif pengobatannya, memberikan terapi semaksimal mungkin. Tapi kalau terapi paliatif, misalnya pasiennya sudah lansia, banyak kormobid, stadium lanjut end stage, kita beri pengobatan paliatif. Artinya tetap diberikan kemoterapi, tetapi tujuannya tidak agresif. Tujuannya memperpanjang lama hidup pasien,” terangnya.
Precesion medicine
Semakin lengkap informasi tentang suatu kanker, baik dari stadiumnya, karakteristik biologis, profil molekuler, respons terapi, perjalanan molekulernya, itu membantu dokter menentukan terapi yang paling baik untuk pasien. Untuk meminimalisasi pengobatan yang tidak perlu, atau over treatment.
“Sekarang kita sering mendengar pemeriksaan molekuler atau NGS (next generation sequencing) untuk memutuskan terapi yang paling baik, itu sebenarnya untuk mencegah pengobatan yang berlebihan dan tidak tepat guna.
“Jadi kita bisa memberikan pengobatan yang langsung tepat sasaran sambil memonitor efek samping, respons terapi dan tentunya hasilnya pasti akan lebih bagus,” pungkas dr. Santi. (jie)
Baca juga: Deteksi Dini Kanker Paru, Non Perokok Tetap Berisiko





