Indonesia sudah 81 tahun merdeka, tapi belum juga merdeka dari dengue. Sejak kasus pertama pada 1968, dengue masih menjadi ancaman di Indonesia sepanjang tahun. Menurut dr. Gia Pratama Putra, ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam menghadapi dengue.
Pertama, dengue sulit dikenali karena gejala awalnya terlihat seperti demam biasa. Kedua, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar dr. Gia, dokter sekaligus konten kreator.
Ia mengingatkan, keluarga perlu memantau kondisi pasien dengan cermat dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya. “Misalnya nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran," jelasnya.
Jangan lengah menganggap dengue sebagai hal yang umum atau biasa, lantaran penyakit ini sudah begitu ‘akrab’ di telinga. “Penanganan yang cepat dan tepat menjadi bagian penting dalam mencegah kondisi dengue berkembang menjadi lebih berat. Jangan sampai kita menganggap dengue sebagai bagian yang biasa dari kehidupan sehari-hari,” tegas dr. Gia.
Ancaman dan Beban Berat Dengue
Sejak kasus pertama tercatat di Jakarta dan Surabaya pada 1968, Indonesia telah mengalami perkembangan dalam penanganan dan pengendalian dengue. Saat itu, tercatat 58 kasus dengan 24 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 41,3%. Seiring dengan meningkatnya kemampuan diagnosis, penanganan kasus, dan berbagai upaya pengendalian, angka kematian akibat dengue telah menurun hingga berada di bawah 1%.
Namun, bukan berarti berarti ancaman dengue telah berakhir. Beban dengue tidak hanya terlihat dari jumlah kasus dan kematian. Studi Burden of Disease yang dilakukan Universitas Gadjah Mada memperkirakan terdapat lebih dari 2 juta rawat inap akibat dengue di Indonesia pada 2024, dengan beban ekonomi yang mencapai hampir Rp 9 triliun. Dampaknya mencakup biaya pengobatan, hilangnya waktu produktif, serta beban dan kekhawatiran yang dirasakan keluarga ketika salah satu anggotanya harus menjalani perawatan.
Selain itu, kasus dengue terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Penularannya pun tidak terbatas pada musim hujan. Ancaman dengue ada sepanjang tahun. Untuk itu, kewaspadaan terhadap dengue dan pencegahannya perlu dilakukan tiap saat.
Menghadapi Dengue: Pencegahan dan Pemantauan
Keluarga, sebagai lingkup terkecil masyarakat, berperan besar dalam pencegahan dengue. "Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan lingkungan di rumah dan tempat beraktivitas, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya, termasuk vaksinasi dengue," papar dr. Gia.
Tentunya, bukan hanya keluarga yang perlu berjaga dalam menghadapi dengue. Fasilitas pelayanan kesehatan pun perlu memiliki kesiapan untuk mengenali tanda bahaya, memantau perkembangan kondisi pasien, serta memberikan penanganan yang tepat dan melakukan rujukan dengan cepat apabila dibutuhkan.
“Tenaga medis di IGD bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat,” ujar dr. Gia. Namun demikian, sesungguhnya kemenangan terbesar terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD. “Pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama," imbuhnya.
Target Nol Kematian pada 2030
Indonesia menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030. Upaya menurunkan kematian akibat dengue perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini, akses terhadap layanan kesehatan, tata laksana kasus yang tepat, hingga sistem rujukan yang cepat. Penguatan surveilans juga diperlukan agar perkembangan kasus dapat dipantau dan respons dapat dilakukan secara lebih tepat.
Upaya pencegahan dalam menghadapi dengue perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pengendalian lingkungan dan vektor, keterlibatan masyarakat, penguatan sistem surveilans dan peringatan dini, serta pemanfaatan berbagai inovasi dalam pencegahan dengue, termasuk Wolbachia dan vaksinasi dengue. Pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga keluarga memiliki peran dalam membangun kesadaran dan memperkuat perlindungan terhadap dengue.
Simon Gallagher, Country Head Malaysia & Indonesia, Takeda, mengingatkan, dampak DBD tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh keluarga yang mendampingi selama proses pengobatan. "DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial. Karena itu, perjalanan menuju nol kematian akibat dengue perlu menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari upaya pencegahan," pungkasnya. (nid)
_____________________________________________
Ilustrasi cover: Canva.com





