Sebagaian besar pasien kanker paru ditemukan pada stadium lanjut, menyebabkan ketahanan hidup pasien rendah. Bila terdeteksi dini peluang keberhasilan pengobatan dan harapan hidup pasien semakin besar.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Indonesia diperkirakan mencatat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru dan sekitar 242 ribu kematian setiap tahunnya. Kanker paru menempati peringkat kedua kanker di Indonesia. Data dari Global Cancer Statistic tahun 2020 menunjukkan bahwa dari 2,2 juta penderita kanker paru, sebanyak 1,8 juta di antaranya meninggal dunia.
Faktor risiko kanker paru terbesar/utama adalah merokok, namun Anda yang bukan perokokpun tetap berisiko menderita kanker ini.
Dr. Linda Masniari, SpP(K), OnkT, FISR, dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, menjelaskan kanker paru 85% disebabkan oleh merokok, dan 15% non-smoker. “Kalau kita perokok pasif, kemungkinan kanker parunya meningkat 20-30%,” katanya.
Namun ada faktor risiko lain selain merokok, yakni lingkungan, termasuk polusi udara. “Peningkatnya satu unit partikulat meter (jumlah partikel polusi atau debu di udara) akan meningkatkan 8% kematian akibat kanker paru,” terang dr. Linda, di sela acara MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Media Hospital Tour, Selasa (1/9/2026).
Demikian pula tinggal di area yang kerap terpapar asap (kendaraan, tungku api dapur, dll), atau wilayah dekat pembuangan sampah, bekerja di pertambangan, pabrik semen atau galangan kapal.
Faktor risiko lain adalah apakah Anda bekas penderita tuberkulosis (TB) atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis, seperti bronchitis).
Tanpa gejala rasa sakit
Salah satu alasan kenapa kanker paru perlu diwaspadai adalah penyakit ini pada stadium awal tidak menimbulkan rasa sakit, atau gejalanya mirip dengan gangguan pernapasan lain.
Minimnya reseptor nyeri di paru membuat pasien tidak merasakan sakit di stadium awal (stadium 1 dan 2). Sehingga biasanya kanker paru ditemukan secara tidak sengaja saat pasien melakukan pemeriksaan untuk penyakit lain, atau saat melakukan cek medis rutin.
“Kalau (tumor) tidak sampai meluas, lebih dari 3 cm, tidak ada keluhan. Kemudian ia tidak membuat fungsi parunya bermasalah jadi masih bisa beraktivitas. Ini membuat pasien tidak merasa ia sakit,” dr. Linda menerangkan.
Selain itu, gejala kanker paru pun mirip dengan penyakit paru lain, terutama penyakit TB, misalnya batuk, sesak napas, nyeri dada atau batuk berdarah.
Skrining dan deteksi dini
Survei yang dr. Linda lakukan mendapati, dari 600 orang sehat yang berkunjung ke RS MRSCCC, sepertiganya berisiko kanker paru. Di sinilah pentingnya deteksi dini.
Seseorang yang ditemukan menderita kanker paru stadium lanjut, kemungkinan 5 tahun masa tahan hidupnya kurang dari 1%. Sementara bila terdeteksi di stadium 1, masa tahan hidup dalam 5 tahun 92%.
“Kita buat program skrining dan deteksi dini. Skrining itu bila tidak ada gejala tetapi sudah masuk kelompok risiko, misalnya usia di atas 40 tahun, ada riwayat merokok, perokok aktif/pasif, ada riwayat kanker paru di keluarga yang membuatnya secara genetik 2 kali lipat lebih berisiko terjadinya kanker.”
“Dari situ dilihat masuk risiko ringan, sedang, berat. Kalau risiko ringan biasanya foto thorax (rontgen dada) biasa, jika hasilnya normal, setahun atau dua tahun sekali foto lagi. Tapi kalau berisiko sedang langsung low-dose CT scan, bila hasilnya tidak ada apa-apa pasien akan diobservasi. Sementara jika ada kanker paru, akan kita ukur di bawah 3 cm (disebut nodul) atau > 3 cm (tumor),” urai dr. Linda.
Seseorang yang sedang atau bekas TB juga disarankan melakukan rontgen dada tiap tahun.
Anda bisa menilai faktor risiko menderita kanker paru dengan menilai beberapa hal berikut:
- Apakah berusia > 45 tahun?
- Apakah merupakan perokok aktif (masih merokok dalam kurun 1 tahun terakhir)?
- Apakah Anda perokok pasif (tidak merokok namun terpapar asap rokok di rumah/tempat kerja)?
- Apakah bekas perokok (berhenti merokok sejak <15 tahun lalu)?
- Apakah ada keluarga (ayah, ibu, saudara kandung, sepupu) yang sedang atau pernah menderita kanker?
- Apakah sedang atau pernah bekerja di lingkungan yang terpapar karsinogen tinggi (rumah di pinggir jalan raya, dekat pabrik, sekitar area pembuangan sampah) lebih dari 5 tahun?
- Apakah rumah Anda tidak sehat (atap terbuat dari asbes, tidak ada ventilasi, lantai tanah tanpa ubin)?
- Apakah sedang atau pernah menderita TB atau PPOK?
Jika ditemukan tiga atau lebih faktor risiko, tetapi tidak/belum ada gejala respirasi (batuk, sesak napas, nyeri dada) dianjurkan untuk menemui dokter spesialis paru untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika ditemukan tiga atau lebih faktor risiko dan ada gejala respirasi, dianjurkan konsultasi ke dokter spesialis paru untuk melakukan deteksi dini kanker paru. (jie)
Baca juga: Deteksi Kanker Paru dengan Form Naru dan Low-Dose CT Scan





