kejang epilepsi kambuh walau sudah minum obat
kejang epilepsi kambuh walau sudah minum obat

Kejang Epilepsi Sering Kambuh, Padalah Sudah Minum Obat, Ini Alasannya

Pengobatan epilepsi bersifat jangka panjang, karena pasien kerap mengalami kekambuhan. Pada beberapa pasien kekambuhan tetap terjadi walau sudah minum obat. 

Epilepsi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan manajemen multidisiplin dan terapi jangka panjang. Prevalensi epilepsi di Indonesia diperkirakan mencapai 0,5 – 0,6% dari total penduduk, atau sekitar 1,5 juta jiwa. 

Epilepsi adalah gangguan neurologis yang ditandai oleh abnormalitas aktivitas listrik otak. Memicu berbagai gejala, seperti kejang, gerakan tubuh yang tidak terkendali, perubahan perilaku dan gangguan kesadaran – ada yang disebut epilepsi absence, di mana pasien mengalami gejala bengong selama beberapa saat.

Dr. apt. Lusy Noviani, MM, trainer, praktisi, sekaligus dosen di FKIK Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, menjelaskan banyak pasien yang mengeluhkan: masih sering kejang padahal sudah minum obat. 

“Kira-kira apa yang terjadi? Bisa karena minum obat tidak teratur, tidak patuh minum obat, atau minum obatnya sudah ok, tetapi ada faktor lain seperti stres atau kecapekan,” ujarnya kepada OTC Digest. 

Setidaknya ada tiga sebab utama kekambuhan terjadi padalah sudah minum obat, yakni: 

  1. Durasi penggunaan obat anti epilepsi (OAE / OAB [Obat Anti Bangkitan]). Banyak pasien tidak patuh terhadap lama penggunaan obat. Bila kejang tidak muncul, mereka stop obat.
  2. Penggantian merek obat. Tak jarang pasien/nakes mengganti merek obat selama terapi berlangsung, yang berdampak pada optimalisasi terapi.
  3. Efektivitas & efek samping. Pasien terkadang menghentikan pengobatan karena merasa sudah sembuh atau tidak tahan efek samping obat, tanpa konsultasi dokter / apoteker. 

“Hati-hati jika ganti merek obat. Pada sebagian pasien, terutama yang belum stabil dan bebas kejang, pergantian merek dapat memicu kejang kambuh, peningkatan kunjugan IGD dan rawat inap,” apt. Lusy menjabarkan. 

OAB tidak bisa sembarangan diganti, biasanya ke obat generik yang memiliki kandungan sama, karena tiap merek memiliki farmakokinetik dan farmakogenetik yang berbeda. 

Studi menunjukkan pada mayoritas pasien epilepsi yang sebelumnya stabil, penggantian OAB dari paten ke generik menyebabkan penurunan kadar serum obat (dalam darah), dan terjadi serangan kembali. Setelah dikembalikan ke obat awal, kadar obat mendekati baseline dan kontrol kejang tercapai kembali. 

Obat bekerja perlu waktu

Setiap pasien perlu memahami bila emberian OAB pertama kali memerlukan waktu untuk mencapai kadar terapeutik. Misalnya, obat golongan asam valproate membutuhkan waktu 1 minggu agar kadarnya stabil dan efektif dalam darah. Sementara golongan fenobarbital perlu 2 minggu.    

Selain itu, apt. Lusy menekankan lama pengobatan untuk tiap jenis epilepsi juga berbeda. “Pada epilepsi umum (tonik-klonik dan absence) perlu 2 tahun untuk bebas kejang. Jika pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi) menunjukkan masih ada kelainan, pengobatan dilanjutkan hingga 3 tahun,” katanya. 

Untuk epilepsi fokal atau fokal umum, pengobatan memerlukan waktu sekitar 3 tahun. 

Baca: Membedakan Kejang dan Epilepsi: Prinsip Pengobatan Epilepsi

 “Sangat penting untuk monitoring. Obat-obat yang diberikan biasanya untuk mengontrol bangkitan (serangan), bukan untuk menyembuhkan total. Yang bisa dilakukan adalah mengontrol kejadian bangkitan (frekuensi, hingga durasi tiap serangan). Karena setiap kejadian serangan akan memperburuk kerusakan di otak,” tambah dr. Ruth Rachmawati, medical affairs PT. Abbott Indonesia.

Frekuensi dan berapa lama interval kejang akan memengaruhi penentuan OAB, apakah 1 atau 2 jenis OAB, juga bagaimana proyeksi penyakit jangka panjang.  

Obat lini pertama broad spectrum

Dari banyak OAB yang beredar, ada obat yang bersifat broad spectrum, sehingga cocok untuk berbagai macam tipe kejang. Salahnya dari golongan asam valproate.

Ada beberapa molekul pada OAB. “Yang sering digunakan untuk lini pertama adalah asam valproate,fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin. Ternyata valproate bisa untuk berbagai macam kejang. Hal ini mempermudah, baik untuk anak hingga lansia, bisa mengunakan obat ini,” ujar dr. Ruth. 

Prinsip pengobatan epilepsi adalah sebisa mungkin menggunakan obat tunggal, dengan dosis sekecil mungkin, karena pengobatan tiap hari dan jangka panjang. Butuh pengaturan dosis sampai didapatkan dosis yang tepat. 

“Dosis kecil dan monoterapi diharapkan sudah membarikan keadaan bebas kejang. (Sekali lagi) bukan menyembuhkan, tetapi mengontrol serangan kejang,” tukas dr. Ruth, sembari menekankan perlunya monitoring dalam satu bulan ada berapa kali terjadi kejang dan berapa lama. 

Pasien epilepsi tetap memiliki kemungkinan penghentian terapi, saat kejang terkontrol. Dilakukan penurunan dosis (tapering off) bertahap dalam waktu 2-3 bulan. Bila pasien mendapatkan lebih dari 1 obat, tapering offdilakukan satu per satu. 

“Epilepsi dapat dikontrol dengan baik bila terapi dipilih sesuai tipe, diminum rutin dan konsisten, serta dimonitor secara berkelanjutan – bukan hanya dinilai dari ‘tidak kejang’, tetapi dari keamanan, tolerabilitas dan kualitas hidup pasien,” pungkas apt. Lusy. (jie)