Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease / IBD) kerap kali menyebabkan kram perut, nyeri, kembung, sembelit, bahkan diare. Kondisi ini bisa kambuh sewaktu-waktu. Banyak pandangan yang dipercaya masyarakat, yang sayangnya adalah mitos.
IBD adalah peradangan saluran cerna, berkaitan dengan penyimpangan respons imun terhadap mikrobiota usus. Ada dua tipe radang usus, yakni kolitis useratif (radang di usus besar) dan penyakit Crohn (radang bisa terjadi di sepanjang saluran cerna).
Sejauh ini, penyebab IBD belum diketahui. Satu atau kombinasi beberapa faktor, memicu sistem imun tubuh memroduksi reaksi radang di saluran cerna yang berlanjut tanpa kontrol. Akibatnya, dinding usus rusak.
Ada banyak misinformasi yang beredar di masyarakat terkait penyakit radang usus. Ini membuat masyarakat melakukan pengobatan/perawatan yang salah. Beberapa di antaranya adalah:
1. IBD sama dengan IBS
IBD dan sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome /IBS) keduanya menyerang pencernaan, memiliki kemiripan gejala yang memicu kebingungan.
Dr. Abhik Bhattacharya, assistant professor dari divisi gastroenterologi di Icahn School of Medicine, Mount Sinai, New York (AS), menjelaskan, pada IBS terjadi gangguan komunikasi antara otak dan usus.
“Memicu diare, konstipasi, atau keduanya. Dibarengi dengan kembung dan nyeri perut. Ini bisa diperburuk atau dipicu stres dan kecemasan,” ujarnya, melansir Medical News Today.
Sebaliknya, IBD adalah penyakit yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang tidak teratur, di mana sistem imun menyerang sistem pencernaan kita sendiri, menyebabkan kerusakan.
“Penyakit ini bisa memicu stres, memperburuk kecemasan, depresi dan gangguan tidur,” katanya. “Gejalanya bisa meliput BAB berdarah, diare, sakit perut parah, penurunan berat badan tanpa disengaja, demam, menggigil, nyeri dubur, kelelahan, dan banyak lagi.”
2. Stres penyebab radang usus
Penyakit radang usus dipicu oleh abnormalitas sistem imun, stres bukanlah penyebab langsung/utama. Namun, stres bisa memicu kekambuhan IBD dan memperburuk gejalanya.
3. Radang usus berkaitan dengan tipe kepribadian
Sebuah jurnal lawas menjelaskan hubungan antara tipe kepribadian dengan IBD. Namun dr. Bhattacharya berpendapat, “Tidak ada hubungan yang kami ketahui.”
4. Anda bisa menderita penyakit Crohn dan kolitis ulseratif sekaligus
Penyakit Crohn dan kolitis ulseratif adalah dua bentuk IBD yang paling umum. Namun keduanya adalah kondisi yang berbeda, dan seseorang tidak dapat menderita keduanya secara bersamaan.
“Anda bisa menderita penyakit Crohn atau kolitis ulseratif,” tukas dr. Bhattacharya. “Namun pada sebagian kecil pasien, sulit menentukan apakah mereka menderita penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.”
5. Tidak ada obat untuk radang usus
Ini tidak benar. “Ada banyak pengobatan yang efektif untuk IBD. Tergantung pada jenis penyakit dan keparahannya, kita memiliki banyak pilihan pengobatan medis,” terang dr. Bhattacharya.
Baca: 3 Terapi Ini Membantu Kurangi Keparahan Radang Usus
6. Setiap pasien radang usus membutuhkan operasi
“Tidak. Tidak semua orang membutuhkan operasi,” tegas dr. Bhattacharya.
Di masa lalu sebagian besar penderita IBD akan menjalani operasi. “Namun, dengan munculnya obat-obatany imunosupresan yang efektif dan aman, angka operasi menurun signifikan selama 20 tahun terakhir,” imbuhnya.
Tujuan pengobatan, lanjutnya, adalah untuk mencegah operasi akibat komplikasi kerusakan usus. Ia menyarankan pengobatan sedini mungkin untuk mencegah kerusakan, sehingga menghilangkan kebutuhan akan operasi.
7. Pengobatan berhenti jika gejala hilang
Setelah obat mulai menunjukkan khasiatnya, dan gejala hilang, mungkin timbul keinginan untuk menghentikan pengobatan. Namun, ini bukanlah yang direkomendasikan dokter.
“Hingga saat ini, kami belum memiliki cara terbaik untuk menghentikan pengobatan bagi pasien IBD yang sedang dalam fase remisi. Kami tidak merekomendasikan penghentian pengobatan,” dr. Bhattacharyan menjelaskan.
Menghentikan pengobatan dapat memiliki konsekuensi serius. Misalnya, gejalanya mungkin kambuh, dan jika orang tersebut memulai kembali pengobatan yang sama, pengobatan tersebut mungkin tidak akan berhasil.
8. Diet bebas gluten menyembuhkan IBD
Diet bebas gluten bermanfaat bagi penderita penyakit celiac atau mereka yang sensitif pada gluten, tetapi tidak bermanfaat bagi penderita radang usus.
9. Penyakit ini bisa sembuh 100%
Hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit ini. Para peneliti masih berusaha memahami kondisi ini agar bisa merancang pengobatan yang lebih baik, atau bahkan suatu hari, obat yang menyembuhkannya.
10. Penderita IBD tidak bisa hidup normal
Ini adalah mitos. “Mereka sangat bisa hidup normal,” tegas dr. Bhattacharyan. “Dengan pengobatan yang benar – sebagian mungkin perlu operasi, pasien IBD bisa memiliki kehidupan yang normal.” (jie)





