Kisah Ani Noor Isfiani – Roller Coaster Pengobatan Kanker
ani_noor_isfiani

Kisah Ani Noor Isfiani – Roller Coaster Pengobatan Kanker

“Nanti Mama akan gundul?” begitu tanya salah satu anak Ani Noor Isfiani, SE, Ak, MM, CPEC ketika ia berterus terang kepada ketiga buah hatinya mengenai kanker payudara yang dimilikinya. Ani mengangguk.

“Kita boleh coret-coret kepala Mama?” tanya mereka lagi.

“Oh boleh, silakan,” Ani menjawab dengan senyuman, meski dalam hati ia pun takut, cemas, dan khawatir. Ia tahu betul, kemoterapi bukan hal yang mudah. Akan ada macam-macam efek samping, yang mungkin jauh lebih berat ketimbang rambut rontok. Namun ia menguatkan hati, demi anak-anaknya.

Keesokan hari, tepat 1 Juli 2014, Ani pun memulai kemoterapi. Seperti telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, kanker Ani stadium 2B, grade 3+, dengan ER/PR+ dan HER2+. Ini berarti, ia harus menjalani 5 macam treatment. “Paket lengkap. Kalau diibaratkan martabak telur, pakai telur bebeknya lima!” ujar Ani.

Roller Coaster Kemoterapi

Pada 6x kemo pertama, ia mendapat 3 macam obat, termasuk 1 obat terapi target untuk menghambat HER2 (trastuzumab). Ketiga obat tadi diberikan melalui infus. Mulai kemoterapi ketujuh hingga selesai, pengobatan hanya dengan terapi target. Bersamaan dengan selesainya kemo 6x, terapi radiasi juga dimulai. “Ketika kemo yang berat, yaitu dengan tiga obat sudah selesai, saya mulai radioterapi,” ujar Ani.

Sebelum mulai kemo, Ani mencukur rambutnya hingga menyisakan 1 cm saja. Usai kemo pertama, “Rambut yang hanya 1 cm itu mulai berguguran. Akhirnya saya cukur habis.” Efek mual, diare, ataupun sembelit juga dirasakannya selama menjalani kemoterapi. Nafsu makan hilang, lidah terasa seperti besi; dingin dan tidak bisa mengecap.

 

Sesi kemoterapi / Foto: Ani Noor Isfiani

Kemo kedua, pembuluh darah di lengan Ani mulai mengeras hingga sulit ditembus jarum untuk memasukkan obat melalui infus. “Akhirnya menjelang kemo ketiga, saya dipasang chemoport di dada. Alhamdulillah setelah dipasang chemoport, proses kemo jadi lebih nyaman,” tutur Ani.

Kemoterapi dengan chemoport / Foto: Ani Noor Isfiani

 

Namun ternyata masih ada “kejutan” yang menantinya. “Saat kemo kelima, tiba-tiba Mama saya merasa sesak, dan wafat di pangkuan saya,” ucap Ani lirih. Ani pun meminta kepada dokter agar kemo ditunda dulu. Mental Ani betul-betul drop. “Saya kehilangan supporter terbesar saya, yang mendampingi saya selama sakit sejak kemo pertama. Itu adalah momen terberat kedua,” kenang Ani.

Sempat ia kehilangan semangat untuk melanjutkan pengobatan, dan ingin menyerah saja. “Tapi akhirnya saya berpikir, masih ada tiga anak yang harus saya damping. Saya juga masih punya bapak, Lovepink, dan semua sahabat yang selalu mendukung saya,” tuturnya. Setelah seminggu bersedih dan down, Ani kembali bersemangat untuk melanjutkan pengobatan.

Baca juga: Manfaat Probiotik untuk Mencegah Kanker Payudara

Perjuangan selama kemoterapi memang seperti naik roller-coaster: naik turun. Selain efek samping yang telah disebutkan, masih ada efek lain yang dirasakan oleh Ani. “Sempat mengalami vertigo berat dan sakit kepala, sampai hampir tidak bisa membuka mata selama empat hari,” ujarnya. Pernah pula tubuhnya terasa demikian gatal dan panas; demam tinggi sampai menggigil; infeksi saluran kemih (ISK) berdarah, dan leukosit (sel darah putih) drop hingga <1.000/mcL, padahal pada orang dewasa, normalnya yaitu 3.500 – 10.000 sel/mcL darah.

Tak ayal, Ani sampai 2-3 kali dirawat di UGD. Efek yang paling berat yaitu aritmia atau denyut jantung tidak beraturan, sebagai efek samping dari obat terapi target trastuzumab. “Efek samping ini hanya dialami oleh <1% penyintas yang menjalani terapi dengan trastuzumab. Qadarullah saya termasuk yang 1% itu,” ucap Ani. Suatu kali sepulang berbelanja dari sebuah pasar swalayan, Ani pingsan di mobil gara-gara aritmia, hingga harus dirawat beberapa hari di UGD.

Lanjut Radioterapi

Selesai 6x kemoterapi, pengobatan dilanjutkan dengan radioterapi, di samping terapi target dengan trastuzumab. Radioterapi dilakukan selama 30x, setiap Senin – Jumat. Jadi kurang lebih, radioterapi berlangsung selama 1,5 bulan. Akhirnya, radioterapi selesai pada akhir Desember 2014.

Pengobatan dengan radioterapi juga bukannya tanpa efek samping. “Ketiak sempat luka sampai kulitnya terkelupas dan berdarah,” ujar Ani. Menurut Ani, ini karena ia ‘bandel’. Radioterapi difokuskan untuk membasmi sisa-sisal sel kanker di area payudara dan ketiak. Nah sebelum dan setelah radioterapi, area tersebut harus dijaga tetap kering, karena radioterapi menimbulkan panas pada kulit. Bila areanya basah, akan mudah terjadi iritasi dan luka.

“Sehabis radiasi, saya suka cari makan di pinggir jalan yang tidak ada AC. Jadi berkeringat,” Ani tertawa mengingat “kenakalannya”. Ini yang menimbulkan luka pada area ketiaknya.

Selama menjalani radioterapi, juga disarankan memakai baju dengan bahan yang lembut, dan tidak ketat agar mengurangi gesekan kain pada kulit. juga sebaiknya tidak masak, untuk menghindari panas dari kompor saat memasak. “Saya sih tidak masak, dan selalu pakai baju longgar. Tapi ya itu, keringatan karena makan di pinggir jalan,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga: Jangan Takut Radioterapi

Untuk mengatasi luka tersebut, Ani berusaha mengeringkan area tersebut bila berkeringat, dan mengipasinya. Dokter juga memberinya salep. Repotnya lagi, selama menjalani radioterapi tidak boleh mandi dan membasahi area yang jadi target radiasi. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya, di udara Jakarta yang demikian gerah. “Jadi bersih-bersih hanya area inggang ke bawah, dan cuci muka,” imbuh Ani.

Hasil PET scan Ani menunjukkan 1 titik kanker di sekitar leher, sehingga radioterapi juga mencakup leher. “Biar tenggorokan tidak kering, saya selalu minum satu sendok makan madu sebelum mulai radioterapi,” lanjutnya.

Di balik segala duka selama menjalani pengobatan kanker, Ani menemukan anugrah. Ia justru merasa, kanker membuatnya menjadi orang yang lebih baik. ia juga sangat bersyukur memiliki support system yang luar biasa, termasuk dari Lovepink, organisasi nirlaba yang fokus pada kanker payudara. Ia bahkan lulus “S4”. Seperti apa cerita bahagia Ani selama pengobatan kanker? Nantikan di artikel berikutnya. (nid)