Alergi susu sapi (ASS) merupakan salah satu kondisi alergi yang sering dialami anak dan perlu dikenali sejak dini. Diet Ibu dan bayi (setelah masuk MPASI) mempengaruhi munculnya gejala alergi.
Berdasarkan studi dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi global alergi susu sapi berkisar antara 2 - 7,5%. Sementara di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadiannya hingga 7,5%.
Alergi susu sapi memiliki tingkat gejala yang berbeda pada setiap anak, mulai dari ringan, sedang hingga berat. Tergantung pada jenis dan intensitas gejala serta respons tubuh terhadap protein susu sapi.
Gejala alergi susu sapi sering kali menyerupai kondisi umum lainnya, seperti ruam kulit, gangguan pencernaan, atau perubahan perilaku anak setelah mengonsumsi susu, sehingga kerap tidak disadari sejak dini.
Kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan anak, termasuk terganggunya asupan nutrisi dan kualitas tidur akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Jika tidak terdiagnosis dan ditangani dengan tepat, dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.
Dr. Molly Dumakuri Oktarina, SpA, Subsp. A.I (K), menjelaskan “Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi susu sapi, namun ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan.”
Pola makan perlu diperhatikan pada anak yang berisiko tinggi menderita alergi susu sapi. Sebagai informasi, risiko alergi susu sapi dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti faktor genetik (risiko antara 20-30% jika ayah atau ibu saja yang alergi dan 40-60% bila kedua orangtua alergi), sistem pencernaan bayi yang belum matang, paparan terhadap alergen terlalu dini, hingga riwayat persalinan caesar.
Untuk anak berisiko alergi susu sapi, dr. Molly menekankan, ASI tetap menjadi makanan terbaik untuk pencegahan alergi. “ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang. Sudah mengandung karbohidrat, lemak, protein, mikronutrien (vitamin dan mineral), semuanya sudah lengkap.”
“Di dalam ASI juga mengandung mikrobiota baik (probiotik), yang terbukti bisa mencegah gejala alergi pada anak. ASI juga banyak mengandung HMO (human milk oligosaccharides) yang bersifat sebagai prebiotik, makanan khusus bagi probiotik. Selain itu juga sudah mengandung antibodi.”
Pada bayi/anak sudah besar tidak dilakukan restriksi (pembatasan) diet apapun, termasuk pada makanan yang biasa memicu alergi: susu sapi dan produk turunannya. Berikan makanan apapun yang dibutuhkan. Bila orangtua curiga anak mengalami alergi bisa dihentikan sementara (dibuktikan melalui pemeriksaan).
“Selama tidak terbukti mengalami gejala alergi, jangan pantang makanan. Selama ini banyak yang tidak boleh makan ini itu, tidak boleh makan segala macam. Pertumbuhan anak malah tidak optimal, jadi gizi kurang. Padahal tidak (belum tentu) alergi,” urai dr. Molly dalam acara inisiatif SADAR (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) Alergi, yang dihelat oleh Sarihusada, di Jakarta (11/7/2026).
Selain itu, berbagai studi membuktikan pemberian probiotik pada ibu selama mengandung dan pada bayi risiko tinggi alergi di atas 6 bulan efektif menurunkan risiko bayi menderita ASS.
Baca: Pemberian Probiotik Dapat Mencegah Alergi Pada Anak
Susu khusus alergi, perlu?
Selewat 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan pendamping ASI (MPASI). Jika makanan padat sudah mencukupi kebutuhan, maka susu formula tidak lagi menjadi sumber gizi utama.
Pemberian susu dan jenisnya disesuaikan diagnosis terakhir, apakah masih alergi ataukah sudah toleran. Bila bayi masih alergi, maka pilihannya yaitu formula hidrolisat ekstensif (untuk alergi ringan-sedang), formula asam amino (untuk alegi berat), atau isolat kedelai (soya) sebagai alternatif pada alergi ringan-sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan formula hidrolisat.
“Susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi. Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga,” dr. Molly.
Berdasarkan beberapa studi, formula terhidrolisa ekstensif (eHF), khususnya berbasis protein whey, diketahui memiliki tingkat toleransi yang tinggi serta rasa yang lebih dapat diterima, sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak.
Sementara itu, formula berbasis asam amino (AAF) ditemukan dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Selain itu, formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan nutrisi penting seperti omega 3&6, AA:DHA, minyak ikan tuna, zat besi dan vitamin C tetap terpenuhi untuk tumbuh kembang optimal. (jie)
Baca juga: Alergi Susu Sapi Meningkatkan Risiko Stunting, Bagaimana Cara Mencegahnya?





