Anemia Walau Sudah Makan Sehat? Jangan-Jangan Ada Luka Di Usus

Anemia Walau Sudah Makan Sehat? Jangan-Jangan Ada Luka Di Usus

Anemia menjadi masalah darah paling umum dialami di seluruh dunia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan sebanyak 22,7% perempuan usia 13 – 49 tahun, dan 37,1% ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Survei terbaru menyatakan hampir 23% (sekitar 4,8 juta) remaja putri di Indonesia mengalami anemia.

Anemia adalah suatu kondisi yang berkembang saat tubuh tidak mendapat cukup sel darah merah atau hemoglobin. Bisa pula karena ketidaknormalan bentuk atau produksi sel darah merah sehingga tubuh tidak mendapat cukup oksigen.

Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen dari paru-paru dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh. Ia juga akan mengikat karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru.

“Anemia menyebabkan seseorang cepat lelah dan turun konsentrasi karena kurangnya oksigen pada jaringan tubuh, termasuk otak. Ini mengurangi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Berdampak pada produktivitas,” papar dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI). 

Riset yang dilakukan Sampoerna tahun 2004 menyebutkan anemia berkontribusi pada menurunnya produktivitas kerja sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam per minggu.

Gejala umum anemia yang menggambarkan kondisi kekurangan oksigen di seluruh tubuh adalah 5 L : letih, lesu, lemah, lalai dan lelah.

“Gejala yang lebih spesifik ditandai dengan sakit kepala sampai kepala seperti berputar, mata berkunang-kunang. Pada keadaan lebih berat, mata, bibir, kulit bahkan kuku tampak pucat,” papar dr. Anie.

Umumnya anemia disebabkan oleh kurangnya asupan makanan tinggi zat besi (Fe), seperti daging merah, unggas atau ikan. Sumber zat besi dari tumbuhan seperti bayam, kangkung atau brokoli lebih sulit diserap tubuh, dibanding sumber hewani.     

Namun yang perlu diwaspadai adalah penyebab lain anemia yang ‘tersembunyi’, yakni adanya luka/tukak di usus atau lambung.

Luka di usus

Munculnya luka seperti bisul di usus terjadi ketika mukosa (lapisan selaput lendir) yang tebal di sepanjang saluran cerna – berfungsi untuk melindungi dari asam lambung – berkurang. Kondisi ini memungkinkan asam lambung mengiritasi dinding usus, menyebabkan luka.

Luka usus ini biasanya sulit terdeteksi, karena pada sebagian besar orang tidak menimbulkan gejala. Luka yang disertai perdarahan ringan lambat laun akan menyebabkan anemia.

Tetapi bila disertai gejala, tanda-tanda yang muncul berupa nyeri di perut atas yang bertambah parah setelah makan atau ketika perut kosong (seperti sakit maag). Kadang disertai mual, muntah, merasa kenyang atau kembung.

Bila luka di usus sampai menyebabkan perdarahan yang lebih banyak, biasanya akan terlihat saat BAB (buang air besar). Feses menjadi berwarna gelap dan lengket, atau berwarna merah tua. Kondisi ini bisa berbahaya karena mengakibatkan kehilangan darah dalam jumlah besar, harus segera mendapatkan perawatan.

Penyebab

Luka di usus atau lambung ini bisa disebabkan oleh penyakit maag, atau infeksi bakteri Helicobacter pylori. Pemicu lainnya adalah pemakaian obat anti-inflamasi non steroid (OANS), seperti aspirin, ibuprofen atau naproxen dalam jangka waktu lama.

Kondisi yang disebut sindrom Zollinger-Ellison juga bisa menyebabkan luka lambung dengan meningkatkan produksi asam lambung.

Terapi

Perawatan akan bervariasi tergantung pada penyebab luka. Sebagian besar luka bisa diobati, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi operasi mungkin diperlukan.

Jika luka di usus / lambung disebabkan bakteri H. pylori, dokter akan meresepkan antibiotik dan obat proton pump inhibitor (PPIs) yang bekerja memblokir sel-sel perut untuk menghasilkan asam.

Konsumsi probiotik (bakteri baik) diketahui juga bisa membantu penyembuhan luka usus, karena bakteri probiotik membantu melawan H.pylori. (jie)