Penting: Perlindungan Terhadap Dengue saat Anak Kembali Bersekolah
perlindungan_terhadap_dengue

Penting: Perlindungan Terhadap Dengue saat Anak Kembali Bersekolah

Seragam, tas, sepatu, buku pelajaran. Hal-hal ini selalu kita siapkan untuk anak menjelang tahun ajaran baru. Namun, ada satu hal yang kadang luput dari perhatian, padahal sangat penting: perlindungan terhadap dengue atau demam berdarah dengue (DBD).

Masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya menjadi ancaman saat musim hujan. Padahal, risiko penularannya berlangsung sepanjang tahun. "DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat,” ungkap dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten.

Ia melanjutkan, pada musim kemarau pun, tempat-tempat yang bisa menampung air tetap berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. “Terutama jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," ujarnya, dalam sebuah diskusi di Jakarta (31/07/2026).

dr. Ikhsanuddin Qothi dalam diskusi di Jakarta / Foto: Istimewa

Saat anak kembali belajar di sekolah, risiko tersebut perlu mendapat perhatian lebih. Nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit terutama pada pagi dan sore hari, sehingga paparan dapat terjadi ketika anak belajar di kelas, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, maupun beraktivitas di lingkungan sekitar sekolah.

Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi. Pada 2025, sebanyak 59% kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0–14 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak perlu menjadi bagian penting dalam mendukung proses belajar, tumbuh kembang, dan masa depan mereka.

Pernah Terinfeksi Bukan Berarti Kebal

Pendapat lain yang keliru soal dengue yaitu, orang yang pernah terkena dengue tidak akan terinfeksi kembali. Virus dengue terdiri atas empat serotipe: DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. “Seseorang yang pernah terinfeksi salah satu serotipe masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe lainnya. Bahkan, infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat,” jelas dr. Ikhsan.

Gawatnya, hingga saat ini belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. “Penanganan bertujuan membantu mengatasi gejala, menjaga kondisi pasien, serta mencegah perburukan. Karena itu, deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat sangat penting," imbuh dr. Ikhsan.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk tidak langsung merasa lega ketika demam anak mulai turun. “Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah fase demam, seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, tubuh sangat lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran. Bila gejala tersebut muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya.

DBD tidak hanya berdampak pada kondisi fisik anak, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas belajar anak dan kehidupan keluarga. Anak yang terserang dengue berpotensi absen dari sekolah, tertinggal pelajaran, dan membutuhkan waktu pemulihan meskipun telah dinyatakan sembuh.

Menurut dr. Ikhsan, “Sebagian pasien masih dapat mengalami kelelahan selama beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit.” Selain itu, orang tua juga menghadapi beban tambahan berupa biaya pengobatan, transportasi, serta kehilangan pendapatan karena harus mendampingi anak selama menjalani perawatan.

Perlindungan Terhadap Dengue secara Menyeluruh

Ditegaskan oleh dr. Ikhsan, perlindungan terhadap dengue tidak cukup dilakukan dengan satu cara. Terlebih, risiko penularan dapat terjadi di rumah maupun di sekolah. Berbagai cara perlu ditempuh untuk meminimalkan risiko penularan dengue.

Penerapan 3M Plus tetap perlu dilakukan secara konsisten, di lingkungan rumah maupun sekolah. Mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menampung air, hingga menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. “Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif,” tandasnya.

Ia menambahkan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak serta rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Masyarakat dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak maupun anggota keluarga lainnya memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa perlindungan terhadap dengue membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. “Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kewaspadaan serta memperkuat upaya pencegahan dengue melalui edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan guna mendukung target nasional menuju nol kematian akibat dengue pada 2030,” tuturnya. (nid)

_____________________________________________

Ilustrasi cover: Canva