peran probiotik untuk kesehatan saluran cerna anak

Peranan Probiotik dalam Kesehatan Pencernaan dan Status Nutrisi Anak

Status nutrisi anak berkaitan erat dengan kondisi saluran cernanya. Saluran cerna sebenarnya mirip tabung, yaitu ada bukaan di kedua ujungnya. Hanya saja ukurannya sangat panjang, dan juga sangat kompleks. “Saluran cerna bertugas mencerna makanan dan membuang ampasnya. Juga berinteraksi secara dinamik dengan lingkungan sekitarnya, dan juga berfungsi sebagai pertahanan baik secara fisik, kimiawi, maupun imunologis,” papar Prof. dr. Hari Kusnanto Joseph, Dr.PH, Sp.KKLP dari Kedokteran Keluarga UGM, Yogyakarta.

Secara spesifik, penyerapan makanan terjadi di usus halus. Bila dilihat, epitel permukaan usus tidaklah mulus, melainkan berkelok-kelok dan naik turun. “Tujuannya, agar memperluas kontak dengan lingkungan, dan makin banyak nutrisi yang bisa diserap,” jelas Prof. Hari, dalam webinar kesehatan hasil kerjasama antara OTC Digest, IDI, PERSAGI, Kedokteran Keluarga UGM, dan PT Yakult Indonesia Persada, Sabtu (3/9/2022).

Link Sertifikat Webinar Kesehatan 3 September 2022

Terganggunya kesehatan saluran cerna bisa meningkatkan risiko malnutrisi pada anak. Akibat saluran cerna tidak sehat, penyerapan nutrisi dan metabolisme energi jadi tidak optimal. Imunitas pun ikut terganggu sehingga anak jadi gampang sakit. Akibatnya, tumbuh kembang anak bisa terganggu.

Kesehatan saluran cerna turut dipengaruhi oleh simbiosis mutualistik dengan bakteri komensal usus. “Bakteri komensal bersimbiosis dengan usus untuk mendukung sistem imun seluler, memperkuat lendir atau mukus, dan serta menciptakan barrier kimiawi dan barrier fisik,” tutur Prof. Hari. Bakteri komensal juga berperan menghasilkan beberapa vitamin esensial, SCFA (asam lemak rantai pendek), triptofan, dan lain-lain.

Terganggunya populasi bakteri komensal usus bisa menimbulkan disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus. “Bisa terjadi peradangan, yang akan menimbulkan efek bola salju terhadap kesehatan. “Anak bisa sulit makan atau sulit mencerna makanan, muncul alergi, asma, obesitas, dan seterusnya,” imbuh Prof. Hari.

Intervensi Nutrisi pada Anak Malnutrisi

Malnutrisi bisa berupa kekurangan nutrisi hingga berat badan kurang, atau kelebihan berat badan. Ini adalah beban ganda yang terjadi pada anak-anak di Indonesia. Menurut data dari SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) 2021, angka underweight mencapai 17%, dan overweight 3,8% pada anak usia 0-5 tahun. Gizi kurang/buruk pada anak ditandai dengan wasting, yaitu terjadi penurunan berat badan (BB) yang cepat atau kegagalan menambah berat badan.

Anak dengan wasting lebih berisiko mengalami stunting. “Stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak karena kurang energi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi yang kurang,” terang Luthfianti Diana M, S.Gz, RD, Staf Dietisien Rawat Jalan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo. Adapun overweight maupun obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara aspuan energi dengan keluaran energi.

Penyebab malnutrisi di Indonesia cukup kompleks. Dimulai dari status nutrisi ibu selama hamil dan menyusui, kondisi bayi saat lahir, pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) yang tidak optimal, hingga asupan nutrisi yang kurang baik selama masa kanak-kanak. “Bila tidak diitervensi, ini akan menciptakan lingkaran setan, karena anak perempuan yang malnutrisi berpotensi melahirkan anak yang malnutrisi pula,” ucap Diana.

Dampak malnutrisi pada anak tidak main-main. Selain kondisi fisiknya dan pertumbuhannya terhambat, kecerdasan dan perkembangannya pun ikut terganggu, terutama dalam kasus kekurangan nutrisi.

Intervensi gizi pada anak dilakukan dalam empat tahap. “Dimulai dengan assessment yang meliputi analisis pola makan dan kebiasaan makan anak, serta pemeriksaan fisik dan antropometri,” ujar Diana. Dari hasil penilaian, barulah bisa dilakukan tahap kedua, yaitu diagnosis gizi, baik secara klinis maupun asupannya.

Usai diagnosis, intervensi gizi bisa dimulai. “Tak hanya pemberian makan untuk anak, tapi juga edukasi dan konseling gizi untuk orangtuanya, serta koordinasi asuhan gizi dengan pihak lain,” terang Diana. Langkah keempat yaitu monitoring dan evaluasi gizi; apakah intervensi gizi yang dilakukan telah tercapai.

Intervensi gizi anak bersifat personal. Dihitung kebutuhan gizi anak, lalu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuannya dalam mengasup makanan. Pada anak yang kekurangan gizi, penambahan kalori dilakukan secara bertahap, agar tubuhnya tidak kaget. Jenis intervensinya pun berbeda-beda. “Apakah nutrisi diberikan secara enteral, dengan formula standar atau spesifik? Ataukah anak tidak bisa menerima enteral sehingga harus secara parenteral,” tutur Diana.

Bagaimana intervensi nutrisi untuk anak obes? “Pada usia 0-3 tahun tidak perlu dilakukan pengurangan kalori. Cukup mempertahankan BB dengan mengembalikan pola makan yang benar sesuai usianya,” jelas Diana. Di usia 4-6 tahun bisa dikurangi 200-300 kkal/hari bila anak mengalami gangguan pernapasan atau kesulitan bergerak. Pada usia 7-18 tahun, “Dilakukan pengurangan kalori sebanyak 300-500 kkal dari asupan sehari-hari, dengan target penurunan BB 1-2 kg/bulan.”

Peranan Probiotik

Usus kita bisa diibaratkan seperti akar pohon, yang bertugas menyerap nutrisi. “Bila ada gangguan di usus, tubuh tidak bisa menerima nutrisi secara optimal,” ungkap Prof. Dr. Ir. Endang S. Rahayu, MS. Agar usus sehat, diperlukan kesiembangan mikrobiota usus. Menurut Guru Besar Bidang Mikrobiologi Pangan pada Fakultas Teknologi Pertanian UGM tersebut, cukup banyak penyakit yang berkaitan dengan kondisi disbiosis, termasuk di antaranya malnutrisi.

Hal ini antara lain terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Prof. Trisye dan tim di Yogyakarta (2021). “Terjadi perbedaan komposisi mikrobiota usus. Anak-anak yang kurang nutrisi cenderung mengalami disbiosis. Kadar SCFA pada mereka pun lebih rendah daripada anak normal,” terang Prof. Trisye.

Ia melanjutkan bahwa masalah kurang nutrisi di Yogyakarta tak selalu berkaitan dengan kemiskinan, melainkan kepada pola makan. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak yang gemuk/obes cenderung mengalami disbiosis.

Prof. Trisye menjelaskan, bakteri baik melindungi usus dari serangan patogen, serta menjaga kesehatan sel epitel dan mukosa usus. “Penyerapan nutrisi pun optimal, produksi SCFA meningkat, pertumbuhan dan pembentukan tulang berlangsung dengan baik, sehingga mencegah stunting,” paparnya. Anak pun tidak mudah sakit karena saluran cerna yang sehat mendukung imunitas tubuh menjadi lebih kuat.

Di sisi lain, metabolisme lemak dan kalori berlangsung optimal. “Dengan demikian menurunkan risiko kegemukan, serta memperbaiki profil lipid, gula darah, dan kolesterol,” lanjutnya.

Sebaliknya pada kondisi disbiosis, terjadi peradangan, yang akan mengurangi penyerapan nutrisi dan energi. Risiko stunting pun mengintai. Mukosa usus juga menipis, dan SCFA menurun.

Probiotik berperan mengatasi disbiosis dengan mengembalikan keseimbangan mikrobiota usus. Secara garis besar, ada 3 mekanisme probiotik dalam kesehatan tubuh: proteksi, modulasi sistem imun, dan metabolisme (sintesis SFCA dan vitamin). “Pada mekanisme proteksi, probiotik berkompetisi dengna patogen untuk nutrisi, menciptakan barrier di mukosa usus, serta mencegah kolonisasi patogen,” ujar Prof. Trisye.

Manfaat probiotik dalam kesehatan pencernaan dan status nutrisi anak, antara lain dibuktikan dalam sebuah studi di Vietnam (2021). Penelitian dilakukan pada 1.003 anak usia 3-5 tahun. Mereka secara acak dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok mendapat probiotik berupa susu fermentasi dengan kandungan L. casei Shirota strain, setiap hari selama 12 minggu. Kelompok lain tidak mendapatkan apa-apa. “Hasilnya, konsumsi L. casei Shirota strain efektif mencegah insiden konstipasi, infeksi pernapasan akut, dan diare.” ujar Prof. Trisye.

Penelitian misalnya oleh Dipika Sur (2011) melibatkan 3.758 anak usia 1-5 tahun di area kumuh di India. Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok mendapat L. casei Shirota strain, dan kelompok lain mendapat minuman bernutrisi tanpa kadungan probiotik, selama 12 minggu. “Ditemukan bahwa asupan probiotik setiap hari mampu mencegah diare akut pada anak,” ucap Prof. Trisye.

Pemberian probiotik belum menjadi standar dalam intervensi nutrisi untuk anak dengan malnutrisi. Namun bukti ilmiah menunjukkan hubungan yang erat antara kondisi mikrobiota usus dengan kesehatan saluran cerna dan status nutrisi anak. Probiotik bisa menjadi pendukung dalam intervensi nutrisi, sesuai kondisi anak. (nid)

_________________________________________________

Ilustrasi: https://www.freepik.com/free-photo/children-playing-grass_854912.htm