Obesitas Mengancam selama Pandemi: Kurangi Makan Gorengan

Obesitas Mengancam selama Pandemi: Kurangi Makan Gorengan dan Manis, Periksa Kadar Lemak dalam Tubuh

Dionysius Subali, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Pandemi COVID-19 hampir setahun terakhir telah mengubah gaya hidup masyarakat di seluruh dunia. Salah satunya, kita menjadi kurang bergerak fisik karena lebih banyak beraktivitas di rumah dan mungkin juga lebih banyak ngemil dibanding pada masa sebelum pandemi.

Keadaan ini bakal menjadi “bom waktu” yang akan mempengaruhi kesehatan kita setelah era pandemi.

Meski rajin berolahraga, banyak orang suka mengkonsumsi makanan yang digoreng, tinggi kandungan lemak serta garam, disertai dengan minuman yang manis dan bersoda.

Kelompok makanan dan minuman sejenis ini memiliki kandungan kalori yang tinggi dan umumnya dikonsumsi dalam porsi yang besar agar dapat menimbulkan rasa kenyang. Kebiasaan makan yang tidak sehat ini sangat mudah untuk meningkatkan kadar lemak di dalam tubuh.

Makanan yang terlalu gurih (tinggi garam dan MSG), seperti keripik kentang dan kentang goreng (French fries), membuat orang cenderung mengkonsumsi makanan tersebut secara berlebihan dan terus menerus.

Sebuah riset dari University of North Carolina Amerika Serikat menunjukkan bahwa makanan tinggi lemak yang dikonsumsi terus menerus dapat meningkatkan asupan kalori tubuh secara berlebihan. Hal ini berujung pada obesitas karena terjadi peningkatan lemak tubuh.

Karena itu, untuk mengecek derajat kesehatan seseorang tidak cukup hanya mengukur Indeks Massa Tubuh tapi juga kadar lemak dalam tubuh.

Makan tak sehat berdampak penyakit

Pola makan yang tidak sehat dan ketidaktahuan masyarakat akan pemahaman komposisi tubuh membuat penyakit kanker, jantung, stroke, dan liver menjadi penyakit yang umum menyerang secara mendadak.

Penyakit-penyakit ini seolah-olah mendadak muncul karena tidak menimbulkan gejala awal. Dampaknya, penanganannya sering kali terlambat.

Satu riset di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan adanya peningkatan risiko penyakit diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan sirosis hati tahap akhir, jika membiarkan penumpukkan lemak pada organ dalam tubuh, khususnya hati, yang umum terjadi pada penderita obesitas.

Risiko penyakit ini juga meningkat pada orang-orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Masalahnya, dalam konteks mencegah penyakit-penyakit berbahaya tersebut, wawasan tenaga pendidik, tenaga medis, dan masyarakat masih minim terkait pemahaman nutrisi dan komposisi berat badan manusia.

Umumnya, menjaga nilai Indeks Massa Tubuh (BMI) pada kisaran 20-25 kg per meter persegi sudah dinilai cukup untuk menjadi parameter status kesehatan. Padahal, data BMI ini tidak cukup akurat dalam menjamin seseorang agar dapat terhindar dari berbagai penyakit mematikan seperti stroke, serangan jantung, dan sirosis hati.

Suatu penelitian dari Universitas Cambridge membuktikan adanya penumpukkan lemak tubuh yang tinggi pada sekelompok laki-laki dengan nilai BMI normal. Mereka memiliki nilai BMI 24 kg/m2 (normal) tapi persentase total lemak tubuh mereka beragam mulai dari 7,8% (rendah) hingga 38,3% (sangat tinggi).

Tak cukup hanya BMI

Parameter kesehatan lain yang perlu diukur selain BMI adalah persentase lemak tubuh, yang terbagi atas lemak subkutan dan lemak viseral (visceral).

Lemak subkutan adalah jaringan lemak yang terletak di bawah kulit dan tersebar di seluruh tubuh. Sedangkan lemak viseral adalah jaringan lemak yang menumpuk di antara organ tubuh dalam (gambar perbedaan lemak subkutan dan visceral di bawah).

Komposisi lemak di tubuh. Author provided

Sebuah penelitian dari Universitas di Massachusetts secara jelas menunjukkan tingginya parameter lemak viseral dan total massa lemak dalam tubuh berkorelasi dengan obesitas dan pola makan yang tidak sehat. Lemak visceral yang baik 0-95 cm2, sementara persentase total lemak tubuh yang ideal < 20% untuk laki-laki dan < 30% untuk perempuan.

Penyakit seperti diabetes tipe 2, hipertensi, stroke, dan jantung koroner umum terjadi pada orang dengan tingkat lemak viseral yang tinggi.

Selain itu, masih banyak riset yang telah membuktikan bahaya dari penumpukan lemak viseral yang berlebihan ini. Mulai dari hipertensi, hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi), trigliserida tinggi, diabetes, dan obesitas hingga pembentukkan radikal bebas dalam tubuh sebagai pemicu kanker.

Cek komposisi lemak di tubuh

Kanker hati dan sirosis hati merupakan penyakit mematikan yang tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Ini menjadi salah satu penyakit yang kerap terjadi akibat tingginya lemak viseral tubuh.

Hal itu telah dibuktikan melalui sebuah penelitian di Jepang. Pasien pada stadium akhir penyakit ini sudah sulit disembuhkan dan harus dilakukan tindakan transplantasi hati.

Untuk itu, pengukuran komposisi tubuh manusia menjadi hal yang penting dilakukan saat ini. Alat pengukur komposisi tubuh yang sudah digunakan secara luas menggunakan prinsip konduktor dan isolator dari arus listrik lemah. Arus listrik akan melaju lebih cepat pada komponen tubuh yang larut air seperti protein, mineral, cairan tubuh, dan karbohidrat, namun akan melaju lebih lambat pada lemak tubuh.

Berdasarkan prinsip kerja alat ini, komposisi tubuh manusia, yang terbagi menjadi komponen lemak (lemak viseral dan subkutan) dan komponen bukan lemak, dapat terukur dengan akurat. Lemak viseral yang baik 0-95 cm2 baik untuk laki-laki dan perempuan, persentase total lemak tubuh < 20% untuk laki-laki, dan < 30% untuk perempuan.

Alat Body Composition Analysis, alat untuk mengukur komposisi lemak, ini dapat dibeli secara online dengan harga di bawah Rp 1 juta.

Dengan mengetahui tingkat lemak visceral dan % total lemak tubuh, kita dapat mengatur dan mengubah pola hidup kita menjadi lebih sehat. Misalnya, ketika terukur nilai lemak viseral yang tinggi dalam tubuh (>95 cm2) maka kita dapat memutuskan untuk lebih mengurangi makanan berlemak dan berolahraga. Nilai lemak viseral dan % total lemak tubuh yang selalu terkontrol, dapat membantu kita terhindar dari berbagai risiko penyakit yang mematikan pada masa mendatang.

Pengukuran lemak tubuh juga dapat dilihat secara langsung dengan cara melihat pada cermin bagian tubuh tertentu. Gejala penumpukan lemak berlebih pada laki-laki dapat terlihat jelas pada bagian dada dengan istilah gynecomastia. Bila mulai terlihat pada tubuh Anda, maka program penurunan berat badan harus Anda jalani.

Untuk perempuan, gejala penumpukkan lemak dapat dilihat dengan mengukur lingkar perut dan pinggul sebagai area penumpukkan lemak yang umum terjadi. Perbandingan lingkar perut dan pinggul ini juga dapat menjadi parameter sederhana, yang dapat diukur untuk mengetahui tingkat penumpukkan lemak yang terjadi pada tubuh. Ini merupakan cara mengukur selain dengan menimbang berat badan atau melihat bentuk badan di depan cermin.

Lakukan hal sederhana bisa mengubah hidup Anda

Gaya hidup sehat sudah menjadi keharusan.

Kita harus membiasakan hidup sehat sejak dini agar dapat menikmati masa tua dengan bahagia bersama orang tercinta.

Kita perlu batasi gula, garam, dan lemak, serta mengatur jumlah kalori. Kita harus perhatikan ukuran nutrisi suatu produk pangan dan mengurangi porsi untuk makanan olahan yang digoreng, berlemak, dan manis.

Walau ada pembatasan sosial di luar rumah karena pandemi, kita harus rutin olahraga - minimal 30 menit, 3-4 kali seminggu.

Perbanyak minum air putih agar dapat menahan lapar dan makan berlebihan ditambah dengan istirahat yang cukup 7-8 jam setiap hari.

Dengan memperhatikan hal itu, kita tetap bisa tetap sehat selama pandemi dan setelah wabah global ini berakhir.

The Conversation

Dionysius Subali, Lecturer at the Faculty of Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

___________________________________________

Ilustrasi: Woman photo created by senivpetro - www.freepik.com