pemeriksaan pra-LASIK
pemeriksaan pra-LASIK

Prosedur Sebelum Tindakan LASIK yang Perlu Anda Ketahui

Salah satu tindakan untuk mengoreksi gangguan refraksi mata adalah melalui LASIK. Meski LASIK dikenal memiliki tingkat efektivitas tinggi dan pemulihan yang relatif cepat, tindakan ini tetap perlu diawali dengan konsultasi dokter spesialis mata.  

Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi, seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia) dan mata silinder (astigmatisme), dapat memengaruhi kenyamanan seseorang dalam bekerja, belajar, berkendara, berolahraga, maupun menjalani aktivitas sehari-hari. 

Bagi sebagian orang, kacamata dan lensa kontak memang membantu penglihatan, namun tidak selalu praktis untuk gaya hidup aktif. Kacamata dapat berkabut saat memakai masker, mengganggu saat berolahraga, sementara lensa kontak membutuhkan perawatan rutin dan pada sebagian orang dapat memicu mata kering.

LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis) merupakan prosedur bedah refraktif dengan teknologi laser excimer untuk membentuk kembali kornea, sehingga cahaya dapat difokuskan dengan tepat ke retina. Prosedur ini bertujuan membantu mengurangi atau membebaskan pasien dari ketergantungan pada kacamata maupun lensa kontak. 

Dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K), dari RS Mata JEC @ Menteng, Jakarta, menjelaskan bahwa LASIK tidak hanya berkaitan dengan tajam penglihatan, tetapi juga kenyamanan hidup pasien dalam jangka panjang.

“Bagi banyak orang, kacamata dan lensa kontak memang membantu, tetapi dalam aktivitas tertentu bisa terasa kurang praktis, misalnya saat berolahraga, bepergian, bekerja dalam waktu panjang, atau ketika lensa kontak memicu rasa kering dan tidak nyaman. 

“LASIK adalah salah satu pilihan koreksi refraksi yang dapat membantu pasien melihat lebih jelas dan beraktivitas lebih bebas. Namun, yang terpenting adalah memastikan pasien memahami manfaat, proses, kriteria, serta potensi efek sampingnya melalui konsultasi dan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu,” ujar dr. Devina, kepada OTC Digest.

5 tahap pra-LASIK

LASIK termasuk dalam kategori tindakan minimal invasif (bedah minim sayatan). Prosedur ini tidak melibatkan pembedahan besar atau jahitan, melainkan menggunakan teknologi laser untuk membentuk ulang kornea mata. 

Sebelum tindakan, pasien menjalani pemeriksaan pra-LASIK, yaitu :

  1. Pemeriksaan refraksi untuk mengukur tingkat gangguan penglihatan (minus, plus atau silinder) secara akurat. Serta untuk memastikan kondisi mata stabil dan masih berada dalam batas toleransi koreksi untuk prosedur LASIK. 
  2. Pentacam adalah alat skrining dan pemetaan kornea (topografi/peta kornea) mata secara menyeluruh sebelum LASIK. Pemeriksaan ini bisa mendeteksi adanya gangguan struktur kornea yang berbahaya.  
  3. Biometri untuk mengukur dimensi anatomi mata (kelengkungan kornea dan panjang sumbu bola mata) secara presisi.
  4. Keratograph. Selain untuk memetakan kelengkungan kornea, ia juga dipakai untuk mengevaluasi kualitas air mata, mencegah komplikasi mata kering pascaoperasi.   
  5. Pemeriksaan fundus (oftalmoskopi) dipakai sebagai dasar evaluasi bagian dalam mata secara menyeluruh, terutama retina dan saraf optik. Memastikan tidak ada kelainan/kerusakan retina yang tersembunyi, seperti robekan atau retina lepas.  

Dengan pemeriksaan yang detail, dokter dapat menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang tepat untuk LASIK, sekaligus merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi mata masing-masing pasien.

Dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M (K), dari RS Mata JEC @ Menteng, menegaskan bahwa keberhasilan LASIK modern dimulai dari pemeriksaan yang tepat dan dukungan teknologi yang mumpuni. “LASIK modern membutuhkan perencanaan yang matang. Karena itu, pemeriksaan pra-LASIK menjadi fondasi yang sangat penting untuk menilai apakah pasien merupakan kandidat yang tepat,” katanya. 

Tidak semua bisa 

Secara umum, prosedur LASIK berlangsung sekitar 10-20 menit untuk kedua mata. Tahapan tindakan meliputi pemberian obat tetes anestesi, pembuatan flap (sayatan) tipis pada kornea, penggunaan laser excimer untuk membentuk ulang jaringan kornea sesuai kebutuhan koreksi, kemudian reposisi flap tanpa jahitan karena kornea memiliki daya tempel alami. 

Setelah tindakan, pasien perlu mengikuti instruksi dokter, termasuk menggunakan obat tetes, menjaga kebersihan area mata, menghindari riasan mata sementara waktu, serta menunda aktivitas berat atau berenang selama masa pemulihan awal. 

Perlu dipahami, tidak semua orang otomatis dapat menjalani LASIK. Kandidat ideal umumnya berusia minimal 18-20 tahun, memiliki ukuran kacamata yang stabil setidaknya dalam satu tahun terakhir, memiliki ketebalan kornea yang cukup, tidak memiliki infeksi mata berat, gangguan retina, glaukoma, atau mata kering berat, serta tidak sedang hamil karena perubahan hormonal dapat memengaruhi stabilitas ukuran mata. (jie)