Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2003 menunjukkan, lebih dari 30% orang Indonesia memiliki hipertensi. “Hipertensi sebenarnya mudah didiagnosis, mudah diobati, dan banyak obat antihipertensi yang efektif. Namun, hanya 30% orang yang sadar memiliki hipertensi; hanya 50% yang berobat dan 50% yang mencapai target pengobatan. Inilah paradoks hipertensi,” ungkap Dr. dr. M. Fadil, Sp.JP, Subsp. K.I. (K), FIHA.
Hipertensi harus dikontrol untuk mencegah terjadinya berbagai komplikasi. Misalnya stroke, gagal jantung, sampai gagal ginjal. “Target ideal pengobatan yaitu tekanan darah <130/80 mmHg untuk usia di bawah usia 65, dan <140/90 untuk usia 65 tahun ke atas,” terang Dr. dr. Fadil, dalam Webinar Kefarmasian yang diselenggarakan PT Abbott Indonesia bekerja sama dengan OTC Digest, Rabu (22/4/2026). Kontrol tekanan darah diharapkan tercapai dalam waktu tiga bulan.
Hipertensi tidak bisa hilang/sembuh, tapi bisa dikontrol. Penurunan tekanan darah sistolik 10 mmHg saja sudah bisa menurunkan risiko kematian, penyakit jantung koroner (PJK), stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal. Di samping terapi farmakologi, terapi nonfarmakologi juga diperlukan agar pengobatan mencapai hasil yang optimal. Apoteker perlu mengedukasi pasien untuk melakukan lima terapi nonfarmakologis ini. Yaitu: menurunkan berat badan (BB), restriksi garam, kurangi minyak, aktif bergerak, dan berolahraga 150 menit/minggu.
Calcium Channel Blocker sebagai Obat Antihipertensi
Golongan obat CCB (calcium channel blocker) merupakan salah satu obat yang paling penting dalam tatalaksana hipertensi. Obat yang bekerja sebagai vasodilator kuat ini masih jadi primadona obat antihipertensi di kalangan tenaga medis. Obat ini bekerja dengan mencegah penyerapan kalsium ke dalam sel, lalu menginduksi vasodilatasi pada pembuluh darah koroner dan arteri. CCB juga masih menjadi salah satu obat antihipertensi paling penting dalam konsensus pelaksanaan hipertensi dari INASH 2019.
CCB secara luas dibagi menjadi dua: dihidropirin (DHP) dan non-dihidropirin (non-DHP). Keduanya memiliki mekanisme yang sama, tapi efek yang berbeda pada fungsi jantung. DHP bisa menyebabkan takikardia refleks karena memiliki waktu paruh yang lebih pendek dibandingkan dengan non-DHP. “Dulu, DHP tidak ada yang long-acting; hanya ada short-acting. Diberikan kepada ibu hamil agar tensi cepat turun. DHP sekarang memiliki kerja panjang sehingga efek takikardia bisa dihindari,” paparnya.
CCB non-DHP tidak menimbulkan takikardia, tapi bisa menekan kontraksi jantung, karena memiliki efek untuk menurunkan detak jantung. “Ada beberapa gangguan irama jantung yang tidak bisa diberikan non-DHP,” jelasnya.
Keistimewaan Lercanidipine, CCB Generasi 3
CCB generasi 3 seperti lercanidipine memiliki waktu paruh yang panjang. Lercanidipine bekerja sangat selektif di pembuluh darah saja. “Lercanidipine juga bersifat lipofilik atau mampu berikatan kuat dengan lemak dan terdeposit di sana, lalu dilepaskan pelan-pelan menuju reseptor yang diinginkan, sehingga memiliki efek yang panjang dan cukup diberikan dosis tunggal,” papar Dr. dr. Fadil.
Keistimewaan lain dari lercanidipine yaitu tidak menyebabkan edema kaki. Sebagaimana diketahui, CCB seperti amlodipine bisa memiliki efek samping edema pada kaki. “CCB adalah arteridilator yang kuat; tidak ada mekanisme membuka vena, sehingga pembuluh darah perifer, terutama kaki, bisa melebar. Apalagi bila pasien banyak duduk,” ujarnya.
Menariknya, lercanidipine tidak hanya memiliki efek dilatasi pada arteri, tetapi juga pada vena. “Daya tampung pembuluh vena lebih besar dari kapiler sehingga bisa bersifat sebagai reservoir. Dengan terjadinya dilatasi pada vena, cairan pada area kaki bisa masuk ke vena sehingga tidak terjadi edema,” jelasnya.
Penelitian oleh Borghi C, dkk (Blood Press Suppl. 2003) menemukan bahwa insiden edema pada pasien yang diberikan lercandipine, lebih sedikit dibandingkan kelompok pasien yang diberikan amlodipine dan CCB konvensional lainnya. “Pasien dengan CCB konvensional yang mengalami edema kaki dan kepala berat, bisa berkurang keluhannya bila obat diganti dengan lercanidipine,” imbuhnya.
Kepatuhan Pasien dan Keberhasilan Terapi
Pengobatan hipertensi perlu mempertimbangkan kenyamanan pasien, karena obat diminum seumur hidup. Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh keteraturan terapi, yang berpangkal pada kepatuhan pasien. “Kalau efek obat dirasakan tidak nyaman oleh pasien, mereka malas minum obat sehingga pengobatan optimal tidak tercapai,” ungkap Apt. Bella Maulidya, Brand Manager Cardiovascular PT Abbott Indonesia.
Dosis obat yang lebih sedikit (1x sehari) juga turut meningkatkan kepatuhan pasien. antihipertensi yang cukup dikonsumsi sekali sehari, akan memudahkan pasien untuk minum obat rutin dan kontinyu. Terlebih bila pasien memiliki penyakit-penyakit kronis lainnya, yang membuatnya perlu mengonsumsi banyak obat dalam sehari. Obat
Lercanidipine sebagai CCB generasi 3 memiliki waktu paruh yang lebih panjang. Mampu mengontrol tekanan darah selama 24 jam, sehingga cukup dikonsumsi satu kali sehari. “Ia bekerja secara selektif di pembuluh darah dan berikatan kuat di membran sel, lalu berdifusi memasuki kanal kalsium secara bertahap,” ujar Bella.
Lebih jauh ia menjelaskan, lercanidipin bekerja di membran, bukan di plasma, sehingga pelepasannya lebih smooth. “Jadi lebih stabil dalam mengontrol tekanan darah, tidak ada lonjakan atau drop yang tiba-tiba. Penurunan tensi yang mendadak bisa berefek negatif pada pasien,” jelas Bella.
Kelebihan lain yang dimiliki lercanidipin tapi tidak dimiliki CCB lain yaitu efek samping yang minimal pada pembengkakan kaki, sebagaimana telah disebutkan oleh Dr. dr. Fadil. “Lercanidipine bekerja menghambat dua kanal CCB, yaitu L-type dan T-type, menyebabkan vasodilatasi pada arteriol pre- dan post-kapiler sehingga menurunkan tekanan kapiler dan kejadian ankle edema,” paparnya.
Pemberian obat antihipertensi tentu saja harus dengan resep dokter. Apoteker berperan sebagai edukator bagi pasien, serta untuk memastikan pasien mendapat terapi yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Juga sebagai pengawas untuk memonitor dosis, efek samping obat, serta cara mengonsumsi obat.
Selain itu juga melakukan edukasi terkait perbaikan gaya hidup, untuk menunjang pengobatan. “Apoteker adalah mitra kolaborasi. Tujuan terapi hipertensi yaitu mengontrol tekanan darah secara berkelanjutan, untuk mencegah komplikasi dengan tetap mempertahankan kualitas hidup pasien,” pungkas Bella. (nid)
_____________________________________________





