Mampukah Vaksin Melindungi dari Varian Baru COVID-19
vaksin_varian_baru_COVID-19

Mutasi Virus itu Biasa, Mampukah Vaksin Melindungi dari Varian Baru COVID-19?

SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi COVID-19 hampir 1,5 tahun lalu diketahui telah bermutasi, dan menciptakan varian baru. Dilansir dari WHO, setidaknya ada 4 varian SARS-CoV-2 yang diberi label variants of concern (VoC) alias mengkhawatirkan. Yakni varian B.1.1.7 (Inggris), B.1.351 (Afrika Selatan), B.1.617 (India), dan P1 (Brasil). Kecuali varian asal Brasil, ketiga varian baru COVID-19 sudah ditemukan di Tanah Air. Wajar bila muncul pertanyaan, seberapa besar manfaat vaksin melindungi dari varian baru COVID-19.

Secara alamiah, mutasi virus adalah kejadian yang normal. “Selama virus terus menular dari satu orang ke orang lain, akan terjadi mutasi,” ungkap ujar Dr. dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), M.Sc, Ph.D. Ia menegaskan bahwa makin banyak terjadi infeksi pada populasi, makin banyak penularan, potensi mutasi pun akan terus meningkat.

Mutasi virus sebenarnya merupakan kesalahan pada proses replikasi. Ketika virus masuk ke tubuh, dia akan mereplikasi diri dengan melakukan copy paste. “Pada proses ini, bisa terjadi kesalahan. Yang disalin dan ditempel (paste) tidak lengkap; terjadi salah copy paste pada anakan virus. Sifatnya berubah, berbeda dengan virus awal. Ini kejadian wajar,” papar Dr. dr. Erlina. Ini terjadi pada semua virus, tak hanya SARS-CoV-2.

Dari 1 virus, bisa terjadi ribuan mutasi, dan menghasilkan varian-varian baru. Virus dengan varian baru ada yang lemah atau biasa-biasa saja, sehingga tidak menjadi perhatian. “Namun bila ia berdampak pada manusia, jadilah variants of concern,” lanjut Dr. dr. Erlina, dalam diskusi daring bertajuk Apa Syarat agar Vaksinasi Ampuh Menghentikan Pandemi? Jumat, (21/5/2021).

Varian baru SARS-CoV-2 menyandang predikat VoC bila memiliki 1 atau lebih dari 3 hal yang menkghawatirkan. Yakni bila virulensinya meningkat (menimbulkan penyakit yang lebih berat/parah), transmisi atau penularannya meningkat, dan/atau bisa menurunkan efektivitas vaksin.

Potensi vaksin melindungi dari varian baru COVID-19

Masing-masing varian baru dengan label VoC memiliki sifat dan karakteristik tersendiri. Kemampuan vaksin melindungi dari varian baru COVID-19 pun berbeda-beda. Berikut ini penjelasan dari Dr. dr. Erlina, dan berbagai sumber literatur.

Varian B.1.1.7

Telah diketahui bahwa varian B.1.1.7 meningkatkan transmisi. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC), peningkatan transmisi dari varian baru asal Inggris ini bahkan mencapai sekitar 50%.  Masih dilansir dari CDC, varian B.1.1.7 juga berpotensi meningkatkan keparahan, berdasarkan rawat inap dan dan case fatality rate. Adapun menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal ilmiah Science menyebutkan, tingkat penularan varian B.1.1.7 diperkirakan mencapai 43-90%.

Namun demikian, dampak varian B.1.1.7 pada vaksin rendah. “Efek dari vaksin Novavax maupun AstraZeneca masih tinggi. Efikasinya nyaris sama dengan yang terlihat pada varian umum,” imbuh Dr. dr. Erlina.

Varian B.1.351

“Varian baru asal Afrika Selatan ini selain meningkatkan transmisi, juga menurunkan efektivitas vaksin,” terang Dr. dr. Erlina. Hal serupa dinyatakan oleh CDC, dengan peningkatan transmisi sekitar 50%.

Ditengarai, efektivitas vaksin Novavax terhadap varian B.1.351 turun hingga 49%. Sangat jauh bila dibandingkan efikasi 95,6% pada varian umum. Adapun pada vaksin produksi Johnson&Johnson, efektivitasnya turun jadi 57%, dibandingkan efikasi 66% pada varian umum SARS-CoV-2. “Untuk proteksi vaksin AstraZeneca juga terjadi penurunan yang cukup signifikan, terutama terhadap gejala ringan dan sedang. Untuk yang berat belum ada hasilnya,” tutur Dr. dr. Erlina.

Varian B.1.617

Varian baru ini telah tercatat di Indonesia sejak Maret lalu. Di negara asalnya India, varian ini menunjukkan penularan yang sangat tinggi. Ditengarai lebih menular dari varian aslinya, tapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut. “Kalau penularan tinggi, infeksi akan terus menerus terjadi. Juga ada potensi bahwa varian ini menurunkan efektivitas vaksin,” ujar Dr. dr. Erlina.

Varian P1

Varian ini menjadi perhatian para ahli karena diketahui menjadi penyebab gelombang kedua lonjakan kasus COVID-19 di kota Manaus, Brasil. Ditengarai, varian ini lebih menular, dan lebih kebal terhadap antibodi. Artinya, varian P1 lebih lihai menghindari antibodi yang telah terbentuk dalam tubuh penyintas, sehingga berpotensi menimbulkan infeksi berulang atau reinfeksi.

Hal tersebut juga bisa menurunkan efektivitas vaksin. “Terjadi sedikit penurunan efektivitas vaksin Novavac, tapi masih memenuhi kriteria WHO,” ucap Dr. dr. Erlina. Adapun sebuah studi menemukan, vaksin produksi Sinovac kemungkinan tidak cukup merespons antibodi untuk melindungi dari varian asal Brasil ini.

Jenis varian baru dan tiap merk vaksin memengaruhi kemampuan vaksin melindungi dari varian baru COVID-19 yang termasuk VoC. Yang bisa kita maksimalkan adalah disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) 5M, untuk melindungi diri tertular, serta mengurangi penyebaran virus sehingga kemungkinan mutasi dan penyebaran varian baru bisa diminimalkan. Tetap harus disiplin menjalankan prokes sekalipun sudah mendapat vaksin 2x. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Hand photo created by master1305 - www.freepik.com