Obesitas Sebabkan Penyakit Kronis, Penanganannya Butuh Bantuan Profesional

Obesitas Menyebabkan Penyakit Kronis, Penanganannya Butuh Bantuan Profesional

Obesitas bukan persoalan penampilan. Lebih jauh, obesitas menyebabkan penyakit kronis. “Jaringan lemak menghasilkan adipokin, zat yang menyebabkan inflamasi atau peradangan. Ini membuat tekanan darah tinggi, merusak pembuluh darah, hingga meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung,” papar Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI).

Angka obesitas di Indonesia mencapai 23,4%. Artinya, 1 dari 4 orang dewasa mengalami obesitas. Ada dua jenis obesitas: obes menyeluruh, dan obes sentral. Meski badan tidak terlalu gemuk, bisa saja lingkar perut melebihi batas yaitu >80 cm untuk perempuan, dan >90 cm untuk laki-laki. Inilah obesitas sentral.

Lemak di rongga perut ini lebih berbahaya. “Ini bukan cuma kumplan lemak, tapi juga mengeluarkan berbagai mediator jahat yang berdampak buruk bagi kesehatan,” ujar Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

Obesitas berhubungan erat dengan resistensi insulin. Dulu, dianggap bahwa resistensi insulin hanya meningkatkan risiko diabetes. Ternyata tidak demikian. “Resistensi insulin juga menyebabkan berbagai kondisi yang berdampak terhadap berbagai penyakit yang berhubungan dengan endokrin dan metabolisme. Ada mediator inflamasi yang terus bergerak ke sana kemari, hingga timbul masalah berat di kemudian hari,” tutur Prof. Yunir, dalam peluncuran kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta (14/8/2026).

Peluncuran Kampanye "Berani Bicara Berat" di Jakarta

Obesitas = Takdir?

Ada orang yang makannya banyak tapi tetap langsing, sementara ada pula yang “cuma minum air” jadi gemuk. Ini berhubungan dengan metabolic rate. “Orang dengan metabolic rate rendah lebih gampang jadi gemuk, yang metabolic rate tinggi cenderung kurus,” terang Prof. Dante. Bukan berarti obesitas adalah takdir. “Kalau metabolic rate rendah, maka pola makan di keluarga harus lebih diperhatikan,” tegasnya.

Obesitas juga dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya metabolic rate. Gaya hidup, seperti pola makan dan asupan makanan yang kurang baik, jarang berolahraga, hingga tingkat stres dan kurang tidur, juga sangat berpengaruh.

Prof. Dante menegaskan, obesitas adalah penyakit yang harus ditangani secara profesional. Penanganan obesitas harus secara holistik dan dibantu oleh profesional medis, sehingga mereka dengan obesitas bisa mendapatkan dukungan dan penanganan medis yang tepat.

Diet Bukan Satu-satunya Jawaban

Tubuh memiliki mekanisme biologis untuk mempertahankan berat badan. Untuk itu, penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang. “Tujuannya meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata fokus mnurunkan berat badan,” tegas Prof. Yunir. Perubahan gaya hidup saja, misalnya diet, sering kali tidak cukup untuk mencapai penurunan berat badan yang memadai dan berkelanjutan.

Hal senada disampaikan oleh dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI). “Obesitas tidak hanya ditangani dengan mengurangi porsi makan, tidak makan malam, atau tidak makan nasi,” ujarnya.

Ketika kita mengubah kebiasaan makan, otak akan menuntut sesuatu. Di sinilah peranan profesional. Dokter akan menilai secara menyeluruh bagaimana pola makan dan gaya hidup kita, faktor genetik, hingga pola makan keluarga. “Tiap orang berbeda, tidak bisa disamakan. Penanganannya pun berbeda, tergantung dari kebiasaan dan gaya hidupnya,” ucap dr. Erwin.

Diet adalah mengatur pola makan. “Kapan tidak makan, kapan mengurangi makan. Tubuh suka keseimbangan. Kalau kita kurangi makan tapi keperluan yang lain tidak terpenuhi, tubuh akan protes. Muncul keluhan lemas, pegal linu, dan lain-lain,” paparnya. Ia menegaskan, “Penurunan berat badan bukan berarti makin cepat makin baik. Harus disesuaikan dengan kondisi tiap orang.”

Ada kalanya penanganan obesitas perlu bantuan obat. Untuk hal ini, dokter yang akan menilai. Terapi obat untuk obesitas, misalnya yang berbasis incretin. Penggunaannya harus dengan konsultasi dan di bawah pengawasan dokter.

Lalu, kapan perlu ke dokter? “Jangan tunggu sakit. Kalau berat badan terus bertambah, kolesterol naik, jangan hanya dijadikan bahan obrolan. Berkonsultasilah ke dokter,” ujar dr. Erwin.

Obesitas menyebabkan penyakit kronis, dan tidak bisa ditangani sendiri. “Jangan lupa, dalam tubuh obes, peradangan jalan terus. Jangan beranggapan bahwa kalau sudah obes maka tidak akan bisa kurus. Ini soal action,” pungkas Prof. Dante. (nid)

_____________________________________________

Ilustrasi cover: Image by jcomp on Magnific