Pekan Imunisasi Dunia 2026: Perkuat Pencegahan Dengue Lewat Vaksinasi
imunisasi_vaksinasi_dengue

Pekan Imunisasi Dunia 2026: Perkuat Pencegahan Dengue Lewat Vaksinasi

Melakukan imunisasi rutin serta melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan adalah upaya penting yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai penyakit menular. Termasuk di antaranya dengue, yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Pekan Imunisasi Dunia 2026 diharapkan dapat mendorong pencegahan dengue. Melalui kampanye “Lengkapi Imunisasi Sepanjang Usia”, Kemenkes dan IDAI menekankan pentingnya membawa anak ke posyandu atau puskesmas untuk melengkapi imunisasi dasar, serta mengejar cakupan zero-dose (anak yang belum pernah divaksin).

Vaksinasi bukan sekadar pencegahan penyakit, melainkan investasi kesehatan untuk semua usia; mulai dari anak-anak hingga lansia. Tidak hanya di lingkup keluarga, vaksinasi juga mnjadi fondasi perlindungan kesehatan masyarakat, untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.

Terkait dengue, vaksinasi menjadi langkah pencegahan yang penting, mengingat risiko penularan terjadi sepanjang tahun, dipengaruhi oleh perubahan pola cuaca. Terlebih, karakteristik dengue cukup unik; perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi. Yang awalnya hanya gejala umum seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, atau mual dan muntah, mendadak bisa memburuk. “Kadang bisa terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok,” terang Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kondisi yang lebih buruk bisa terjadi dengan adanya komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran. Anak-anak merupakan kelompok rawan yang perlu mendapat perhatian khusus. “Sekitar 75% kasus dengue terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun. Namun, proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41%, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun,” ungkap Prof. Hartono. Ini turut dipengaruhi oleh daya tahan tubuh anak yang masih berkembang, serta keterlambatan dalam mengenali gejala.

Pencegahan dengue perlu dilakukan secara komprehensif. "Mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus, hingga perlindungan tambahan seperti imunisasi dengue yang direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun,” imbuh Prof. Hartono.

Jonathan Sudharta (kiri) dan Andreas Gutknecht (kanan) / Foto: Istimewa

 

Orang Dewasa juga Perlu Vaksin

Dengue tidak hanya menjangkiti anak-anak, tapi juga menimbulkan dampak yang bagi orang dewasa. “Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue. Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi,” papar Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, KAI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang lebih tinggi, turut meningkatkan risiko penyebaran dengue. “Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap dengue,” tambahnya.

Masyarakat juga perlu bersikap proaktif, misalnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia. Sebagai informasi, vaksinasi dengue untuk dewasa bisa dilakukan di usia 19 – 60 tahun.

Kolaborasi untuk Edukasi Dengue dan Akses Layanan

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis dalam upaya bersama mencegah DBD (demam berdarah dengue). Kemitraan berfokus pada peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas. Kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan, “Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkan dengue, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting.”

Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait dengue dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc. Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar dengue dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.

Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap dapat mendorong lebih banyak pihak untuk turut ambil bagian dalam memperkuat pencegahan dengue di Indonesia. Upaya bersama yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam menurunkan beban penyakit dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas.

“Halodoc berkomitmen mempermudah akses layanan terpercaya, termasuk solusi terintegrasi dengue mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi,” ucap Jonathan Sudharta, CEO & Co-founder Halodoc.

Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi dengue di Halodoc melonjak hampir 2 kali lipat pada kuartal-1 2026 dibandingkan dengan kuartal-4 2025. “Ke depan, kami berharap dapat menjangkau dan mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat Indonesia,” pungkas Jonathan. (nid)

_________________________________

Ilustrasi: Image by jcomp on Magnific