El Nino Datang: Waspadai Dengue pada Orang Dewasa dengan Komorbid

El Nino Datang: Waspadai Dengue pada Orang Dewasa dengan Komorbid

Dibandingkan 2024, kasus dengue sedikit menurun pada 2025. “Namun, mungkin akan naik lagi di 2026 dan 2027 dengan adanya fenomena El Nino,” ungkap dr. Budi Setiawan, M.Epid, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Diperkirakan, El Nino akan terbentuk 80% sepanjang periode Juni hingga Agustus 2026, dan kemungkinan mencapai di >90% hingga akhir tahun.

Menurut prakiraan iklim, El Nino kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat. Ditengarai, hal ini akan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya, bisa memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor tular virus dengue, sehingga meningkatkan risiko penyebaran dengue secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan.

Di kota besar, khususnya Jakarta, menanggulangi dengue perlu strategi yang lebih jitu karena Jakarta memiliki karakteristik yang unik. Di satu sisi, mobilitas masyarakat tinggi, tapi di sisi lain, penduduknya menumpuk di satu tempat karena banyak daerah padat. “Kedua kondisi ini bergabung di Jakarta. Mereka dengan mobilisasi tinggi bisa menularkan infeksi dengue ke daerah yang jauh dari tempat tinggal atau kerjanya, dan yang di pemukiman padat akan cepat menularkan ke sekitarnya,” jelas dr. Budi, dalam media edukasi di Jakarta (19/6/2026).

Waspadai Dengue pada Orang Dewasa

Orang dengan mobilisasi tinggi umumnya berada pada kelompok usia produktif. Infeksi dengue pada orang dewasa tidak boleh dianggap sepele. “Pada orang dewasa, dengue bisa menimbulkan dampak yang tidak biasa, disebut expanded dengue syndrome. Ini adalah gangguan berat yang bisa berdampak ke hati, ginjal, otak hingga terjadi penurunan kesadaran dan kejang,” jelas Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Usia dewasa menempati proporsi terbesar kasus dengue dibandingkan kelompok usia lain, mencapai sekitar 45% dari total kasus. Jadi, dengue tidak identik dengan anak-anak saja.

Risiko komplikasi serius akibat dengue seperti expanded dengue syndrome, makin besar pada orang dewasa dengan komorbiditas. Misalnya mereka hipertensi, berisiko komplikasi 2-3 kali lebih tinggi; diabetes melitus, 3-5 kali lebih tinggi; penyakit ginjal, hingga 7 kali lebih tinggi; dan mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronik, bahkan 2-12 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas. “Banyak orang dewasa merasa kuat, sehingga terlambat datang ke RS. Di sinilah bahayanya. Apalagi kalau dia unya komorbid,” tegas Dr. dr. Kamto.

Dengue pada orang dewasa tidak hanya merupakan masalah kesehatan, tapi juga masalah sosial dan ekonomi. “Di keluarga, orang dewasa berperan sebagai pemberi nafkah atau pengasuh. Bila mereka sakit, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh keluarga,” ucap Dr. dr. Kamto. Meski biaya [engobatan dintanggung oleh BPJS, keluarga yang meninggu tetap harus mengeluarkan biaya untuk makan, transportasi, dan lain-lain. produktivitas pasien dan orang dewasa lain yang harus menjaga di RS pun ikut terganggu.

Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia, termasuk dewasa. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif. “Selain cara-cara konvensional, kita juga mmbutuhkan cara inovatif untuk mencegah dengue. Salah satunya dengan vaksinasi, yang akan merangsang sistem imun untuk mmbentuk kekebalan spesifik. Sehingga bila virus dengue menyerang, tubuh bisa melawan, kalaupun tetap sakit, komplikasinya jauh lebih ringan atau tidak ada,” tuturnya.

ABCD Land

PT Takeda Innovative Medicines menyelenggarakan ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD di Urban Forest, Cipete, Jakarta Selatan, pada 20-21 Juni 2026. Menjelang musim liburan sekolah, membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan DBD menjadi langkah penting agar keluarga dapat menikmati waktu liburan dengan tenang, tanpa dibayangi kekhawatiran akan risiko DBD.

Pengunjung bisa mengikuti berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif untuk keluarga, serta sesi berbagi informasi bersama para ahli guna membantu masyarakat mengenali risiko DBD dan langkah pencegahannya secara praktis. Melalui ABCD Land, Takeda bersama seluruh mitra terkait berharap semakin banyak keluarga Indonesia yang menjadikan perlindungan terhadap DBD sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari.

“Aktivasi ini hadir untuk mengajak masyarakat, khususnya keluarga, memahami pentingnya pencegahan DBD secara menyeluruh dan mengambil langkah perlindungan sejak dini,” ujar Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines. (nid)