Dalam budaya kulinari Asia, bambu - khususnya tunasnya – telah lama dikonsumsi. Masyarakat Indonesia menyebutnya dengan rebung. Studi internasional menyatakan bambu potensial menjadi superfood karena kandungan nutrisinya yang melimpah.
Rebung diolah menjadi berbagai jenis sayuran seperti tumis rebung, semur, campuran sayur lodeh hingga isian lumpia. Bambu menawarkan manfaat kesehatan yang luas, mulai dari mengontrol gula darah, anti-inflamasi, hingga memperbaiki kesehatan usus dan sumber antioksidan.
Lee Smith, peneliti senior sekaligus profesor kesehatan publik di Anglia Ruskin University, Inggris, mengatakan, “Bambu memiliki berbagai manfaat kesehatan yang sudah teridentifikasi karena ia kaya protein, asam amino, karbohidrat, mineral dan vitamin.”
Reviu tahun 2025 dalam jurnal Advances in Bamboo Science meneliti studi pada manusia dan laboratorium yang menunjukkan bahwa daun, tunas dan ekstrak bambu dapat meningkatkan berbagai fungsi kesehatan. Namun, pengolahan yang tidak tepat berisiko untuk kesehatan, karena mengandung senyawa racun.
Manfaat bambu
Para peneliti menjelaskan bahwa bambu kaya protein, dengan serat sedang dan kadar lemak rendah. Bambu juga mengandung asam amino, selenium dan kalium. Selain itu, tanaman ini mengandung tiamin, niasin, vitamin A, B6 dan E.
Riset tahun 2018 menjelaskan tunas bambu merupakan sumber vitamin B6 yang baik, ini adalah vitamin larut air dan terlibat dalam lebih dari 140 reaksi biokimia di dalam sel.
Dalam uji coba terlihat mengonsumsi bambu membantu kontrol glikemik lebih baik, artinya membantu mengatur kadar gula darah, yang sangat penting bagi penderita diabetes.
Peneliti juga menemukan adanya perbaikan profil lipid (lemak), yang bermanfaat untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Jenis serat bambu meliputi selulosa, hemiselulosa dan lignin, yang telah terbukti meningkatkan fungsi usus manusia. Aktivitas antioksidan yang kuat juga telihat, selain itu rebung bersifat sebagai prebiotik yang berarti ia menyediakan bahan bakar untuk bakteri baik (probiotik) di usus. Sehingga peneliti mengatakan bila konsumsi bambu mendukung kesehatan pencernaan.
Riset lain pada manusia menemukan bahwa mengonsumsi rebung dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi, serta viabilitas sel, sekaligus mengurangi toksisitas sel.
Selain itu, peneliti menemukan bahwa senyawa bambu dapat menghambat pembentukan furan yang berpotensi karsinogenik, sekaligus mengurangi pembentukan akrilamida, yang juga berpotensi menyebabkan kanker.
Zat kimia tersebut dapat terbentuk ketika makanan tertentu digoreng atau dipanggang. Namun, temuan menunjukkan bahwa bambu dapat membuat makanan lain lebih aman.
Potensi risiko tetap ada
Risiko negatif tetap ada bila bambu tidak diolah dengan benar. Beberapa spesies tertentu mengandung glikosida sianogenik yang melepaskan sinaida jika dimakan mentah. Studi juga menemukan bila senyawa dalam rebung dapat mengganggu produksi hormon tiroid, meningkatkan risiko terkena gondok.
“Tinjauan kami menunjukkan potensi bambu sebagai ’superfood’ yang potensial, tetapi masih ada celah dalam pengetahuan kita,” kata Smith, melansir Nutrition Insight.
“Kami hanya menemukan empat studi yang melibatkan partisipan manusia yang memenuhi kriteria, jadi uji coba pada manusia berkualitas tinggi tambahan diperlukan sebelum kami dapat memberikan rekomendasi yang tegas,” pungkasnya. (jie)





