sakit gusi berhubungan dengan diabetes dan sakit jantung
penyakit gusi perburuk diabetes dan sakit jantung

Sakit Gusi Berhubungan Erat dengan Diabetes dan Sakit Jantung

Kesehatan rongga mulut tidak hanya terkait gigi, tetapi juga gusi dan jaringan penyangga gigi lainnya. Penyakit gusi berhubungan erat dengan perburukan diabetes dan risiko penyakit jantung. 

Kejadian penyakit gusi di Indonesia tergolong tinggi. Data dari Global Burden of Disease Study 2021 menyebutkan di Asia Tenggara (khususnya Indonesia dan Vietnam) salah satu wilayah dengan prevalensi periodontitis (penyakit gusi berat) tertinggi secara global, dengan sekitar 6,6 juta kasus baru. 

Prof. Dr. Amaliya, drg, MSc, PhD, Guru Besar Ilmu Periodonsia dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menjelaskan, tingginya penyakit gusi di Indonesia antara lain disebabkan oleh rendahnya literasi kesehatan gigi dan mulut, kebiasaan merokok yang masih tinggi, pola makan buruk seperti defisiensi vitamin E, C dan zinc, konsumsi gula tinggi.  

“Penyakit gusi merupakan ‘silent killer’ karena di tahap awal (radangan gusi/gingivitis) umumnya gejalanya muncul secara samar dan tidak menimbulkan rasa sakit. Di tahap lanjut (periodontitis) biasanya bersifat irreversible, kerusakan sudah sampai ke tulang, di mana gigi menjadi goyang dan akhirnya tanggal,” terang Prof. Amaliya dalam pembukaan Indonesia Hygiene Forum 2025, di Jakarta (17/12/2025). 

Rendahnya kesadaran akan kesehatan rongga mulut menyebabkan mayoritas penderita penyakit gusi datang ke dokter gigi dalam tahapan periodontitis, sehingga membutuhkan perawatan yang lebih kompleks dan mahal. 

Risiko masalah gusi

Data menyebutkan hanya 6,2% penduduk Indonesia yang menyikat gigi di waktu yang tepat, minimal dua kali: setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Serta 91,2% masyarakat tercatat tidak pernah berkonsultasi ke dokter gigi selama setahun terakhir. 

Kebiasaan merokok turut menyumbang buruknya kesehatan gigi dan gusi. Merokok akan meningkatkan kerusakan jaringan periodontal, serta berkurangnya kemampuan penyembuhan luka periodontal. 

Diperparah dengan pola makan buruk – rendah vitamin C, E dan zinc, serta konsumsi gula yang tinggi.  

Vitamin E dengan sifat antioksidan dan anti-inflamasinya akan membantu mengurangi peradangan, melindungi jaringan gusi dari kerusakan, dan mempercepat penyembuhan

Vitamin C membantu produksi kolagen yang memperkuat jaringan gusi, bersifat antioksidan yang melawan radikal bebas, dan mencegah peradangan. Sementara zinc membantu melawan bakteri penyebab plak gigi. 

Rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 160 gram gula/hari, tiga kali lebih banyak dari rekomendasi WHO (50 gram/hari). Konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko penyakit gusi karena gula adalah makanan bagi bakteri mulut yang menghasilkan asam yang merusak jaringan gusi dan tulang pendukung gigi. 

Berhubungan erat dengan diabetes dan penyakit jantung

Penyakit gusi juga mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.

Dr. Dicky L. Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menerangkan, “Untuk diabetes, terdapat hubungan dua arah yang terbilang unik: diabetes meningkatkan risiko penyakit gusi karena kadar gula darah tinggi mendorong pertumbuhan bakteri, sementara infeksi gusi juga dapat mempersulit kontrol gula darah.” 

Riset di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, menemukan bahwa 88,24% pasien diabetes menderita penyakit gusi. Studi lain juga menunjukkan bahwa penderita diabetes, terutama diabetes tipe 2, berisiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk menderita keparahan penyakit gusi. 

Mereka menunjukkan kedalaman poket gusi yang lebih dalam, resesi gusi, dan kehilangan perlekatan yang lebih parah dibandingkan pasien non-diabetes.

“Sementara pada penyakit jantung, bakteri penyebab penyakit gusi bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan peradangan di jantung dan pembuluh darah sehingga berkontribusi pada faktor risiko penyakit jantung seperti penyumbatan pembuluh darah, penyakit arteri koroner, stroke, dan infeksi di lapisan dalam jantung,” dr. Dicky menambahkan. 

Baca: Hati-hati Radang Gusi Bisa Picu Serangan Jantung

Tahapan penyakit gusi

Radang gusi (gingivitis)

• Gejala: gusi bengkak, merah, atau mudah berdarah.

• Di tahap ini, masalah gusi masih dapat diatasi dan bahkan bisa menjadi kembali sehat dengan perawatan yang tepat, yaitu menyikat gigi menggunakan pasta gigi khusus untuk kesehatan gusi, pembersihan karang gigi (scaling), serta kontrol rutin ke dokter gigi.

Periodontitis

• Kerusakan sudah sampai ke tulang dan jaringan pendukung gigi. 

• Seringkali bersifat irreversible (tidak dapat kembali seperti sediakala), di mana gigi menjadi goyang dan akhirnya tanggal. (jie)

Baca juga: Bahaya radang gusi saat Hamil