11 Anak dengan Gangguan Ginjal Akut Meninggal, Diduga Terkait Covid-19
ganggaun_ginjal_akut

11 Anak dengan Gangguan Ginjal Akut Meninggal, Diduga Terkait Covid-19

Sebanyak 11 dari 17 anak di Bali yang mengalami gangguan ginjal akut misterius (acute kidney injury/AKI) meninggal. “Lima anak sudah dipulangkan, satu masih dirawat, sebelas meninggal dunia. Usia mereka di bawah 6 tahun,” ujar Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bali IGN dr. Sanjaya Putra, SpA. Pasien anak dengan gangguan ginjal akut misterius itu dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. Ngoerah Denpasar, Bali.

Meninggalnya 11 anak dengan AKI di Bali sangat mengejutkan. Sebelumnya, 131 anak dengan gagal ginjal akut misterius di belasan provinsi di Indonesia selamat. Setelah dirawat, mereka bisa pulang ke rumah karena sudah dinyatakan sembuh. Kondisi ini berbeda dengan kasus di Gambia, Afrika Barat, di mana 66 anak balita meninggal dalam tiga bulan terakhir. Diduga karena minum obat batuk sirup yang mengandung paracetamol.

Ada kaitan dengan Covid-19

Anak Indonesia yang mengalami gangguan ginjal akut misterius, tidak satu pun yang minum sirup paracetamol. Kasus 11 anak yang meninggal di Bali, diduga ada kaitannya dengan Covid-19. Menurut dr. Sanjaya, “Sebelas anak yang meninggal diindikasikan pernah menderita penyakit Covid-19, karena ditemukan ada antibodi alamiah di tubuh mereka. Sedangkan, mereka belum mendapat vaksin Covid-19 karena masih berusia di bawah 6 tahun.”

Belum bisa dipastikan, anak-anak itu tertular Covid-19 dari orangtua atau tetangga. Dari 17 anak, 6 anak tidak diperiksa antibodinya, 10 anak positif dan 1 anak negatif. Ke-10 anak itu sudah mempunyai kekebalan alamiah. “Padahal belum mendapat vaksin. Berarti anak-anak itu pernah kena Covid-19.” kata dr. Sanjaya.

Kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak di Bali, terdeteksi mulai meningkat pada Agustus 2022. Sebelum-sebelumnya, dalam satu bulan paling hanya ada satu kasus anak yang mengalami gangguan ginjal. Sejak Agustus 2022, frekuensi kasus meningkat rata-rata 2-3 kasus seminggu. Dari 17 kasus, semua anak memiliki gejala yang sama: saluran pernapasan terganggu, ada infeksi saluran pencernaan dan sedikit atau malah tidak bisa buang air kecil. Ada pun 11 anak yang meninggal, datang ke RSUP dengan fungsi ginjal yang sudah menurun.

Karena mengalami kasus berat, terhadap 15 anak dilakukan cuci darah atau hemodialisis (HD). Hanya dua anak yang tidak. “Yang satu kondisinya dinilai tidak membahayakan dan yang satu lagi sudah pulang ke rumah," ujar dr. Sanjaya.

Koordinasi WHO

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, kasus gagal ginjal akut misterius pada anak, sedang diteliti oleh tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, bekerja sama dengan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Awalnya pihak IDAI menduga, 131 kasus berkaitan dengan Covid-19 dan MIS-C (Multisystem Inflammatory Syndrome in Children). Dilakukan swab tenggorokan dan swab rektal dari anus. Tidak ditemukan jenis virus seragam yang menyebabkan infeksi. Tapi diketahui, selain mengalami gangguan ginjal, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan gelaja knilisnya diamati, mereka diketahui mengalami peradangan di sejumlah organ. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam waktu dekat. "Sebenarnya sudah ada hasilnya, tapi perlu menunggu kesimpulan sebelum dirilis ke publik," ujar Menkes Budi Rabu lalu.

Kemenkes juga telah berkoordinasi dengan ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang melakukan investigasi di Gambia. Hasil diskusi dengan tim dari Gambia, dugaan ke arah konsumsi obat yang mengandung etilen glikol. Masih perlu penelitian lebih lanjut karena tidak terdeteksi dalam darah. Dugaan mengarah ke intoksikasi. (sur)

_____________________________________________

Ilustrasi: Image by Freepik