Calon Jemaah Haji Perlu Vaksinasi Influenza, Ini 7 Alasannya
haji_umrah_vaksin_influenza

Calon Jemaah Haji Perlu Vaksinasi Influenza, Ini 7 Alasannya

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, calon jemaah haji perlu vaksinasi influenza. Vaksin influenza memang bukan termasuk 3 vaksin yang diwajibkan oleh Kerajaan Arab Saudi bagi calon jemaah haji dan umrah (meningitis, polio dan demam kuning). “Vaksin influenza tidak wajib, tapi sangat disarankan. Sejak 2018, Kementrian Kesehatan Arab Saudi membuat regulasi agar jemaah haji dan umroh mendapat vaksin influenza musiman sebelum masuk ke negara tersebut,” ujar Dr. dr. Muhammad Ilyas, Sp.PD, K-P, Sp.P(K), Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PP PERDOKHI).

Influenza berbeda dengan common cold atau selesma yang sering menyebabkan bersin-bersin, batuk, dan pilek. Dalam dunia medis, penyakti seperti ini disebut ILI (influenza-like illness). “Common cold hanya mengenai saluran napas, terutama bagian atas. Kalau influenza sifatnya sistemik, jauh lebih berat daripada common cold,” tutur Dr. dr. Ilyas, dalam diskusi Optimalisasi Kesehatan Haji dan Umrah hari ini, Rabu (4/3/2020). Influenza bisa menimbulkan komplikasi berat seperti radang paru (pneumonia), bahkan kematian.

Infeksi influenza mudah terjadi saat daya tahan tubuh kita menurun. Berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji/umrah bisa menurunkan imunitas tubuh, sehingga calon jemaah haji perlu vaksinasi influenza. Berikut ini pemaparannya.

 

7 alasan calon jemaah haji perlu vaksinasi influenza

Perubahan cuaca. “Di Arab Saudi, sering terjadi perubahan cuaca ekstrim. Siangnya panas, dan tiba-tiba dingin. Ini berkontribusi terhadap menurunnya kesehatan,” terang Dr. dr. Ilyas. Secara umum, cuaca di Arab begitu kering dan panas, sehingga jemaah haji/umrah rentan mengalami dehidrasi. Dehidrasi membuat saluran napas kering, serta menurunkan imunitas tubuh, sehingga influenza mudah menyerang.

Polusi udara. “Polusi udara demikian parah di sana. Debu, asap kendaraan, hingga asap rokok,” ucap Dr. dr. Ilyas. Polusi udara mengiritasi dan memicu radang pada saluran napas, membuat kita lebih rentan terhadap influenza.

Perubahan pola makan. Pola makan selama di Mekkah dan Madinah mungkin akan berubah. Umumnya lebih banyak daging dan unggas, sedangkan sayur dan buah lebih sulit dijumpai. Alhasil tubuh kekurangan vitamin, mineral, serta pigmen tanaman yang berfungsi sebagai antioksidan. Tak jarang pula jemaah haji/umrah kurang memerhatikan asupan cairan, sehingga mengalami dehidrasi.

Perjalanan jauh. Perjalanan dengan dari Indonesia ke Arab bisa memakan waktu sekitar 8 jam. “Suhu dingin selama di pesawat, serta lelah dalam perjalanan bisa menurunkan daya tahan tubuh,” terang Dr. dr. Ilyas. Belum lagi perjalanan selama beribadah, dari Jedah ke Madinah, dan Mekkah.

Aktivitas fisik yang padat. Aktivitas fisik selama di Tanah Suci bisa dibilang padat. Baik yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, maupun yang tidak. Ini bisa menimbulkan kelelahan fisik, yang akan menurunkan imunitas.

Populasi padat. “Influenza sering ditemukan di populasi yang padat, termasuk di kloter atau pondokan Jemaah haji,” ujar Dr. dr. Ilyas. Perjalanan dengan pesawat juga termasuk mass gathering. “Satu orang saja dengan influenza bersin atau batuk di pesawat atau pondokan, percikan batuk atau bersinnya bisa menyebar ke mana-mana. Orang-orang sekitarnya pun berisiko tertular,” tuturnya. Studi menemukan, satu penumpang pesawat yang terinfeksi influenza bisa menularkan penyakitnya kepada 72% penumpang lain.

Penyakit kronis dan usia tua. Orang lanjut usia (>60 tahun), serta orang dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), diabetes, dan asma, lebih rentan terkena influenza. Dan pada kedua kelompok ini, influenza lebih berisiko menimbulkan komplikasi yang fatal. “Pada orang dengan penyakit kronis, influenza bisa memperburuk penyakit yang sudah ada,” jelas Dr. dr. Ilyas. Selama ini, penyakit kardiovaskular dan penyakit pernapasan merupakan penyebab utama kematian Jemaah haji Indonesia. Selain itu, >50% Jemaah haji Indonesia berusia 50 tahun ke atas.

Disebutkan oleh Dr. dr. Ilyas, banyak Jemaah haji yang terkena infeksi saluran napas bahkan berkembang menjadi pneumonia setelah wukuf di Arafah. Calon jemaah haji perlu vaksinasi influenza, sebagai salah satu upaya mencegah penyakit pernapasan akibat virus influenza.

Di Indonesia, vaksin influenza yang tersedia yakni vaksin inaktif, yang diberikan seccara injeksi (suntik). Kini lebih disarankan vaksin kuadrivalen yang mengandung 4 virus influenza, ketimbang vaksin trivalen yang hanya mengandung 3 virus (2 virus influenza tipe A, dan 1 tipe B). Vaksin kuadrivalen memberi perlindungan terhadap 2 virus influenza tipe A, dan 2 virus influenza tipe B. “Perlindungannya lebih luas daripada vaksin trivalen. Virus influenza tipe B lebih sering menyebabkan pandemi. Yang terpenting, vaksinasi harus dilakukan minimal dua minggu sebelum berangkat ke Tanah Suci,” pungkas Dr. dr. Ilyas. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Image by GLady from Pixabay