apa yang terjadi di tubuh saat kita makan pedas
apa yang terjadi di tubuh saat kita makan pedas

Apa yang Terjadi di Tubuh Saat Kita Makan Pedas

Pernah coba oseng mercon? Salah satu masakan khas Yogyakarta ini menawarkan sensasi berbeda, yakni ekstra pedas. Makanan pedas bisa sangat enak dan nagih, tetapi terlalu banyak bisa membuat perut Anda bermasalah. Sebenarnya apa yang terjadi saat kita makan makanan pedas?

Adalah capsaicin sebuah zat kimia alami dalam cabai yang membuatnya terasa pedas, panas dan sensasi ‘terbakar’. 

Capsaicin ternyata bermanfaat untuk kesehatan, antara lain bisa berperan sebagai analgesik dan pereda nyeri. Sebagai obat topikal (oles), capsaicin secara khusus dipakai untuk mengurangi nyeri saraf. 

Radang sendi rheumatoid arthritis (RA) dan psoriasis juga bisa diobati dengan gel yang mengandung capsaicin, menurut University of Michigan Health (UMHS).  

Rasa pedas utamanya ada di biji cabai. Jika Anda ingin mengurangi pedas, buang biji cabai sebelum dimakan mentah, atau dimasak matang. UMHS menyarankan makan pisang juga bisa membantu mengurangi rasa pedas. 

Heartburn

Bagi pecinta pedas, ada risiko kesehatan yang mengintai Anda bila terlalu banyak menyantap masakan pedas. 

Mary Matone, MS, RD, dietisien di Culina Heatlh, menjelaskan salah satu risiko yang mungkin terjadi adalah GERD (gastroesophageal reflux disease). Naiknya asam lambung ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi terbakar di dada. 

“Meskipun masakan pedas bukan penyebab utama GERD, ia jelas akan memperburuknya,” Matone menjelaskan. “Makanan pedas bisa mengiritasi esofagus (kerongkongan) yang sudah terpengaruh, menyebabkan heartburn dan ketidaknyamanan.”

Journal of Neurogastroenterology and Motility menulis capsaicin bisa memperlambat pergerakan makanan di perut, meningkatkan risiko refluks (berbalik/naik). 

Menariknya, lanjut Matone, ada anggapan umum bila makanan pedas meningkatkan risiko maag. “Faktanya, capsaicin sebenarnya dapat mengurangi produksi asam lambung. Sehingga capsaicin dapat membantu memperbaiki gejala tukak lambung.” 

Membantu menurunkan berat badan?

Ada beberapa teori bila makanan pedas bisa membantu menurunkan berat badan. Di jurnal Appetite disebutkan bila zat pedas ini bisa meningkatkan pembakaran kalori dan lemak. 

“Walau bukti menyatakan bila capsaicin mungkin meningkatkan pembakaran energi dan membantu menurunkan berat badan, perlu dicatat bila peningkatan tersebut minimal dan mungkin tidak signifikan tanpa intervensi lain,” kata Matone. 

Umur panjang

Mereka yang makan pedas hampir tiap hari diketahui memiliki peluang 14% lebih besar untuk berumur panjang, dibanding orang yang makan pedas kurang dari sekali seminggu, menurut reviu di The British Medical Journal. Kemungkinan disebabkan oleh efek antiradang dan antioksidan dari capsaicin. 

Memperbaiki lemak Anda 

Makanan pedas bisa bermanfaat untuk jantung. Riset Yong Xue, dkk, menunjukkan mereka yang lebih sering makan pedas dalam jumlah besar ditengarai memiliki kadar LDL kolesterol dan rasio LDL ke HDL yang lebih rendah, dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah makan pedas. 

Tetapi sebaliknya peneliti juga mencatat: lebih banyak/sering makanan pedas juga berhubungan dengan peningkatan kadar trigliserida dalam darah, yang adalah faktor risiko penyakit jantung. 

Peneliti percaya bahwa tingginya kadar trigliserida disebabkan karena bahan-bahan pedas sering digunakan sebagai penambah rasa masakan pokok dalam makanan China. 

Kelebihan karbohidrat dirubah menjadi lemak di tubuh, ini berkontribusi pada peningkatan trigliserida. Peneliti menyimpulkan, makanan pedas dapat memperbaiki kadar lemak, tetapi cara kita memakannya penting. (jie)