defisiensi vitamin d dan risiko demensia
defisiensi vitamin d tingkatkan risiko demensia

Defisiensi Vitamin D Tingkatkan Risiko Demensia dan Stroke

Setelah pandemi Covid 19 vitamin D tidak hanya dikenal sebagai vitamin tulang, tetapi juga menjaga daya tahan tubuh. Riset-riset terbaru juga menjelaskan bila defisiensi vitamin D berhubungan dengan risiko demensia dan stroke. 

Studi terkait manfaat vitamin D sudah berkembang luas, diketahui bermanfaat untuk penderita diabetes, pencegahan penyakit kardiovaskular, hingga gangguan pernapasan seperti sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS). 

Menambah daftar manfaat, peneliti dari University of South Australia percaya bahwa defisiensi vitamin D meningkatkan risiko demensia dan stroke. Riset tersebut diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition. 

Studi ini menggunakan data dari UK Biobank, melibatkan sekitar 290 ribu partisipan. Mereka mengukur variasi gen untuk menemukan bagaimana kadar vitamin D yang rendah berpengaruh ke otak.

Menurut Prof. Elina Hyppönen, peneliti senior dan direktur dari Australian Center for Precision Health di universitas tersebut, ilmuwan telah lama menduga bila vitamin D mungkin memiliki efek terhadap perkembangan penyakit neurokognitif, seperti demensia. Namun, bukti tentang apakah efek ini bersifat sebab-akibat masih kurang. 

“Dengan menggunakan desain genetik baru, kami ingin melihat apakah kami dapat memberikan bukti kausal tentang peran vitamin D dalam kesehatan otak, khususnya untuk melihat apakah peningkatan kadar vitamin D pada mereka yang defisiensi vitamin D akan membantu,” jelasnya, melansir Medical News Today.   

Mereka mendapati rendahnya kadar vitamin D berhubungan dengan volume otak yang lebih kecil, meningkatkan risiko demensia dan stroke.   

Penelitian sebelumnya terkait peran vitamin D pada penyakit neurodegeneratif seperti alzheimer dan parkinson menyimpulkan tidak ada bukti konkret bila vitamin D bersifat neuroprotektif. 

Namun studi yang lebih anyar mendukung pandangan bila vitamin D bisa berperan dalam pencegahan demensia.  

Baca: Manfaat Vitamin D untuk Bayi, Ibu dan Lansia

Cegah defisiensi vitamin D

Prof. Elina Hyppönen menekankan pentingnya mencegah/menghindari defisiensi vitamin D. “Ini kemungkinan akan bermanfaat tidak hanya untuk mengurangi risiko demensia, tetapi juga kesehatan secara umum,” tegasnya. 

Mengingat pada populasi dewasa dan lansia, biasanya sudah memiliki komorbid, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dll, ada beberapa catatan konsumsi vitamin D: 

  1. Dosis pemeliharaan harian: 800-1.000 IU per hari dianjurkan untuk menjaga kesehatan tulang dan fungsi kekebalan tubuh lansia.
  2. Dosis umum tanpa cek lab: suplemen bebas dengan dosis 1.000 IU per hari umumnya aman dan cukuk untuk konsumsi harian. 
  3. Batas maksimum aman: batas atas konsumsi harian yang aman tanpa pengawasan ketat dokter adalah 4.000 IU per hari. Dosis di atas 5.000 IU atau dosis tinggi (seperti 10 ribu IU) memerlukan resep serta pemantauan kadar darah oleh dokter.   

Secara umum vitamin D dosis standar harian (800 - 1.000 IU) sangat aman dan tidak memiliki kontraindikasi (mempengaruhi efektivitas/khasiat) mutlak dengan obat gula, tensi atau pengencer darah. 

Namun konsumsi suplemen vitamin D kombinasi (biasanya vitamin D + K2) berisiko menetralkan atau merusak efek obat pengencer darah. Mereka yang minum pengencer darah perlu menghindari kombinasi ini, atau atas izin dokter. 

Sementara pada individu / lansia dengan gangguan ginjal, membutuhkan bentuk vitamin D khusus yang aktif (analog vitamin D), atau atas petunjuk dokter. (jie)     

Baca juga :Batasan Aman Suplemen Vitamin D Untuk Risiko Tinggi Defisiensi Vitamin D