Memilih Nebulizer untuk Anak, Pertimbangkan 4 Hal Ini

Memilih Nebulizer untuk Anak, Pertimbangkan 4 Hal Ini

Ibu yang memiliki anak kecil, pasti sudah familiar dengan nebulizer. Gangguan pernapasan pada anak memang tinggi. Misalnya asma, yang menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, mencapai 70.771 kasus pada anak usia 4 tahun ke bawah. Memilih nebulizer yang tepat, ternyata sangat berpengaruh dalam mengatasi gangguan pernapasan pada anak.

Nebulizer adalah alat (device) yang digunakan untuk terapi inhalasi, yaitu mengantarkan obat langsung ke saluran pernapasan bagian bawah yang meliputi bronkus, bronkiolus, dan paru-paru (termasuk alveolus). Alat ini bekerja dengan mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi aerosol, sehingga bisa dihirup dan sampai ke saluran napas bawah.

Ada tiga jenis nebulizer yang biasa digunakan: jet, ultrasonik, dan mesh. Ketiganya memiliki cara berbeda dalam mengubah obat cair menjadi aerosol. “Pada nebulizer jet, aerosol dihasilkan dari aliran udara bertekanan tinggi yang dibuat oleh kompresor. Nebulizer jenis ini berisik, karena ada kompresornya,” ungkap Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K).

Nebulizer ultrasonik menghasilkan aerosol melalui getaran frekuensi tinggi dari gelombang ultrasonik pada lempeng yang terdapat di wadah obat cair. Dibandingkan dengan jenis jet, alat ini tidak menghasilkan suara bising. Lalu, bagaimana dengan mesh nebulizer? “Aerosol juga dihasilkan dengan vibrasi atau getaran. Tapi bedanya dengan ultrasonik, aerosol kemudian melewati jaring atau mesh, sehingga ukuran partikel lebih halus dan seragam,” papar dr. Wahyu, dalam peluncuran Nebulizer NE-U300 di Jakarta (2/7/2026).

Cermat Memilih Nebulizer untuk Anak

Penggunaan nebulizer pada anak tidak bisa disamakan dengan dewasa. “Kemampuan dan penerimaan anak untuk menghirup obat yang dihasilkan nebulizer tentu berbeda,” terang dr. Wahyu.

Ia melanjutkan, diameter saluran napas anak lebih kecil, dan napas anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa. “Volume udara yang masuk pun lebih sedikit, terutama pada anak yang masih kecil,” imbuhnya. Berikut ini tips memilih nebulizer untuk anak.

1. Partikel halus

Makin ke bawah, jalan udara dalam sistem pernapasan semakin kecil dan halus. Terlebih bila anak mengalami serangan asma, yang membuat jalan napas makin sempit lagi akibat lendir. Untuk itu, partikel aerosol haruslah kecil agar bisa masuk. “Ini salah satu yang harus diperhatikan ketika membeli alat; apakah dia memang betul menghasilkan partikel yang sesuai untuk saluran napas yang kita tuju,” terang dr. Wahyu.

2. Cepat

Kelembapan partikel yang dihasilkan, serta kecepatan alat untuk menghasilkan partikel aerosol juga berpengaruh. “Tiap alat memiliki performa berbeda, yang akan memengaruhi efikasi alat untuk mengantarkan obat,” ujarnya. Makin cepat alat mengubah obat menjadi aerosol, tentu akan makin baik.

3. Tidak bising

Alat nebulizer yang bising atau berisik, bisa membuat anak ketakutan dan menangis. Menangis tentu akan mengubah ritme bernapas sehingga kemampuan brnapas si Kecil terganggu. Alhasil, obat aerosol tidak dihirup dengan optimal.

4. Ukuran masker pas

Selain alatnya, nebulizer juga dilengkapi dengan interface atau masker untuk membantu anak menghirup obat. “Kalau ukuran masker terlalu besar, obat aerosol yang keluar bisa masuk ke mata, dan itu berbahaya. Jadi betul-betul harus pakai yang ukurannya pas,” tegas dr. Wahyu. Pada anak yang sudah lebih besar, lebih disarankan memakai mouthpiece ketimbang masker, agar obat terhirup sempurna dan tidak terbuang saat tidak dihirup.

Mesh Nebulizer Portable

Omron Healthcare meluncurkan Nebulizer NE-U300, mesh nebulizer yang bisa dibawa bepergian (portable). Dengan bobot sangat ringan (117 gram) dan ukuran sangat kecil, alat ini mudah diselipkan ke dalam tas atau saku jaket, sehingga sangat travel-friendly. “Cocok digunakan saat traveling dan tidak ingin skip terapi inhalasi,” ujar Fanny Himawan, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia.

Ukuran partikel aerosol yang dihasilkan sekitar 4,124μm yang pas untuk memastikan obat masuk secara optimal ke saluran napas bawah. Selain itu, tak perlu khawatir dengan suara mesin. “Tingkat kebisingannya sangat rendah, kurang dari 40 desibel,” ujar Fany.

Nebulizer NE-U300 bisa digunakan di mana saja karena tidak perlu dicolok ke stopkontak, atau repot mengganti baterai. Menggunakan baterai isi ulang, alat cukup di-charge dengan kabel USB Type-C, yang sudah disertakan saat pembelian. Alat juga dilengkapi dengan masker ukuran anak dan dewasa, serta mouthpiece.

Tak kalah penting, semua komponen nebulizer, termasuk masker, bebas dari bahan berbahaya. “Bahan yang digunakan anti-karat dan anti-reaksi kimia,” ucap Fany. Salah satu yang perlu diperhatikan yaitu kandungan phthalate (ftalat) pada beberapa masker yang beredar di pasaran.

Ftalat adalah zat kimia sintetis yang lazim dipakai industri sebagai pelembut plastik atau penahan aroma. Risiko paparan zat ini terbukti sangat berbahaya. Ftalat dapat menimbulkan risiko kesehatan seperti gangguan sistem endokrin atau hormon, masalah reproduksi, memicu komplikasi pada ibu hamil, hingga potensi risiko kanker. Ini juga penting diperhatikan saat memilih perangkat nebulizer. “Semua masker di Omron dipastikan bebas ftalat, sehingga aman untuk bayi,” tandas Fany. (nid)