konstipasi selama puasa
sembelit selama puasa

Atasi Sembelit Selama Puasa: Memilih Obat Pencahar Yang Aman

Perubahan pola makan, waktu asupan cairan, serta ritme aktivitas harian selama puasa Ramadan terbukti memengaruhi sistem pencernaan. Salah satu keluhan yang paling sering dilaporkan adalah konstipasi.

Konstipasi selama puasa dapat terjadi akibat berkurangnya asupan serat dan cairan, perubahan pola defekasi, serta adaptasi fisiologis saluran cerna terhadap periode puasa dan makan terbatas. Secara fisiologis, puasa juga memengaruhi motilitas (gerakan) usus melalui perubahan hormon gastrointestinal, aktivitas sistem saraf enterik, dan respon metabolik tubuh.

Dr. Putut Bayupurnama, SpPD-KGEH, dari RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta, menjelaskan ada perubahan gaya hidup dan pola makan, dengan tekanan makan minum yang meningkat di malam hari, selama Ramadan. Ini berpengaruh pada hormon dan usus.

”Berpuasa seharian tidak ada motilitas saluran cerna yang distimulasi oleh makanan, dan perubahan ritme sirkadian. (Padahal) saluran cerna sudah ada pola kerja yang rutin, tetapi selama sebulan berubah, butuh adaptasi,” terang dr. Putut kepada OTC Digest.

Semua itu berpengaruh ke hormon nafsu makan dan metabolik, seperti ghrelin yang memicu lapar, leptin yang meningkatkan rasa kenyang, serta hormon melatonin akibat siklus tidur-bangun yang berubah.

“Konsentrasi kalori di malam hari, hingga perubahan pola hidrasi akan menimbulkan keluhan-keluhan gastrointestinal (kembung, konstipasi hingga dispepsia), bila tidak dikelola dengan baik,” dr. Putut menambahkan.

Jangan anggap enteng konstipasi (sembelit). Data menyebutkan kondisi ini signifikan mempengaruhi kualitas hidup, baik secara fisik maupun kesehatan mental. Meningkatkan risiko komplikasi seperti hemoroid (ambeien), feses yang tertahan di usus besar dan stres psikososial.

Sebagai informasi, dianggap sembelit jika BAB tidak memuaskan. Ditandai dengan BAB kurang dari 3 kali seminggu, feses keras dan perlu mengejan. Lebih sering terjadi pada wanita (15-23%), pada populasi Asia, dibanding pria.

Ramadan risiko spesifik konstipasi

Selama puasa Ramadan ada beberapa hal yang menyebabkan Anda berisiko tinggi konstipasi:

  1. Dehidrasi. Dehidrasi meningkatkan penyerapan kembali cairan di usus besar, menyebabkan feses keras.
  2. Perubahan diet. Pola makan saat berbuka atau sahur biasanya tinggi kalori, tinggi lemak dan makanan olahan. Di satu sisi kurang serat. Ini mengakibatkan perlambatan waktu transit kolon dalam mendorong makanan. Makanan tinggi lemak juga bisa menyebabkan ketidaknyamanan lambung, misalnya begah/kembung, yang akan memperburuk konstipasi.
  3. Aktivitas dan ritme sirkadian. Berpuasa Ramadan kerap kali menyebabkan kelelahan. Berkurangnya aktivitas fisik dan perubahan pola tidur akan memperlambat motilitas (gerakan) usus besar.
  4. Faktor psikososial dan perilaku. Menunda/menahan BAB selama waktu puasa berkontribusi pada konstipasi. ”Kalau ingin BAB harus segera defekasi, jangan ditunda, karena akan membuat cairan di feses terserap kembali, membuat BAB jadi susah,” tegas dr. Putut.

Pencahar dan cukupi hidrasi

Perlu ditekankan, terapi utama sembelit adalah dengan mengonsumsi cukup cairan, serat, serta tetap melakukan aktivitas fisik.

Terkait pencegahan dehidrasi, dr. Putut menyarankan, tetap konsumsi cairan 8-10 gelas per hari (1,5-2 liter per hari), dengan pembagian: 2 gelas saat berbuka, 2 gelas di waktu malam dan 2 gelas di sahur. Atau 4 gelas waktu berbuka, 2 gelas di malam hari dan 2 gelas saat sahur.

Pada beberapa orang, konstipasi bisa sangat mengganggu sehingga membutuhkan bantuan obat pencahar (laksatif). Pada anak-anak misalnya, konstipasi bisa menimbulkan trauma karena sakit saat BAB.

Pemberian pencahar setelah berbuka atau di malam hari lebih disarankan agar efek maksimal obat terjadi selama tidur atau di pagi hari, meminimalkan risiko ketidaknyamanan pencernaan selama puasa.

”Multi-komponen oral laksatif (stimulan, osmotik, lubrikan), bisa dikombinasi untuk meningkatkan motilitas kolon, mengurangi friksi feses dan melembutkan feses. Penelitian di UGM mmbandingkan pasien dewasa antara Laxadine dan plasebo. Konsumsi Laxadine bisa meningkatkan perbaikan konsistensi feses sejak hari pertama hingga hari 4. Terbukti melunakkan feses. Frekuensi defekasi per hari juga membaik,” terang dr. Putut.  

Baca selanjutnya: Memilih Obat Pencahar Yang Aman