Penyakit Jantung Bawaan (PJK) pada anak adalah salah satu penyebab kesakitan, bahkan kematian, pada anak di dunia maupun Indonesia.
Data Asia Tenggara menunjukkan setiap 100 bayi lahir, ada 1 yang menderita PJB. Data yang ada menunjukkan sekurangnya 45 ribu bayi per tahun dengan PJB. Data Murni, dkk (2021) menyebutkan adanya keterlambatan deteksi Penyakit Jantung Bawaan di Indonesia sebesar 60,8%.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB, dengan banyak di antaranya berada dalam kondisi berat.
“Pemerintah terus memberikan perhatian serius terhadap isu ini, per 2025 misalnya, telah dilaksanakan pelaksanaan skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi dan menunjukkan banyak sekali yang belum tertangani dengan baik.”
“Ke depan, kita harus lebih agresif lagi dalam upaya penyelamatan nyawa mereka, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak sehingga bisa melakukan intervensi non bedah dan intervensi bedah jantung anak lebih banyak lagi,” katanya dalam pemberian rekor MURI untuk kategori Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) secara Serentak kepada Anak Terbanyak, di Jakarta (14/2/2026).
Pada kesempatan yang sama, dr. Oktavia Lilyasari, M. Kes, SpJP(K), FIHA, Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, menegaskan saat ini belum ada data nasional tentang angka prevalensi PJB di Indonesia.
“Program skrining PJB yang dilakukan secara serentak periode 24 Januari-14 Februari 2026 mencakup 22 kota dan 7 kabupaten dari 24 propinsi di Indonesia. Program ini tidak hanya berupaya menjaring kasus PJB lebih dini, mengkoordinasikan tindak lanjut rujukan pada anak-anak yang ditemukan PJB, tetapi juga mengumpulkan data awal registri PJB nasional,” jelasnya.
Telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.702 murid, dengan 2.478 murid di antaranya menjalani pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi. Program skrining PJB ini terutama ditujukan bagi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah luar biasa, serta pesantren.
Dilaksanakan antara lain kota Surakarta, kota Semarang, Kabupaten Bangka, kota Makassar, Kabupaten Minahasa Utara, kota Balikpapan, Kota Batam, Kabupaten Morowali, hingga Padang.
Data yang dikumpulkan dalam program ini mencakup data antropometri, tanda vital (tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen), pemeriksaan fisis jantung, serta pemeriksaan ultrasonografi jantung (ekokardiografi).
Dari hasil skrining tersebut, ditemukan 53 kasus penyakit jantung bawaan (PJB) dengan prevalensi sebesar 2,14%. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan prevalensi PJB di tingkat global maupun di kawasan Asia Tenggara.
dr. Oktavia menjelaskan, “Terdapat kecenderungan kasus PJB lebih banyak ditemukan di daerah dengan populasi anak-anak dengan berat badan rendah, stunting, anak-anak dengan faktor risiko, dan anak dengan kebutuhan khusus.”
“Anak-anak yang teridentifikasi memiliki PJB kemudian disertai edukasi kepada orang tua agar segera ditindaklanjuti dan dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.”
Data yang dihasilkan dari program skrining ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai permasalahan PJB di Indonesia dan menjadi salah satu acuan penting dalam perumusan program nasional untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. (jie)
Baca juga: Prosedur Tanpa Bedah Untuk Penyakit Jantung Bawaan





