Ini Pentingnya Memperbaiki Nutrisi Sebelum Kehamilan | OTC Digest

Ini Pentingnya Memperbaiki Nutrisi Sebelum Kehamilan

“Bayinya jangan lahir besar-besar, besarinnya nanti saja di luar”, saran ini masih kerap kita dengar. Betul, bayi yang lahir terlalu besar (>4.000 gr) akan menimbulkan risiko saat persalinan. Namun, bayi juga tidak boleh lahir kurang dari 2.500 gr. “Kalau bayi lahir kecil, kemungkinannya cuma dua: dia kurang bulan, atau tidak tumbuh,” ungkap Dr. dr. Ali Sungkar, Sp.OG(K).

bayi kurang bulan berarti lahir prematur. Apa dampaknya? “Organ-organ dan sistem tubuhnya belum berkembang sempurna. Dampaknya jangka pendek dan panjang,” terang Dr. dr. Sungkar, saat dijumpai dalam diskusi Bicara Gizi – Menghadapi Kehamilan Risiko Tinggi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bayi yang lahir premature maupun BBLR (berat badan lahir rendah) lebih berisiko mengalami gagal napas saat lahir, terkena infeksi di RS, dan harus dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Selain biayanya sangat mahal, tekanan oksigen pada NICU juga bisa memicu retina mata bayi lepas, sehingga bayi menjadi buta. Ini disebut retinopati prematuritas.

Seandainya bayi selamat dari berbagai risiko yang mengancam saat baru lahir, masih banyak lagi risiko yang mengintai. Seiring pertumbuhannya, bila nutrisinya tak dikejar, ia lebih berisiko mengalami stunting, sehingga menjadi orang dewasa yang pendek, dan kecerdasannya kurang. Lolos dari stunting, “Masih ada risiko penyakit kronis saat dewasa. Misalnya diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, karena organ-organnya belum berkembang sempurna saat lahir.”

Penelitian di negara-negara skandinavia menemukan, tingginya penyakit kronis di usia 40-50an ternyata berhubungan erat dengan kondisi ibu saat hamil. “Begitu dirunut ke belakang, mereka lahir saat perang dunia II. Ibu-ibu hamil hanya makan 1.500 kkal,” tutur Dr. dr. Ali. Masa kehamilan merupakan pondasi pertama dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

Kekurangan nutrisi saat hamil merupakan kehamilan yang berisiko. Selain untuk bayi, juga untuk si ibu; rentan mengalami gangguan saat kehamilan seperti preeklamsia, hingga perdarahan saat melahirkan. Anak yang lahir dari ibu yang kurang nutrisi, di usia dewasa berisiko mengalami penyakit kronis. Bila ia perempuan, maka ia pun akan menjalani kehamilan yang berisiko. “Untuk memutus lingkaran setan ini, nutrisi sejak sebelum hamil harus diperbaiki. Perempuan yang kurang nutrisi sebaiknya perbaiki dulu nutrisinya baru hamil,” tegas Dr. dr. Sungkar.

Harusnya, tidak ada lagi alasan “kecolongan”. Persiapkanlah kehamilan sebaik mungkin. Sebelum menikah, perbaiki dulu pola makan sehingga bila setelah menikah langsung hamil, status nutrisi sudah baik. “Jangan baru minum vitamin saat sudah hamil,” sesal Dr. dr. Ali.

Mengenaskan, Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menemukan, 48,9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia, dan 1 dari 5 ibu hamil kekurangan energi kronis. Kondisi ini seharusnya diperbaiki sejak pra konsepsi (sebelum kehamilan). Pola makan tetap kembali ke pedoman gizi seimbang, dengan jadwal makan teratur 3x sehari. Makronutrisi dan mikronutrisi harus terpenuhi. Boleh selipkan 2x snack di natara waktu makan. Tentu yang sehat dan bergizi ya. Gantilah cookies atau gorengan dengan buah, smoothies, atau segelas susu.

Makronutrisi yakni karbohidrat, protein, dan lemak. “Variasikanlah makanan. Sumber karbohidrat tidak harus nasi; bisa juga kentang, jagung, ubi. Untuk protein, jangan cuma fanatik dengan ayam. Ada ikan, telur, tempe, dan lain-lain,” papar Dr. dr. Ali.

Adapun mikronutrisi merupakan vitamin dan mineral, yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, tapi sangat penting. Di awal kehamilan, utamanya sangat dibutuhkan folat (vitamin B9) untuk perkembangan saraf janin, dan zat besi agar ibu terhindar dari anemia selama kehamilan. Folat banyak terdapat pada sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kacangan, telur, produk susu, hingga daging merah. (nid)

___________________________________________

Ilustrasi: Food photo created by valeria_aksakova - www.freepik.com