Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut manusia menghabiskan sekitar 90% waktunya di dalam ruangan. Baik di rumah, kantor, sekolah, maupun tempat publik lainnya. Ruangan tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi fondasi bagi lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Arsitektur sangat memengaruhi kesehatan kita, baik secara psikis maupun fisik. Mulai dari pemilihan warna hingga material yang aman,” ujar Arsitek dan Urban Designer di KIND Architects, Adjie Negara.
Ia melanjutkan, dalam satu hari, kita menghabiskan 30% waktu di tempat tidur, dan 30% lagi di kantor. Untuk itu, sangat penting untuk memilih material bangunan yang aman. “Material itu ada umurnya. Jangan sampai ketika terdegradasi, misalnya cat yang mengelupas, menjadi material yang toksik. Jadi bangunan itu bukan cuma soal estetika, tapi juga untuk kesehatan,” ujar Adjie, dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Forum NGOBRAS di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Pemahaman dan pengetahuan mengenai material bangunan terus berkembang. Asbes misalnya. Dulu sangat umum dipakai untuk atap rumah. Namun kini diketahui asbes bisa menyebabkan gangguan pernapasan hingga kanker paru. “Ini yang harus selalu kita perbarui. Semakin tinggi tingkat kesadaran kita terhadap kesehatan, makin banyak material yang tidak boleh digunakan,” imbuhnya.

Diskusi media bersama Ngobras di Jakarta / Foto: Ngobras
Waspadai Timbal
Memilih material yang aman untuk bahan bangunan, haruslah jadi prioritas saat kita membangun atau merenovasi rumah/kantor. Terlebih untuk anak-anak dan ibu hamil, yang sangat rentan mengalami gangguan kesehatan akibat material toksik dari lingkungan sekitar. “Saat memilih material bangunan, biasakan baca labelnya, seperti kita membaca label makanan. Jangan cuma lihat warnanya bagus, harganya murah. Lihat apa kandungannya, ucap Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc., Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia.
Ia melanjutkan, salah satu yang perlu diwaspadai yaitu timbal. Secara alami, timbal banyak terdapat di lingkungan kita. Selain itu, logam berat ini juga banyak dipakai di berbagai sektor industri karena sifatnya yang stabil, mudah dibentuk, dan tahan terhadap korosi.
Pada material bangunan, timbal kerap digunakan pada cat. “Timbal banyak digunakan pada cat generasi lama; sekitar 83% cat konvensional mengandung timbal dalam kadar yang tinggi. Fungsinya untuk memperkuat pigmen sehingga warna cat lebih cerah dan kuat, dan cat lebih cepat kering,” jelas Prof. Yuni.
Kini diketahui, timbal ternyata membawa dampak buruk bagi kesehatan. “Tubuh kita tidak memerlukan timbal, sehingga tubuh akan mengeluarkannya. Namun seiring waktu, timbal bisa terakumulasi di berbagai organ. Efeknya tidak instan, tapi dalam 10 – 20 tahun bisa timbul keracunan kronis dan muncul berbagai efek buruk bagi kesehatan,” ujarnya.
Timbal bisa masuk ke tubuh dengan cara tertelan, terhirup, atau masuk melalui pori-pori kulit. Pada cat, timbal dicampurkan dengan zat pelarut VOC (volatile organic compound). “Ketika terpapar cahaya matahari, ia mudah luruh dan menguap, lalu terhirup oleh kita,” jelas Prof. Yuni.
WHO telah menetapkan regulasi untuk batas maksimal timbal dari cat 90 ppm (parts per million). “Pada cat konvensional yang lama, kadarnya bisa mencapai 5.000 – 100.000 ppm. Jauh sekali di atas batas aman. Di Indonesia, kadar timbal dalam cat sudah mulai digalakkan. Kita mulai beralih dari cat konvensional ke cat yang bebas timbal atau mengandung kadar timbal rendah. Di negara maju, cat sudah tidak menggunakan timbal sama sekali,” papar Prof. Yuni. Kadar timbal yang rendah (<90 ppm) sesuai dengan regulasi terbaru WHO, dinilai relatif aman karena tidak signifikan ketika masuk ke tubuh.
Dampak Timbal bagi Kesehatan
Data BPN menunjukkan, satu dari tujuh anak Indonesia terpapar kadar timbal yang cukup tinggi. Tubuh kita sebenarnya memiliki mekanisme yang sangat kompleks dan cerdas untuk mengeliminasi zat-zat berbahaya yang masuk ke tubuh. “Kita memiliki organ sekresi, yaitu ginjal dan hati. Bila zat berbahaya yang masuk jumlahnya sedikit, dan gaya hidup kita baik, bisa dieliminasi oleh tubuh. Namun bila jumlah yang masuk terlalu banyak, apalagi dalam jangka waktu panjang, yang harusnya dikeluarkan jadi tidak bisa, dan akhirnya menumpuk di organ-organ tubuh,” papar dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K).
Timbal yang masuk akan diserap ke dalam aliran darah dan terdistribusi ke berbagai organ, termasuk tulang, ginjal, dan sistem saraf. “Pada anak, paparan timbal berdampak pada perkembangan otak, sehingga dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar yang lebih rendah, berkurangnya rentang perhatian, serta gangguan perilaku,” imbuhnya.
Pada orang dewasa, paparan timbal dikaitkan dengan penyakit ginjal dan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi dan penyakit jantung koroner. Sedangkan bagi ibu hamil, paparan timbal menjadi perhatian khusus karena dapat melintasi plasenta. “Hal ini bisa meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga berat badan lahir rendah,” terang dr. Reza. Ia menambahkan, tingginya kasus infertilitas, dan gagal ginjal kronis pada anak, bisa jadi berhubungan dengan paparan timbal.
Paparan timbal umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah besar, melainkan secara bertahap dalam kadar kecil tapi berulang dari berbagai sumber di lingkungan sekitar. Misalnya dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, atau material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik. “Karena sifatnya yang akumulatif, paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” imbuh dr. Reza.
Acuan WHO mengenai batas maksimal timbal 90 ppm, banyak diadopsi secara global sebagai standar. Indonesia sendiri telah memiliki regulasi untuk memastikan keamanan material bangunan. Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2014 beserta revisinya, termasuk SNI 8011:2022, mengatur cat dekoratif berbasis pelarut dan membatasi kandungan zat berbahaya, termasuk timbal. Namun, penerapannya masih bersifat sukarela, sehingga meski belum semua produsen cat mengadopsi standar tersebut.
Sebagai konsumen, kita harus lebih cermat memilih. “Rumah adalah investasi terbesar selama hidup. Memilih material untuk rumah harus lebih berhati-hati. Jangan sayang-sayang; pilih yang terbaik dan aman,” pungkas Adjie. (nid)
_____________________________________________
Ilustrasi: Image by dit26978 on Freepik





