Mata juling bukan masalah penampilan biasa, tetapi mengganggu fungsi penglihatan dan menurunkan kualitas hidup penderita.
Mata juling (strabismus) yang tidak ditangani berisiko menyebabkan mata malas (ambliopia) dan hilangnya persepsi kedalaman. Gangguan mental - depresi dan kegelisahan - meningkat hingga 10%. Berdampak langsung pada interaksi sosial (rawan perundungan), pendidikan dan karier.
Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi). Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung, sedangkan exotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah luar.
Pergeseran mata ke atas disebut hypertropia, sementara pergeseran ke bawah disebut hypotropia. Sebagian pasien juga dapat mengalami pola kombinasi atau perubahan arah yang lebih kompleks.
Selain berdasarkan arah deviasi, strabismus dapat dikenali berdasarkan pola kemunculannya, antara lain:
- Strabismus manifest atau nyata, yaitu ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan dapat muncul terus-menerus.
- Strabismus latent atau tersembunyi, yaitu kecenderungan mata bergeser yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
- Strabismus intermittent atau hilang-timbul, yaitu mata juling yang hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya ketika anak lelah, mengantuk, melamun, sakit, atau kehilangan fokus.
- Strabismus alternating atau bergantian, yaitu ketidaksejajaran yang dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.
Deteksi dini
Deteksi dini dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea di kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video.
Namun, temuan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh ke dokter mata untuk menilai posisi mata, ketajaman penglihatan, fungsi penglihatan binokular, dan risiko ambliopia.
“Masih ada anak dengan mata juling yang terlambat memperoleh pemeriksaan karena kondisi tersebut kerap dianggap hanya persoalan penampilan atau dapat ditunda. Padahal, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko terjadinya mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak, ujar dr. Julie Dewi Barliana, SpM, Subsp.P.O.S., Biomed, Ketua PERDAMI Jaya.
Waspadai mata juling sedari lahir
Dr. dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society),menjelaskan bahwa strabismus tersembunyi atau strabismus latent tidak selalu mudah dikenali. Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak fokus, lalu tampak bergeser saat lelah atau melalui foto dan rekaman video.
“Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia,” ujarnya kepada OTC Digest.
Orangtua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan, imbuhnya. Terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.
“Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa,” pesan dr. Lely.
Sebab mulitfaktor
Mata juling dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.
Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa.
“Penanganan yang tepat diharapkan tidak hanya membantu mengoptimalkan fungsi penglihatan, tetapi juga mendukung kualitas hidup anak melalui penampilan mata yang lebih baik sehingga anak dapat tumbuh dan beraktivitas dengan lebih percaya diri,” dr. Julie menegaskan.
Terapi
Penanganan mata juling dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi sesuai indikasi medis.
Terapi anak dengan juling terbagi menjadi beberapa tahapan:
- Bila ditemukan abliopia/mata malas harus diatasi terlebih dulu. Antara lain dengan menutup mata yang baik untuk memaksa anak menggunakan matanya yang malas (terapi oklusi atau patching).
- Bila tajam penglihatan pada mata yang menyimpang sudah normal, maka anak telah menggunakan kedua mata secara seimbang. Juling bisa terlihat bergantian pada kedua mata.
- Bila kondisi mata malas telah membaik, baru dilakukan operasi untuk mengembalikan kedudukan bola mata. Diharapkan peluang berkembangnya penglihatan binokular juga tercapai bila juling ditangani sejak dini.
- Pada kasus-kasus tertentu dapat dilakukan terapi latihan orthoptic dengan alat synoptophore. (jie)
Baca juga: Mata Juling pada Anak dan Dewasa: Gejala, Dampak, dan Kapan Perlu Operasi





