Gangguan kandung kemih dan dasar panggul merupakan masalah kesehatan yang cukup umum terjadi, namun sering kali tidak terdiagnosis dan tidak tertangani secara optimal.
Data menunjukkan bahwa 1 dari 8 perempuan mengalami gangguan kemih, mulai dari inkontinensia urin (anyang-anyangan atau mengompol), overactive bladder, prolaps organ panggul, hingga gangguan fungsi dasar panggul lainnya.
Perlu dicatat, gangguan berkemih seperti anyang-anyangan atau ngompol bukanlah hal yang normal. Kapan perlu khawatir? Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD, menjelaskan, normalnya untuk kandung kemih terisi penuh, seseorang akan buang air kecil (BAK) tiap 4-5 jam sekali.
“Ketika kandung kemih itu diisi, harusnya ia tetap tenang sampai penuh, kemudian setelah penuh ia akan mengirimkan sinyal ke otak untuk ke kamar kecil dengan tenang tanpa perlu terburu-buru. Tetapi kalau sudah terjadi gangguan, begitu muncul keluhannya, detik itu juga harus segera ke toilet. Kalau toiletnya ngantre terus tidak terburu, akhirnya keluar 1-2 tetes di celana, itu sudah menandakan ada sesuatu,” terang Prof. Harrina di sela peresmian Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic, Siloam Hospitals Asri, di Jakarta (29/6/2026).
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai
Prof. Harrina menjelaskan dari berbagai literatur disebutkan beberapa tanda yang perlu Anda perhatikan:
- Buang air kecil lebih dari 8 kali sehari (dari bangun tidur hingga tidur lagi), menandakan frekuensi yang lebih kerap dari normal.
- Bangun dari tidur malam beberapa kali (lebih dari 2 kali) untuk berkemih.
- Tidak mampu menahan kencing sehingga air seri keluar sebelum sampai toilet.
- Air seni keluar (beberapa tetes) saat mengangkat beban berat, batuk, atau tertawa.
Faktor risiko
Perlu dipahami gangguan berkemih bisa terjadi baik pada wanita atau pria, dengan rentang usia beragam, walau sebagian besar terjadi pada mereka yang lanjut usia.
Ada beberapa hal yang meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan berkemih, antara lain:
- Lanjut usia (lansia). Seiring bertambahnya usia, otot-otot kandung kemih dan uretra melemah, sehingga volume penyimpanan urine menurun.
- Penyakit penyerta, seperti diabetes, hipertensi atau penyakit jantung.
- Masalah hormon. Menopause pada perempuan memicu kondisi yang disebut Sindrom Genitourinari Menopause. Sementara pada pria adanya kondisi andropause atau pembesaran prostat.
- Kondisi medis seperti penurunan organ panggul, stroke dan cedera tulang belakang.
- Kehamilan. Tekanan di dalam perut - termasuk di kandung kemih - menjadi lebih besar seiring usia kehamilan, membuat ibu mengompol. Rahim yang membesar juga bisa menekan kandung kemih, membuatnya lebih sensitif.
Dr. Fina Widia, SpU(K), spesialis urologi konsultan Female Functional Urology dan Neurourology, menambahkan, tindakan medis (pembedahan), seperti pasca-operasi di daerah panggul atau pasca persalinan yang terhambat bisa menyebabkan pasien mengalami mengompol.
Mulai dari modifikasi gaya hidup
Faktor gaya hidup sangat berpengaruh pada kebiasaan BAK seseorang, misalnya kebiasaan mengonsumsi minuman/makanan berkafein seperti kopi, teh atau coklat. Kafein bersifat deuretik, alias merangsang buang air kecil.
“Sering banget ngopi, apa lagi sekali minum tuh ordernya yang venti (ukuran besar). Kemudian malam harus minum dulu sebelum tidur. Jelas saja akhirnya beser. Atau, tidak lagi minum kopi, air putih saja, tetapi kadang agar menghindari kena batu ginjal, kena infeksi saluran kemih, minum 3 sampai 4 liter,” Prof. Harrina menjelaskan.
Selain bersifat deuretik, dr. Fina menambahkan, kafein bisa mengiritasi kandung kemih. “Menyebabkan kandung kemih belum maksimal terisi, tetapi sudah merasa ingin pipis,” Katanya. “Untuk orang yang tidak bisa bila tidak ngopi, penting mencari keseimbangan antara ngopi dengan kesibukan bolak-balik ke toilet. Itu efek yang tidak bisa dihindari.”
Selain itu kebiasaan BAK juga mempengaruhi munculnya gangguan saluran kemih, “Misalnya dari kecil diajarkan untuk pipis dulu sebelum berangkat (saat mau melakukan perjalanan jauh), padahal tidak ada sensasi apa-apa, kandung kemihnya masih kosong. Itu kita harus retraining lagi bagimana mengenali kandung kemih yang penuh atau kosong,” imbuh Prof. Harrina.
Stres psikologis juga termasuk pemicu gangguan berkemih. “Kalau hormon stres keluar bisa meningkatkan sensitivitas kandung kemih. Misalnya saat stres mau ujian kerap muncul keluhan beser, tapi setelah semua stresornya hilang balik biasa lagi,” kata Prof. Harrina.
Terapi dimulai dari yang paling sederhana dulu. Kadang dengan melakukan perubahan gaya hidup tidak perlu sampai harus minum obat atau operasi. (jie)





