latihan beban untuk wanita kurangi risiko penyakit jantung
alasan wanita perlu latihan beban

Wanita Wajib Latihan Beban: Turunkan Risiko Penyakit Jantung Hingga 20%

Banyak wanita yang tidak mau latihan beban. Alasannya: “takut berotot”, membuat mereka tidak lagi feminim. Padahal, studi menunjukkan justru wanitalah yang paling membutuhkan latihan otot. 

Riset terbaru di jurnal JACC mengungkapkan wanita yang melakukan latihan beban minimal 2 jam per minggu punya 20% risiko lebih rendah untuk mengalami penyakit kardiovaskular, dibanding mereka yang tidak latihan. 

Peneliti menggunakan data dari dua riset perawat di Amerika Serikat untuk meneliti bagaimana latihan beban jangka panjang dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular mayor, terutama pada wanita.  

Studi ini melibatkan 117. 025 wanita dari dua kelompok perawat, dengan usia rata-rata di awal antara 48 - 66 tahun. Sekitar 4 tahun sekali, partisipan melaporkan program latihan beban tubuh bagian atas dan bawah mingguan mereka. 

Peneliti menghitung paparan latihan jangka panjang dan menetapkan rekomendasi ambang batas minimal 1 jam/minggu untuk latihan beban. 

Mereka juga menetapkan standar aktivitas sedentari rendah, yakni partisipan yang melakukan 15 jam atau lebih aktivitas fisik/aerobik per minggu dan duduk menonton TV kurang dari 2 jam per hari. 

Peneliti mengamati kejadian penyakit kardiovaskular mayor, yang didefinisikan sebagai serangan jantung nonfatal atau fatal, stroke, pencangkokan bypass arteri koroner atau pemasangan stent (ring) jantung.  

Selama periode pemantauan (14,5 tahun) tercatat total 5459 kejadian kardiovaskular. Wanita yang melakukan latihan beban minimal 2 jam per minggu berisiko 20% lebih kecil mengalami kejadian kardiovaskular mayor, dibanding yang tidak. Tiap tambahan jam latihan beban per minggu dikaitkan dengan risiko 5% lebih rendah. 

Secara khusus terlihat latihan beban minimal 2 jam per minggu dihubungkan dengan 44% penurunan risiko serangan jantung, dibanding yang tidak latihan. Tiap tambahan jam latihan menambahkan pengurangan risiko hingga 14%. 

Wanita yang memenuhi semua rekomendasi mengenai latihan beban, aktivitas aerobik, dan pola sedentari rendah memiliki risiko 40% lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular berat, dibanding individu yang tidak memenuhi satu pun rekomendasi tersebut.   

“Hasil ini menekankan pentingnya pendekatan pencegahan terpadu yang menggabungkan aktivitas fisik terstruktur dengan pengurangan waktu duduk untuk mengoptimalkan kesehatan jantung,” tulis para peneliti. 

“Kami telah lama mendorong latihan beban, dan penelitian ini memberikan bukti kuat untuk menegaskan pesan tersebut,” kata Harlan M. Krumholz, MD, profesor di Yale School of Medicine di New Haven, Connecticut (AS), dalam siaran persnya. 

Ia menekankan perlunya latihan beban untuk dimasukkan dalam rutinitas kesehatan menyeluruh untuk mendukung fungsi dan umur panjang. (jie)