Kanker paru masih menjadi salah satu kanker yang paling banyak menyebabkan kematian, baik di Indonesia maupun di dunia. Secara garis besar, kanker paru dibagi menjadi dua: NSCLC (Non-Small Cell Lung Cancer atau kanker paru bukan sel kecil), dan SCLC (Small Cell Lung Cancer atau kanker paru sel kecil). “Sebagian besar kanker paru termasuk NSCLC (85%), dan hanya sekitar 10% SCLC,” ujar Assoc. Prof. Gurmeet Singh, MD, DM, PhD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Pulmonologi dan Medik Kritis di MRCCC Siloam Semanggi.
Kanker paru jenis NSCLC bisa diangkat dengan cara operasi. Kini, telah berkembang modalitas-modalitas lain untuk terapi lokal kanker paru, salah satunya cryoablation (krioablasi). “Untuk menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang sesuai untuk cryoablation, tim dokter akan berdiskusi dengan mempertimbangkan kondisi kanker dan kondisi pasien berdasarkan berbagai hasil pemeriksaan,” terang Assoc. Prof. Gurmeet. Sejauh ini, telah dilakukan 7 - 8 tindakan cryoablation di MRCCC Siloam, dalam salah satu sesi workshop di Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta (22/5/2026).
Krioablasi menggunakan proses pembekuan untuk mematikan tumor. Tumor akan dipaparkan dengan suhu dingin ekstrem menggunakan cryo (argon), hingga terbentuk bola es (ice ball) yang menutupi tumor. “Kristalisasi yang terbentuk dari pembekuan dengan cryo akan menghancurkan membran sel, serta menginduksi iskemia dan nekrosis (kematian) jaringan kanker,” jelas dr. Rio Hermawan, Sp.Rad (K), Dokter Spesialis Radiologi di MRCCC Siloam Semanggi, dalam kesempatan yang sama.
Tak berhenti di situ, proses pematian kanker terus berjalan. “Terjadi berbagai respons imun yang memicu reaksi lebih lanjut dari imunologi. Proses pematian kanker dengan cryoablation akan terus berjalan hingga berbulan-bulan kemudian, bisa sampai 3 – 6 bulan,” imbuhnya.
Indikasi Krioablasi
Apakah cryoablation bisa menggantikan operasi terbuka? “Bukan menggantikan. Masing-masing ada indikasinya,” ujar dr. Rio. Untuk saat ini, operasi masih menjadi gold standard untuk kanker paru jenis NSCLC. “Namun, kadang usia pasien kanker paru sudah lanjut dan memiliki berbagai komorbid, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, atau diabetes, yang akan menyulitkan bila dilakukan operasi terbuka. Pada pasien dengan kondisi demikian, cryoablation bisa menjadi alternatif,” tuturnya.
Kondisi tumor juga menentukan apakah cryoablation bisa dilakukan. “Masing-masing prosedur ada indikasinya. Untuk cryoablation, indikasinya yaitu untuk tumor berukuran kecil di bawah 3 atau 4 cm, dan lokasi tumor di pinggir,” terang dr. Rio. Bukan berarti tumor yang lokasinya di tengah, dekat pembuluh darah, atau dekat jantung tidak bisa; “Hanya saja memerlukan teknik yang lebih advanced dan perencanaan detail,” imbuhnya.
Prosedur ini bisa dikerjakan pada kanker paru primer maupun kanker paru sekunder (metastasis/penyebaran dari kanker di tempat lain). “Misalnya kanker payudara atau kanker ovarium yang sudah menyebar ke paru. Dengan catatan, jumlah penyebarannya masih sedikit (oligometastasis), yaitu kurang dari tiga atau lima titik,” tandas dr. Rio.
Krioablasi masih mungkin dilakukan pada tumor dengan ukuran lebih besar. Pada kasus seperti ini, bisa digunakan lebih dari satu cryoprobe, dengan jarak antara probe minimal 10 – 20 mm. “Maksimal kita bisa menggunakan enam cryoprobe dalam sekali tindakan, sesuai dengan kemampuan alat,” terang Dr. Daksh Chandra, Senior Consultant, Dept. of Interventional Radiology di MAX Nanavati Hospital, Mumbai, yang juga hadir di sesi workshop.
Prosedur Krioablasi
Krioablasi dilakukan dengan panduan CT scan untuk melihat posisi tumor dengan presisi. Selanjutnya, dimasukkan jarum khusus yang disebut cryoprobe, ke dalam lesi kanker. Setelah itu, dialirkan gas argon yang sangat dingin, hingga terbentuk bola es di dalam lesi kanker. “Selama tindakan, dilakukan monitoring dengan CT tiap 3 – 5 menit untuk melihat pembentukan bola es, lalu dilakukan pemeriksaan CT pasca prosedur untuk memonitor komplikasi,” jelas Dr. Daksh.
Menariknya, cryoprobe tidak harus selalu dimasukkan langsung ke lesi kanker. Bisa pula diposisikan di sekitar lesi kanker (teknik bracketing). “Jadi kita menggunakan dua cryoprobe dan ditempatkan di sisi-sisi tumor, untuk menghancurkannya dari dua sisi. Pemilihan untuk menggunakan teknik bracketing atau memasukkan cryoprobe ke dalam lesi, tergantung dari preferensi dokter yang mengerjakan, dan seberapa besar ukuran lesi kanker,” jelasnya.
Prosedur ini bisa dikerjakan melalui dua mekanisme: bronkoskopi dan perkutan. Pada bronkoskopi, cryoprobe dimasukkan melalui saluran napas (bronkus) dari mulut dengan alat bronkoskop, sedangkan pada perkutan, cryoprobe dimasukkan langsung melalui sayatan pada kulit. Bronkoskopi dikerjakan pada tumor yang letaknya dekat saluran napas. Bila letak tumor di pinggir, perkutan adalah opsi yang lebih baik.
Berbeda dengan operasi terbuka, krioablasi merupakan prosedur invasif minimal. Artinya, hanya memerlukan sayatan kecil untuk memasukkan jarum cryoprobe. Nyeri yang ditimbulkan lebih sedikit, pemulihan lebih cepat, sehingga lebih nyaman bagi pasien.
“Satu jam pascaoperasi, kembali dilakukan pemeriksaan dengan sinar X. Selanjutnya, pasien akan dirawat di ruang intensif selama beberapa saat atau kembali ke ruang perawatan, tergantung kondisinya,” tambah Dr. Daksh. Sehari setelah tindakan krioablasi, pasien diperbolehkan pulang.
Siloam Oncology Summit merupakan wadah pertukaran ilmiah, yang juga mempertegas komitmen MRCCC Siloam Semanggi dalam mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional melalui penguatan kapabilitas tenaga kesehatan, pengembangan riset dan evidence klinis, serta kolaborasi multidisiplin lintas sektor. “MRCCC Siloam Semanggi percaya bahwa pengembangan layanan kanker yang berkualitas membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, dan sinergi berbagai disiplin ilmu agar penanganan kanker di Indonesia dapat terus berkembang. Perkembangan terapi kanker modern tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga pada kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping,” pungkas Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS. (nid)





