Kawasan ASEAN merupakan salah satu pusat penularan dengue di dunia. Berdasarkan data dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), tampak bahwa hampir 400.000 kasus dengue dilaporkan di Asia Tenggara sejak awal 2025 hingga Oktober–November 2025. Vietnam berada di posisi puncak jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura.
Makin mudahnya akses transportasi antar negara serta kesamaan kondisi ekologis yang mirip, meningkatkan penularan lintas negara di ASEAN. Ditambah lagi konektivitas perkotaan yang makin baik, serta perubahan iklim dan cuaca. Hal ini menegaskan bahwa dengue tetap merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang terjadi sepanjang tahun dan memerlukan kewaspadaan berkelanjutan serta penguatan upaya pengendalian secara konsisten dan terkoordinasi.
Itu sebabnya, penting untuk menyusun respons regional yang terkoordinasi. “Nyamuk tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya,” ungkap Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D dalam pembukaan Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan Negara-negara ASEAN/Asia Tenggara di Jakarta (10/2/2026).
Prof. Asnawi melanjutkan, meski perubahan cuaca sulit dikendalikan, perlindungan masyarakat bisa tetap maksimal melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia dan pemberian vaksin. “Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi,” ujarnya.
Kondisi Dengue dan Upaya Penanggulangannya di Indonesia
Indonesia mencerminkan kompleksitas tantangan dengue di kawasan Asia Tenggara. Pada 2024, tercatat 257.271 kasus dengue dengan lebih dari 1.400 kematian. Data Kementerian Kesehatan RI juga mencatat bahwa Indonesia menyumbang sekitar 66 persen dari total kematian akibat dengue di Asia dan menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan. Hingga Desember 2025, jumlah kasus masih tercatat 161.752 dengan 673 kematian.
Bagaimanapun juga, patut diapresiasi bahwa kasus dengue sebenarnya mengalami penurunan sepanjang 2025. Yaitu dari 92/100.000 penduduk pada 2024, menjadi 57/100.000 penduduk di 2025. "Penurunan angka kasus dengue bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim,” ujar Prof. Asnawi. Menurutnya, penggunaan teknologi Wolbachia dan vaksinasi menjadi kunci utama dalam melindungi masyarakat di tengah cuaca yang tidak menentu.
Tentu, pengendalian dengue tak bisa dilakukan sendirian. "Pengendalian dengue harus bertumpu pada pencegahan dini sebagai fondasi utama, dimulai dari tingkat rumah tangga, diperkuat di komunitas, dan didukung kolaborasi lintas sektor yang konsisten,” tutur Ketua Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR) dr. H. Suir Syam, MKes, MMR.
Ia melanjutkan, sebagai wadah independen yang diisi para ahli lintas bidang, KOBAR berperan sebagai platform strategis yang menjembatani kebijakan, praktik di lapangan, dan peningkatan kesadaran publik. “Kami mendorong agar berbagai upaya pencegahan berjalan secara terintegrasi dan benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat. Dengan komitmen bersama dan langkah yang terkoordinasi, kita tidak hanya merespons kasus, tetapi bergerak menuju perlindungan yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia," ujar Suir Syam.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan sedang memperbarui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 sebagai langkah strategis menuju pencapaian Zero Dengue Deaths pada 2030. Pembaruan ini menitikberatkan pada empat strategi utama, yakni penguatan deteksi dan diagnosis dini kasus, peningkatan tata laksana klinis dan sistem rujukan, penguatan upaya pencegahan melalui pengendalian vektor, inovasi seperti Wolbachia dan vaksinasi, serta komunikasi risiko, serta penguatan sistem informasi melalui surveilans terintegrasi dan peringatan dini kejadian luar biasa. Keempat strategi tersebut didukung oleh tata kelola dan pendanaan yang kuat, kemitraan lintas sektor, serta riset dan inovasi berkelanjutan.
Kolaborasi Antarnegara ASEAN
Sejalan dengan pembaruan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029, Indonesia juga mendorong penguatan strategi regional penanggulangan dengue menuju Zero Deaths 2030 melalui kerja sama lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Strategi regional ini menitikberatkan pada penguatan kerangka kebijakan dan regulasi di tingkat kawasan, peningkatan kerja sama regional sepanjang siklus wabah, serta penguatan kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kapasitas antarnegara.
Upaya tersebut didukung dengan pengembangan agenda riset regional untuk mendorong inovasi pengendalian dengue dan arbovirus, penguatan sistem surveilans terintegrasi di Asia Tenggara, serta alokasi anggaran yang strategis dan berkelanjutan, guna memastikan respons regional yang lebih terkoordinasi, efektif, dan berkelanjutan dalam melindungi masyarakat ASEAN dari ancaman dengue.
Dr. Montien Kanasawat, Director-General of the Department of Disease Control (DDC), Thailand, menyoroti pentingnya pendekatan sistem kesehatan yang berfokus pada masyarakat dalam menghadapi dengue sebagai salah satu ancaman kesehatan utama di Asia Tenggara. “Thailand menerapkan pendekatan sistem kesehatan yang berorientasi pada masyarakat, di mana dengue tetap menjadi salah satu ancaman yang kami hadapi secara berkelanjutan.
Ia juga menilai, Forum Regional ini merupakan peluang strategis untuk memperkuat upaya perlindungan kesehatan masyarakat melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi lintas negara. “Kami menyambut baik dan antusias berpartisipasi dalam Forum Regional yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama KOBAR ini, sebagai kesempatan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat upaya pencegahan dengue demi melindungi kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Forum ini menegaskan kembali bahwa pencapaian Zero Dengue Deaths by 2030 hanya dapat diwujudkan melalui kepemimpinan kolaboratif, inovasi berbasis sains, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Melalui forum regional ini, Indonesia bersama negara-negara ASEAN dan mitra global menegaskan komitmen untuk bergerak dari pendekatan reaktif menuju strategi yang lebih prediktif, preventif, dan terkoordinasi, demi melindungi masyarakat kawasan dari ancaman dengue yang terus berkembang.
Forum regional ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dan panelis yang terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota ASEAN. Forum Regional ini didukung oleh Takeda dan World Mosquito Program (WMP) sebagai mitra penyelenggara. (nid)





