Hampir dua dari lima kasus kanker di dunia sebenarnya bisa dicegah, menurut laporan tahun 2022. Mereka berhubungan dengan faktor risiko yang bisa dimodifikasi, seperti merokok, infeksi, hingga konsumsi alkohol.
Peneliti dari International Agency for Research on Cancer, organisasi di bawah WHO, menganalisa sekitar 18,7 juta kasus kanker selama tahun 2022, di 185 negara, menggunakan data GLOBOCAN, mencakup 36 jenis kanker.
Kanker paru memiliki persentase kasus tertinggi yang disebabkan oleh faktor risiko yang paling bisa dimodifikasi - 1,8 juta dari 2,5 juta kasus – diikuti oleh kanker serviks dan lambung.
Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine disebutkan bahwa Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi, kurang aktivitas fisik, pemberian ASI yang tidak optimal atau polusi udara menjadi beberapa faktor risiko yang sejatinya bisa dimodifikasi.
Peneliti juga menemukan sebagian besar kasus kanker pada pria berhubungan dengan faktor risiko tersebut (45,4% dari semua kasus kanker baru), dibandingkan pada perempuan (hampir 30%).
“Lebih dari sepertiga (37,8%), atau 7,1 juta dari 18,7 juta kasus kanker global disebabkan oleh 30 faktor risiko yang bisa dimodifikasi, ini menggarisbawahi pentingnya pencegahan dalam mengurangi beban kanker global,” tulis peneliti, melansir The Economics Times.
“Merokok adalah faktor risiko paling besar, untuk 15,1% (3,3 juta) kasus kanker baru, diikuti oleh infeksi (10,2% atau 2,3 juta kasus) dan konsumsi alkohol (3,2% atau 700 ribu kasus),” urai mereka.
Infeksi, seperti yang disebabkan oleh HPV (human papillomavirus) atau helicobacter pylori yang menyebabkan infeksi lambung, menyumbang faktor risiko kanker terbesar pada perempuan, dihubungkan dengan sekitar 11,5% kasus.
IMT tinggi dan kurang aktivitas fisik menyebabkan kanker tertentu pada wanita, seperti kanker payudara dan corpus uteri (badan rahim).
Peneliti menambahkan peningkatan prevalensi IMT tinggi, kurang aktivitas fisik dan kemudahan mendapatkan/mengonsumsi makanan tidak sehat – terutama di negara miskin dan menengah – berpotensi meningkatkan beban kanker di masa depan.
“Untuk pria, mayoritas kasus kanker berhubungan dengan perilaku berisiko. Merokok tetap menjadi penyumbang terbesar beban kanker, menyebabkan tidak hanya 60% kasus kanker paru baru, tetapi juga 15 jenis kanker lain,” tulis peneliti.
Mereka menekankan, ”Adanya kejadian infeksi yang terus berlanjut di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan semakin menekankan pentingnya pengendalian infeksi dalam pengendalian kanker jangka panjang.”
Temuan tersebut juga menggarisbawahi pentingnya pencegahan kanker, termasuk mengontrol rokok, pencegahan infeksi dan strategi nasional yang disesuaikan untuk tiap daerah. (jie)





