Deteksi dan Pengobatan Kanker Prostat | OTC Digest
kanker_pristat_deteksi_diagnosis

Deteksi dan Pengobatan Kanker Prostat

Kita semua berduka atas kepergian aktor legendaris Rudy Wowor, yang dikabarkan meninggal dunia karena kanker prostat. Dibandingkan ras Kaukasia, ras Asia memang tidak terlalu rentan terhadap kanker prostat. Prostat adalah organ seukuran buah duku yang terletak di bawah kandung kemih laki-laki. Fungsinya yakni menampung sperma dan menghasilkan air mani (semen) untuk menutrisi dan memberi volum pada sperma.

Kewaspadaan mengenai kanker prostat di Indonesia terbilang masih relatif rendah. Penelitian di tiga kota (Jakarta, Bandung, Yogyakarta) pada 2012 menunjukkan, hanya 2,9% pasien kanker prostat yang datang pada stasium I. Sebanyak 58,8% baru datang pada stadium 4.

Kanker prostat sulit dikenali pada stadium awal karena sering kali tidak bergejala. Untuk itu, laki-laki usia 50 tahun ke atas sangat disarankan melakukan deteksi dini kanker prostat. Cara yang paling sederhana yakni dengan pemeriksaan colok dubur. “Ini tidak perlu ke spesialis. Bisa ke dokter keluarga, atau dokter umum di klinik atau Puskesmas,” ujar Dr. dr. Aru. Bila ada riwayat kanker dalam keluarga, sebaiknya melakukan deteksi dini sejak usia 40 tahun ke atas.

Baca juga: Cara Prof. Stephanus Mengatasi Masalah Kanker Prostat

Pemeriksaan colok dubur harus ditunjang dengan pemeriksaan lain penilaian kadar PSA (prostate-specific antigen). Namun PSA tidak spesifik menunjukkan adanya kanker prostat. Kadar PSA juga bisa meningkat karena radang, infeksi, pembesaran prostat jinak, atau pemasangan kateter. Karenanya, PSA harus selalu dikombinasi dengan pemeriksaan colok dubur dan USG. Bisa pula dilakukan tambahan pemeriksaan dengan USG melalui anus (trans rectal) untuk mendeteksi kanker prostat.

Jika pemeriksaan-pemeriksaan tersebut menunjukkan kecurigaan kanker, maka diperlukan biopsi untuk menegakkan diagnosis.  “Bila melalui biopsi tidak ditemukan keanehan tapi PSA terus tinggi, biopsi diulang dalam 3-6 bulan,” ujar Prof. Dr. dr. Rainy Umbas, Ph.D, Sp.U.

Bagaimana bila hasil biopsi menunjukkan positif kanker? “Kita harus melihat, sejauh mana kanker sudah menyebar. Karena umumnya penyebaran terjadi ke tulang, kita buat foto X-ray dengan penanda khusus, sehingga penyebaran bisa terlihat jelas,” tutur Prof. Rainy.

 

Pengobatan

Ada 3 tujuan pengobatan kanker: mengontrol kanker, mempertahankan kemampuan pasien untuk berkemih, dan mempertahankan fungsi seksual. Salah satu fungsi prostat yakni sebagai pengatur/klep saluran kencing. “Bila harus diangkat (dioperasi), tidak boleh merusak klep pada kandung kemih,” ujar Prof. Rainy.

Pengobatan disesuaikan dengan kondisi penyakit, faktor pasien (usia, penyakit lain), ketersediaan fasilitas di rumah sakit, dan pendapat pasien. Kanker stadium rendah masih bisa dioperasi. Namun, pasien yang berusia lanjut tidak bisa dioperasi karena risikonya tinggi. Pilihan lain misalnya radiasi, atau brachytherapy, yakni dipasang jarum-jarum yang mengandung radioterapi.

Baca juga: Mengecilkan Pembesaran Prostat Tanpa Operasi

Pilihan lain misalnya pengobatan hormonal. “Bukan untuk menambah hormon, melainkan menekan hormon testoteronnya. Hormon ini dianggap sebagai ‘bahan bakar’ sel kanker, jadi kita turunkan,” papar Prof. Rainy. Terapi dilakukan secara intermiten: dilakukan selama 6-9 bulan, lalu berhenti selama +1 tahun agar hormon kembali naik.

Selama pemberian obat ini, libido akan turun. Karenanya obat dihentikan sementara hingga keluhan akibat penurunan  libido hilang. “Bila kanker menunjukkan gejala pemburukan, obat kembali diberikan,” imbuh Prof. Rainy.

Baca juga: Kabar Gembira! Masturbasi Sebenarnya Menyehatkan

Adapun kemoterapi bisa digunakan bila kanker sudah menampakkan gejala, ada metastasis, dan kanker resisten (tidak mempan) terhadap obat penekan hormon. Sebelum tahun 2004, tidak ada obat kemoterapi yang efektif melawan kanker prostat. “Pengobatan kemoterapi dengan taxane yakni docetaxel, menurut penelitian, menunjukkan hasil yang baik, menurunkan risiko kematian hingga 24%,” ujar Dr. dr. Aru. Bisa terjadi resisten taxane. Obat terbaru cabazitaxel bisa digunakan sebagai terapi lini kedua, saat pasien resisten terhadap taxane. Lini pertama masih menggunakan docetaxel.

Sejak 2010, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menyetujui sipuleucel untuk kanker prostat. Ini merupakan obat imunoterapi pertama untuk kanker yang disetujui FDA.

 

Penambah hormon tidak tingkatkan risiko kanker prostat

Testosteron memang merupakan bahan bakar bagi kanker prostat, sehingga kadarnya perlu diturunkan pada pasien kanker prostat. “Namun kalau kankernya belum ada, tidak ada risiko,” terang Prof. Rainy.

Laki-laki dengan gangguan gangguan fungsi seksual atau penderita diabetes mellitus yang sulit terkontrol dengan pengobatan biasa, akan mendapat manfaat dari obat penambah hormon. “Selama tidak menderita kanker prostat, obat tidak meningkatkan risiko,” tegasnya.

Penderita kanker prostat stadium awal yang sudah menjalani pengobatan (operasi/radiasi) dan dinyatakan sembuh pun, bisa mendapat obat penambah hormon bila memang diperlukan. Namun bila tidak ada indikasi medis atau sudah ada kanker prostat, tentu tidak logis mengonsumsi obat penambah hormon. (nid)

_________________________________

Ilustrasi: Designed by Freepik