Bercermin dari Wabah Campak di Asmat, Ini Pentingnya Perlindungan Vaksin | OTC Digest
campak_vaksin_MR

Bercermin dari Wabah Campak di Asmat, Ini Pentingnya Perlindungan Vaksin

Belum selesai KLB difteri, kita dikejutkan lagi dengan wabah campak di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Sejak September 2017 hingga 11 Januari 2018, ratusan pasien campak dirawat RSUD Asmat , baik rawat jalan (393 orang) dan rawat inap (175 orang). Gizi buruk serta minimnya fasilitas dan layanan kesehatan di daerah tersebut memperburuk kondisi anak-anak yang terjangkit campak, hingga 61 anak tak tertolong.

Campak sesungguhnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Sayangnya, anak-anak di Kabupaten Asmat sulit mendapat layanan vaksinasi. Sepanjang 2017, cakupan vaksinasi campak di sana hanya 17,3%, bahkan booster hanya 8,2%. Padahal, pada 2014 cakupannya mencapai 110%. Lalu turun jadi 48,8% pada 2015, dan 62,6% pada 2016. Diduga, merosotnya cakupan vaksinasi campak disebabkan lantaran banyaknya petugas medis yang meninggalkan tempat tugas.  Sungguh miris. Memang lokasi kabupaten Asmat begitu terpencil, sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan. Hanya ada 13 Puskesmas (dengan hanya tujuh dokter) di kabupaten yang terdiri dari 23 distrik (kecamatan) tersebut. Jauh dari ideal satu Puskesmas per kecamatan.

Vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan. “Waktu pemberian imunisasi itu tergantung dari kapan si anak rentan. Antibodi campak ibu disalurkan lewat plasenta, dan ada di ASI sampai usia 9 bulan. Setelah itu habis, makanya kita imunisasi,” tutur Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia. Tentu, ini bila ibu memiliki antibodi campak. Bila tidak, maka bayi rentan tertular sejak awal.

Tahun lalu, gencar dikampanyekan vaksinasi MR, mengawali dimulainya program vaksinasi MR fase pertama yang dilaksanakan di pulau Jawa pada Agustus – September 2017. Tahun ini akan dilaksanakan fase kedua di seluruh Indonesia. Vaksin MR adalah kombinasi dua vaksin sekaligus yakni campak/measles (M) dan rubella (R), dalam sekali suntik.

Ada juga vaksin MMR, yang terdiri dari measles, mumps (gondongan) dan rubella. Vaksin MMR diberikan di usia 12 bulan, lalu diulang pada usia 5 tahun. Namun, vaksin ini tidak masuk program. Untuk saat ini, yang diprioritaskan masih MR karena dampaknya berat; untuk vaksin MMR bisa dilakukan di RS, klinik vaksin atau tempat praktik dokter anak dengan biaya sendiri.

(Baca juga: Vaksin MMR Tidak Sebabkan Autisme)

Rencananya, vaksin MR akan digunakan dalam program vaksinasi rutin untuk menggantikan vaksin campak. Untuk diketahui, vaksinasi campak (yang akan digantikan dengan MR) dilakukan saat bayi berusia 9 bulan, lalu diulang atau diperkuat dengan booster di usia 18 bulan dan di kelas 1 SD/sederajat.

Cakupan vaksinasi MR fase pertama cukup memuaskan, dengan rerata >90%. Bila cakupan vaksinasi MR terus tinggi seperti ini di semua kecamatan se-Indonesia, ktia bisa optimis bahwa kejadian campak dan rubella akan makin turun dan target eliminasi campak 2020 tercapai.

Namun sangat disayangkan, sebelum fase dua dilaksanakan pada Agustus – September 2018, wabah campak melanda Asmat. Sesungguhnya, kasus campak sempat mencuat dalam beberapa tahun belakangan. Kementrian Kesehatan mencatat 12.943 kasus pada 2014, lalu turun menjadi 8.185 kasus pada 2016.

(Baca juga: Berkenalan dengan Campak dan Rubella)

Apa dampaknya bila anak tidak divaksinasi? “Mereka tidak punya kekebalan terhadap mikroorganisme pathogen. Bila terserang, anak bisa meninggal atau menderita cacat berat,” tegas Prof. Sri. Selain itu, anak yang tidak divaksin juga bisa menjadi sumber penularan, dan menghambat terjadinya eradikasi suatu penyakit.

Kita sungguh berharap, wabah campak bisa segera diatasi sehingga tidak ada lagi anak di Asmat atau di mana pun yang meninggal akibat penyakit tersebut. Kita yang tinggal di perkotaan sungguh beruntung bisa mengakses vaksin dengan begitu mudah, tidak seperti saudara kita yang tinggal di pedalaman. Akankah kita sia-siakan kesempatan untuk melindungi anak-anak kita dari penyakit berbahaya? (nid)