Selama ini kita berpikir mulut harus bebas dari bakteri karena mereka adalah penyebab sakit gigi, radang gusi atau bau mulut. Padahal mulut juga perlu bakteri untuk membuatnya tetap sehat.
Selain persepsi tersebut, perubahan gaya hidup modern membuat masyarakat semakin rentan mengalami masalah gigi dan mulut. Masih banyak yang menilai kesehatan rongga mulut hanya berdasarkan tanda-tanda yang terlihat, seperti gigi tampak bersih, napas lebih segar, atau sensasi bersih setelah sikat gigi.
Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Para ahli menilai indikator tersebut belum mencerminkan kesehatan rongga mulut secara menyeluruh.
Dr. Praveen Sharma, PhD, BDS, MFDS (RCS Edin), FHEA, FDS (Restorative Dentistry) dari University of Birmingham, menyampaikan, “Selama ini masyarakat sering menganggap semua bakteri dalam rongga mulut harus dihilangkan, padahal rongga mulut yang merupakan komunitas mikroba terbesar kedua (setelah pencernaan) dalam tubuh manusia memiliki ekosistem kompleks yang dihuni oleh lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut mikrobioma mulut.”
Layaknya di usus, mikrobioma mulut terdiri dari bakteri baik (probiotik) maupun bakteri yang berpotensi merugikan (patogen). Ketika keseimbangannya terganggu (disbiosis), “Maka bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai masalah, seperti pembentukan plak, gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut,” ujar dr. Sharma, dalam Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi (KPPIKG) 2026, di Jakarta (18/8/2026).
Keseimbangan mikrobioma mulut menentukan kesehatan rongga mulut. Bakteri baik membantu melindungi permukaan gigi, mendukung kesehatan jaringan gusi, dan berkontribusi pada mekanisme pertahanan alami mulut.
Pada kondisi disbiosis —seringkali karena kebersihan mulut yang buruk, faktor diet, atau kondisi kesehatan lainnya—bakteri berbahaya dapat berkembang biak dan berpotensi menyebabkan masalah seperti kerusakan gigi, radang gusi, atau bau mulut yang terus-menerus.
Secara umum komposisi bakteri dalam mikrobioma mulut berbeda pada tiap individu, dipengaruhi faktor genetik, pola makan, merokok, gaya hidup, hingga lingkungan. Namun, perawatan gigi dan modern bukanlah tentang menghilangkan bakteri sepenuhnya, dr. Sharma menjelaskan.
“Melainkan menjaga kesehatan mikrobioma mulut agar bakteri baik dapat mendukung kesehatan gigi dan mulut. Apalagi Kesehatan gigi dan mulut berkaitan erat dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, sehingga menjaga kesehatan mikrobioma mulut juga menjadi bagian penting untuk melindungi kesehatan jangka panjang,” tegasnya.
Berbagai studi menunjukkan mikrobioma oral tidak hanya penting untuk kesehatan mulut, tetapi juga terkait dengan banyak penyakit sistemik seperti diabetes, reumatoid artritis, penyakit kardiovaskular dan alzheimer.
Saat ini di pasar beredar pasta gigi dengan teknologi mikrobioma aktif, atau probiotik oral untuk kesehatan rongga mulut.
Bagaimana probiotik membantu kesehatan mulut?
Bakteri probiotik mendukung kesehatan mulut melalui beberapa mekanisme. Ia akan bersaing dengan bakteri berbahaya untuk mendapatkan nutrisi dan tempat menempelnya permukaan gigi dan gusi, sehingga membatasi pertumbuhan spesies bermasalah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa strain probiotik tertentu - seperti Lactobacillus paracasei dan Lactobacillus reuteri menghasilkan zat yang menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri berbahaya.
Selain itu, probiotik dapat mendukung respons imun pada jaringan gusi, sehingga berpotensi membantu menjaga respons peradangan yang sehat.
Makanan untuk mikrobioma mulut
Apa yang Anda makan berpengaruh pada ekosistem mikrobioma mulut. Pola makan yang kaya nutrisi membantu memperkuat enamel gigi, mengurangi peradangan, merangsang produksi air liur, dan melawan bakteri berbahaya di mulut. Beberapa di antaranya yaitu:
- Susu dan produk turunannya seperti keju atau yogurt. Selain sumber kalsium yang baik untuk kekuatan gigi, keju sangat bermanfaat membantu meningkatkan produksi air liur, yang secara alami menetralkan asam di mulut. Yogurt menambahkan lapisan dukungan lain melalui kandungan probiotiknya.
- Sayuran hijau seperti kale, bayam, atau sawi tinggi serat, sehingga bersifat juga sebagai prebiotik, atau makanan bagi bakteri probiotik.
- Buah/sayur yang renyah, seperti apel, wortel, seledri dan mentimun bertidak sebagai sikat gigi alami. Teksturnya yang renyah dan berserat merangsang gusi dan membantu menghilangkan sisa makanan dan plak dari permukaan gigi. Mereka juga mendorong produksi air liur, yang berperan penting dalam menjaga tingkat pH yang sehat di mulut dan melindungi enamel dari erosi asam.
- Teh hitam/hijau. Minuman ini kaya akan polifenol—senyawa nabati yang dikenal dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang terkait dengan karies dan penyakit periodontal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh ini secara teratur dapat membantu mengurangi pembentukan plak dan produk sampingan bakteri. (jie)





